Mbah Surip
Mbah Surip

SAYA bukan pengagum atau penggila mbah Surip, tapi saya  tiba-tiba ingin menuliskan sedikit mengenai demam penyanyi berambut gimbal ini. Jika ada yang belum tahu, mbah Surip itu penyanyi yang lagunya sedang banyak direquest di radio dan tv. Dengan modal satu lagu sederhana “Tak Gendong”, mbah Surip secepat kilat mengorbit. Ia mengangkasa  melampaui capaian artis yang bertahun-tahun mengeluarkan album namun tak satupun lagunya jadi hits.

Saya tak menyangka mbah Surip yang saat reformasi bergulir kerap terlihat diantara demonstran jalanan, kini menjelma menjadi seleb dadakan. Dulu wartawan yang menjumpainya kerap mencapnya sebagai orang stress, karena berpenampilan ala penyanyi reggae, berambut gimbal, berbaju colourful, dan selalu cengar-cengir.Tak ada yang berubah dari ciri khas mbah Surip setelah ‘nyeleb’. Ia tetap ’slengean’, sak enak’e, ceria dengan ketawa khasnya yang diimbuhi “HA-HA-HA…HA-HA-HA”. Ciri lainnya, ia selalu berujar I love you full, sebagai ungkapan sayangnya pada semua orang, sebagai ungkapannya pada perdamaian. Mungkin pernyataan ini bisa dimaknai sebagai pesan anti kekerasan dari mbah Surip.

Mbah Surip adalah anomali dalam dunia musik Indonesia. Ia bukan keluaran kontes nyanyi ‘idol-idolan’. Ia adalah penyanyi jalanan. Usianya tak lagi muda saat lagunya melambung. Ia mampu menerobos batasan usia, yang dipatok produser rekaman yang belakangan lebih suka penyanyi muda usia, ganteng/ cantik, dengan musik standar band yang lagi memuncak.

Mbah Surip membalikkan semua anggapan bahwa penyanyi yang masuk industri itu harus muda, ganteng dengan lagu yang sudah dipatok industri rekaman. Ia berpenampilan apa adanya, cenderung seenaknya. Baginya menyanyi itu haruslah menghibur, setidaknya menghibur bagi dirinya sendiri.

Ia tak pernah mempersoalkan apa genre musiknya. Meski banyak yang bilang reggae, ia malah tak tahu apa itu musik reggae. Bagi mbah Surip menyanyi is fun. Ia tak pusing dengan jenis musik, genrenya, apalagi sebutan sebagai penyanyi kampungan. Baginya, selama musiknya bisa membahagiakan, berarti orang bisa menerima karyanya.

Apa yang sedang terjadi dengan mbah Surip mungkin bisa sejajar dengan capaian Kuburan Band asal Bandung. Band yang dengan lagunya “Lupa-lupa Ingat” pernah merajai radio dan tv sebelum mbah Surip mencuat. Band ini membalikkan anggapan bahwa menyanyi itu harus hapal syair lagu. Mereka bahkan lupa syair yang mereka nyanyikan. Yang jelas ini melawan ketentuannya mbak Bertha, yang kerap memarahi penyanyi baru yang tidak hapal lyrik lagu.

Bahkan yang lebih ektrem Kuburan Band juga menutupi jati dirinya dengan memakai masker topeng. Mereka seolah menertawakan industri rekaman yang sering kaku menerapkan standar. Bahwa penampilan menarik adalah modal jualan, itu tak bisa dipungkiri. Tapi bukan berarti semua pelaku industri harus good looking.

Keberadaan Kuburan Band seolah menertawakan aturan itu. Tak selamanya wajah bagus menjadi penentu penerimaan publik pada sebuah karya musik. Buktinya mereka dengan tampang yang kita tidak pernah tahu seperti apa, berhasil menggoyang Indonesia dengan lagunya yang jenaka, yang membuat semua orang yang mendengarnya tertawa, atau minimal senyum simpul.

Mungkin Kuburan Band ingin berujar, jangan pedulikan wajah kami, tapi nikmati saja musiknya.

I LOVE YOU FULL….!!!

*gambar diambil dari oom Google.

Tulisan ini dimuat juga di http://public.kompasiana.com/2009/07/15/mbah-surip-i-love-u-full/