Hari ini 11 tahun silam, terjadi kerusuhan di ibukota. Peristiwa yang kemudian disebut sebagai kerusuhan Mei 1998 adalah sejarah kelabu negeri ini. Entah bagaimana mulanya, saat itu Jakarta bagai dikoyak-koyak, dibumi hanguskan.

Prasangka pun menjadi bahasa yang satu. Keberagaman yang semula bersinergi dengan indahnya, luluh lantak lantaran isu tak bertanggung jawab. Tak terhitung jumlah bangunan yang ter(di)bakar, tak terhitung hati yang luka karena kobaran benci diseruakkan.

Saat itu saya hakul yakin, di negeri ini sedang berlangsung perebutan kekuasaan. Sebuah kekuatan besar yang terorganisir seolah menggerakkan semua itu. Entah siapa pelakunya. Yang terjadi kemudian, seorang pemimpin korup Orde Baru pun turun dengan terpaksa setelah mencengkeram kekuasaan selama 32 tahun.

Saya percaya kita semua tak menginginkan kerusuhan, anarkisme atau sejenisnya menimpa kita. Karenanya mari kita mengingat, merenunginya, dan jangan pernah melupakan sejarah kelam ini. Sekalinya kita melupakan sejarah kelam ini, ada kemungkinan kita akan kembali dipermainkan oleh aktor yang sama bernama anarkisme.

Mata perhatian kita boleh diarahkan pada koalisi gombal politisi, pilpres yang menjelang, dan mabuk kemenangan pemilu legislatif. Tapi tolong sisakan sedikit ruang mengingat dan mengenang mereka yang menjadi korban, mereka yang kehilangan keluarga, kehilangan masa depan, dan kehilangan akan harapan.

Jangan beri ruang pelaku kekerasan untuk menentukan arah negeri ini.

*gbr diambil dari sini.