Belakangan saya agak risau dengan tingkah polah aparat kita. Kok makin keterlaluan ya! Di Makasar, seorang mahasiswi dipaksa melucuti pakaiannya, mulai dari rok hingga celana dalamnya. Konon sang polisi melakukan itu karena menganggap korban bersama pacarnya berbuat asusila. Konyolnya, adegan menelanjangi itu direkam dengan kamera ponsel polisi. Yang lebih menjijikkan, kamera mengclose-up bagian intim sang mahasiswi!Duh!

Belakangan adegan itu menyebar luas di Makasar. Konon gambar itu digunakan sang polisi dan temannya untuk memeras korban.

<!–more–>Dan kemarin, kedua korban mengadukan kasus itu ke LBH setempat. Polda Sulsel sendiri sudah mengambil tindakan bagi ke-4 pelaku. Kasusnya diserahkan ke Propam Polda Sulsel.

Sementara di Surabaya, aparat satpol PP beringas saat merazia pedagang kaki lima. Akibatnya seorang balita tersiram kuah baso dagangan yang dirazia. Hari senin, sang bocah berusia 4,5 tahun meninggal dunia setelah berjuang selama sepekan menahan luka bakar di sekujur tubuh yang mencapai 67 persen.

Sedih saya mengetahui kasus kebrutalan sikap aparat semacam itu. Saya tak mengerti apa sebenarnya yang dicari oleh para aparat? Apakahdengan tindakan itu mereka ingin memperlihatkan bahwa mereka punya kuasa?

Jangan salah, tingkah sok kuasa yang ditunjukkan aparat akan makin membuat apriori masyarakat. Harusnya aparat melindungi masyarakat tak bersenjata dan bukan memusuhi dengan kekerasan dan perilaku aneh.

Kalau PKL dianggap melanggar, kan masih ada cara yang lebih beradab dan zero kekerasan. Tanggalkan sikap arogan, jadilah aparat yang melindungi. Memang tak semua orang yang melakukan pelanggaran mudah diberitahu. Tapi dengan tutur halus, saya rasa tak akan pernah ada cerita korban kekerasan atau mahasiswi ditelanjangi.

Bisa jadi penyebab arogansi aparat salah satunya karena tekanan tugas. Beratnya tugas membuat mereka kadang tak bisa mengontrol perilaku di lapangan. Persoalan macam ini memang harus dikembalikan ke korps masing-masing.

Bagaimana sebenarnya cara pembinaan aparat mereka? Mencetak orang dengan SOP yang sudah berlaku selama ini mungkin bagi mereka sudah cukup. Tapi harus dilihat pula situasi sekarang sangat berbeda dengan situasi 10, 20 atau 30 tahun silam. Mungkin pola pembinaan aparat sudah saatnya direvisi, disesuaikan dengan kondisi kekinian.

*Ada di Kompasiana, 20 Mei 2009.