Ada yang menarik di luar deklarasi pasangan SBY-Berbudi, yakni dukungan sejumlah budayawan terhadap Boediono sebagai calon wapres. Adalah Goenawan Mohammad, dedengkot Tempo yang menyampaikan dukungannya pada Boediono sebagai calon wapres. Wow, apa GM sedang bermain mata dengan dunia politik? Entahlah.

Konon kata GM, seperti dilansir Kompas.com, dukungan itu lebih karena sosok seorang Boediono. Ia dianggap tepat berpasangan dengan SBY, karena kemampuannya yang mumpuni dalam bidang ekonomi.

“Ini merupakan suatu hal yang ganjil, karena kita telah menemukan seseorang sebagai wakil presiden bukan dari partai politik.” begitu GM berorasi di gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Jum’at.

Rupanya GM gerah dengan sepak terjang parpol belakangan ini yang tak mengindahkan etika sama sekali. Orientasi kekuasaan lebih kental dibandingkan berjuang demi rakyat.

Kalangan parpol mestinya paham dengan ujaran GM itu. Sudah bukan rahasia lagi  kalau publik sebal dengan atraksi politik yang diberi nama koalisi ‘gombal’ itu. Dan orasi GM adalah warning bagi kalangan parpol untuk menyudahi dagelan politik yang tersaji dengan kerja kongkret. Dan sosok Boediono dianggap merepresentasikan keinginan melihat Indonesia yang bekerja, bergerak lebih baik.

Namun yang paling unik ya pernyataan novelis Ayu Utami. Dia mengatakan mendukung Boediono tapi tidak mendukung SBY. “Jangan salah, dukungan bukan untuk SBY, tapi untuk Boediono sebagai cawapres. Dari awal saya bukan pendukung SBY. Namun ketika muncul nama Boediono sebagai cawapres SBY, saya langsung dukung itu,” kata Ayu Utami. Nah, lho?

Bukannya sekarang SBY sudah satu paket dengan Boediono, mbak! Sehingga tak mungkin dipisahkan hanya mendukung Boediono tanpa mendukung SBY.

Ngomong-ngomong, kira-kira siapa dukungan anda?

*dimuat di Politikana 15 Mei 2009