sayamusuhpolitiksoeharto_5998Mantan tokoh Partai Persatuan Pembangunan yang dikenal pemberani dan bengal, Sri Bintang Pamungkas jum’at malam ditangkap polisi. Ia digaruk polisi setelah menggelar hajatan kongres Golput di Yogyakarta yang konon tak berizin.

Bagi generasi sekarang, nama Sri Bintang mungkin lamat terdengar. Ia memang sudah lama berada di ‘pinggir’ arus utama politik nasional.

Namun bukan berarti ia ‘pergi’. Selama ini ia dikenal kerap mengkritik apapun. Hampir semua presiden di negeri ini tak lepas dari kritikannya. Sri Bintang yang juga ipar menteri pemberdayaan perempuan, Meutia Hatta Swasono itu, sebelumnya juga pernah mencalonkan diri sebagai presiden.

Semasa Orde Baru langkah politiknya kerap menyulitkan aparat kemanan yang membela Suharto. Kritikan pedasnya pada kekuasaan yang korup sering memerahkan telinga penguasa.

Soal kongres Golput sendiri saya tak ambil pusing. Saya pikir itu pilihan politik masing-masing orang. Di negeri ini mestinya kita bebas menggelar apapun, mulai dari seminar kucing, seminar seks, hingga acara politik. Tapi kalau hanya menggelar kegiatan seminar sampai ditangkap, apa tak berlebihan?

Ini yang saya takutkan sejak 5 tahun silam jika punya pemimpin mantan tentara. Peristiwa kelam di masa orde baru bukan tak mungkin berulang. Mereka yang dianggap tak senyawa dengan pemerintah diberi cap tertentu, mulai dari PKI, Organisasi Tanpa Bentuk -OTB, atau gerakan macam NII, DITII. Wah!

Benarkah cara-cara seperti itu? Main tangkap karena menggelar acara yang dianggap ‘membahayakan’, bukankah sikap aparat terlalu lebay?

Apakah benar seminar Golput itu membahayakan? Bukankah Golput dalam Pemilu legislatif lalu adalah pemenang pemilu? Mengapa ‘pemenang’ lainnya tetap bisa berkegiatan di negeri ini tanpa ambil pusing soal perizinan? Sementara Golput yang jelas jumlahnya kok malah nggak bisa ya?

Tanya kenapa?