Picture 150
Buku Long Distance Love

Menikah tapi berjauhan? Hmm…saya kok ngeri membayangkannya. Saya, istri dan ketiga buah hati kami punya derajat ketergantungan yang cukup besar satu sama lain, sehingga mendengar cerita perpisahan bak mengalami mimpi buruk.

Meski tak mengalami langsung, adik saya ternyata memilih menjadi penganut Long Distance Love bersama sang suami. Kini ia bersama 2 anaknya terpaksa berjauhan dengan suami yang menimba ringgit di Penang Malaysia.

Saya melihat sendiri bagaimana sulitnya adik saya menjalani hari-harinya jauh dari suami. Apalagi ia juga bekerja, alhasil untuk urusan rumah sehari-hari  ia tak mampu menghandle-nya seorang diri, hingga terpaksa hijrah ke rumah ortu.

Memang baru setahunan ia menjalani hubungan jarak jauh, namun kelihatan betapa tidak menyenangkannya terpisah negara. Entah sudah berapa rupiah mereka harus keluarkan untuk merajut rindu. Saling berkunjung, membengkaknya biaya telepon, sms, hingga internet adalah harga yang harus dibayar.

Cerita semacam itu akan banyak kita temukan dalam buku Long Distance Love terbitan Lingkar Pena Publishing House. Buku keroyokan 25 penulis ini menghadirkan realita cerita dari para pelaku hubungan jarak jauh. Ada sedih, nelangsa, lucu hingga yang menguras air mata.

Sejak awal pembaca diajak menaiki roller coaster emosi para penulisnya. Seperti Imazahra yang sebagian besar usia perkawinannya hingga kini dijalani dengan ber-LDL dengan sang suami. Atau kisah TKI yang harus menerima kenyataan diduakan oleh sang suami begitu pulang di tanah air. Perjuangannya mencari uang di luar negeri seolah tak dihargai oleh sang suami yang memilih menikah kembali hanya dengan dalih k-e-s-e-p-i-a-n.

Dari deretan penulis hanya ada 4 penulis pria, sisanya wanita. Terbayang seperti apa warnai buku ini. Yang menarik sebenarnya adalah menelisik bagaimana kaum pria memandang LDL. Ada yang hancur-hancuran hanya karena ditinggal berjauhan dengan anak, hingga ada yang kerap disindir lantaran mengijinkan sang istri berjauhan menempuh pendidikan di luar negeri.

Tapi ada yang menarik yang ditulis oleh Vina. Ia menuliskan sedikit kata hati sang suami menjalani hari-harinya berjauhan dengan keluarga. Ia mengibaratkan hubungan mereka sebagai setrikaan. Ada kalanya ia harus bergeser ke Jakarta, kadang ke Bandung hanya untuk membuat rajutan cinta keluarga mereka licin.

Sebuah pilihan sulit bagi mereka berdua, tapi mereka jalani sebagai harga sebuah perjuangan hidup. Apalagi mereka punya mimpi untuk pensiun dini, sehingga formula LDL untuk sementara mereka pilih.

Sayangnya, tulisan versi lelaki ini tidak dibuat langsung oleh sang lelaki. Sang suami menitipkan ceritanya untuk diolah oleh sang istri. Saya dan mungkin pembaca lainnya jadi tak menangkap emosi dari sang suami dalam menjalani hari-harinya terpisah dari keluarga. Yang tergambar hanya kesenangan karena tak ada yang mencereweti kalau pulang malam, atau bisa begadang bebas menyelesaikan tugas kantor. Tapi bagaimana beratnya LDL tak tergambarkan. Padahal akan sangat menarik jika tergali.

Bagi yang belum membaca buku ini, segeralah beli dan baca buku penting ini.Bulan Juni buku ini bakal dicetak ulang. Jadi jangan sampai kehabisan!

*review ini sengaja dibuat menjelang cetak ulang buku LDL dan siapa tahu dapat gift cantik dari bu dokter Vina.