Manohara dan Tengku Fakhry

Semua media dua hari belakangan mengulas habis kepulangan Manohara Pinot dari ‘cengkeraman’ keluarga kerajaan kelantan Malaysia. Berbagai cerita membumbui kaburnya Manohara dari Singapura. Spekulasi pun bermunculan. Publik mungkin senang dengan cerita bahagia drama Manohara. Si anak hilang itu akhirnya kembali ke pangkuan ibundanya, Daisy Fajrina di tanah air.

Saya semula ogah membuat postingan mengenai kasus Manohara, karena begitu banyak cerita bersliweran di media. Begitu beragamnya ulasan dan versi yang muncul ke permukaan hingga membuat bingung. Jujur saya malah bingung dengan semua temuan yang terungkap.

Namun saya malah penasaran saat diberi kesempatan melihat dari dekat Manohara siang tadi. Ya, dia ada di depan saya siang tadi. Manohara, ibu dan kakaknya hadir di studio untuk sebuah wawancara live. Tak tanggung-tanggung, dia harus live di 3 stasiun secara berurutan. Dari sinilah muncul keheranan saya.

Sejak hadir di depan mata, Manohara tampil begitu sempurna. Dia sangat sadar kamera, setiap gerak-geriknya senantiasa diatur dan kamera wartawan photo maupun infotainment pun tak menyia-nyiakan kesempatan mengabadikan tiap detik gerakannya. Benar-benar selebritis.

Dalam berbagai wawancara media, Manohara menyebut mendapat perlakuan buruk dari tengku Fakhry, putra mahkota Kelantan. Hampir tiap malam dia menerima ‘sex abuse’ dari sang suami. Bentuknya seperti apa? Dia tak menjelaskan secara detail. Saya perhatikan, keterangan Manohara jika sudah masuk hal-hal detil selalu disamarkan dengan jawaban berbahasa Inggris. Dan bodohnya jurnalis kita, tidak mengejar jawaban lebih jauh.

Kalau memang benar ia menerima siksaan mental maupun fisik, mestinya secara kasat mata terlihat. Tapi saya pandangi Manohara, saya kok tidak menemukan sedikitpun tanda bahwa dibalik wajah cantiknya ada luka batin. Dia begitu ceria, kerap mengumbar senyum pada siapapun yang mengajaknya tersenyum. Manohara terlalu bahagia untuk orang yang mengalami stress.

Saya perhatikan pula, dia begitu bergantung pada sang ibundanya. Saat wawancara dia sempat mengatakan suaminya berubah sikap sejak usai akad nikah. Katanya jadi kasar terhadap dirinya. Namun saat break wawancara, tiba-tiba sang ibu menginterupsi dan meminta Mano tidak menjelek-jelekkan Fakhry. Lho? Ada apa ini?

Kemudian, saya juga perhatikan rekaman video dan gambar-gambar Manohara saat bebas di Singapura. Jika memang situasinya menekan Manohara, pastinya ia berada dalam kebingungan. Nyatanya, tak ada wajah bingung, takut dan sebangsanya. Ia tetap ceria. Bahkan saat bertolak dari Bandara Changi Singapura ia begitu lincah dan beberapa kali melonjak-lonjak. Sekali lagi, jika ia kabur –seperti kerap diceritakan oleh sang ibu–harusnya ia ketakutan. Apalagi saat itu ia masih berada di Singapura, tempat pelariannya. Apakah ia tak takut dikejar oleh kaki tangan Fakhry?

Manohara dan sang Kakak

Apakah ini bukan drama? Opera sabun tepatnya? Tolong kita lihat baik-baik kasus ini. Jangan-jangan kita semua berada dalam pusaran agenda setting keluarga Manohara. Mereka menjual cerita menyedihkan, kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan keluarga kerajaan Kelantan. Bukankah ini menarik, apalagi dibumbui hubungan dua negara, Indonesia – Malaysia yang tak akur. Siapapun pembuat setting-annya jelas jenius.

Dan kini media dimanfaatkan demi keuntungan Manohara. Kita lihat apakah Manohara dan keluarganya bakal terus ‘menjual’ ceritanya ke berbagai media. Karena saya yakin tak ada yang gratis untuk semua ini. Kalau ia terus melakukan itu, sempurnalah media dalam genggaman Manohara.

Maaf, saya tak bermaksud mengecilkan kasus kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa Manohara. Tapi, apakah ada buktinya? Saya justru menemukan banyak bukti mengenai gaya hidup jetset Mano, ibunya dan kakaknya. Ingin tahu lebih jelas? Lihat saja ini.

*foto dari berbagai sumber, tulisan ini ada juga disini.