60317Kemarin Jusuf Kalla mendeklarasikan pada publik kesertaannya dalam Pilpres di tugu Proklamasi Jakarta. Ia bersama Wiranto lebih cepat dari pasangan pilpres lainnya dalam menyapa publik.

Bila sebelumnya ia memiliki jargon Lebih cepat lebih baik, maka dengan Wiranto yang juga ketua umum Hanura, ia tambahi jargon itu menjadi “Lebih Cepat, Lebih Baik dengan Hati Nurani”.

Entah maksudnya apa, cuma sekedar mengepaskan bangunan koalisi antara Golkar dan Hanura, ataukah menganggap yang lain tidak lebih cepat dan tak bernurani? Ataukah JK beranggapan, dengan yang ‘lain’ ia tak bisa lebih cepat lebih baik dan berhati nurani. Entahlah.

Uniknya, pernyataan Jk di Tugu Proklamasi itu ditanggapi dengan keras oleh pesaingnya, Susilo Bambang Yudhoyono. SBY mengatakan, “Jangan sesumbar lebih cepat lebih baik.” SBY beranggapan pernyataan JK itu tidak menghormati capres lainnya dan sangat takabur. Mestinya, masih menurut SBY, dalam mengeluarkan pernyataan Jk tidak menyinggung perasaan kompetitor lainnya.

Oalah, kok SBy jadi cepat tersinggungan gitu ya? Salah sendiri mengundur-ngundurkan waktu pengumuman calon wapres. Kelambanan –meski selalu dibantah akibat kesibukan SBY–itu kini jadi bumerang. Kompetitor–dalam hal ini JK-menggunakannya sebagai senjata. Maju duluan, soal kalah-menang urusan lain.

JK memang mengambil keuntungan dari kegamangan Demokrat akhir-akhir ini. Setelah merasa berhasil menjinakkan PDIP, Demokrat seolah berada di atas angin. Dan mereka merasa partai politik lain tak guna dan harus mengikuti ‘iramanya’.

Padahal urusan ‘irama’, siapa sih yang bisa mendikte? Bahkan sang raja dangdut Rhoma yang pastinya Irama itupun, tak kuasa mendikte anaknya agar mengikuti jejaknya sebagai pedangdut. Salah satu anaknya justru menekuni musik rock.