PRABA
Mendiang Prabangsa

Masih ingat kasus pembunuhan jurnalis radar Bali, AA Narendra Prabangsa? Korban diduga dibunuh karena tulisannya yang mengungkap penyimpangan proyek dinas pendidikan Bangli. Ternyata otak pelakunya adalah Nyoman Susrama, adik sang bupati Bangli. Tragisnya dia adalah anggota DPRD Bangli terpilih!

Korban yang dikenal kritis itu, dibunuh di rumah Nyoman Susrama, 11 Februari 2009. Jasad korban dibuang ke laut dan ditemukan 16 februari 2009 lalu di teluk Bungsil, antara Nusa Penida dan Pelabuhan Padang Bai.

Kasus ini mengingatkan saya pada terbunuhnya Fuad Muhamad Syafrudin atau Udin dari harian Bernas Yogyakarta, Agustus 1996, di era Orde Baru dulu. Sama dengan Prabangsa, Udin Bernas juga dibunuh lantaran mengungkap kasus penyimpangan dana Inpres Desa Tertinggal (IDT). Udin kerap memberitakan ada penyunatan dana oleh aparat pemda. Namun kerap dibantah oleh Bupati. Tudingan langsung mengarah pada Bupati Bantul, yang saat itu dijabat Sri Roso Sudarmo yang kebetulan masih kerabat pemimpin Orde Baru, Suharto.

Kasus ini memang masuk ke pengadilan, namun dibelokkan polisi dengan mengkambing hitamkan Dwi Sumaji alias Iwik, seorang warga biasa sebagai pelaku pembunuhan. Namun skenario busuk aparat pun gagal. Iwik ternyata tak terbukti membunuh. Pengadilan membebaskannya dari dakwaan karena tak cukup bukti. Lalu siapa pembunuhnya? Gelap! Orde Baru terlalu kuat saat itu, dan kasus ini tak menjamah aktor intelektualnya hingga kini.

Bagaimana dengan  kasus pembunuhan terhadap Prabangsa? Saya salut pada kecepatan  aparat mengungkap kasus pembunuhan ini. Semoga kasus ini tidak seruwet kasus pembunuhan politik lainnya. Kita berharap ranah hukum lebih dikedepankan, meski tak bisa dipungkiri karena faktor caleg PDIP itu, kasus ini kuat aura politisnya.

Polisi harus tegas, tuntaskan, lanjutkan!! Lho, kok seperti slogan capres!

Ada di Politikana.