Megawati is over! Begitu seorang kawan berujar. Sekarang memang bukan eranya Megawati, karena situasi politik sudah berubah 180 derajat.

Kalau harus beromantisme, tahun 90-an tokoh politik macam Megawati memang menjanjikan sebuah ‘demokrasi’ yang lain. Di saat dinasti orde baru mencengkeram dengan kuatnya, ada seorang ketua partai yang juga titisan darah Soekarno yang melawan kemapanan politik. Dan peran itu dimainkan dengan cukup baik oleh Mega.

Ia menantang Ketua Umum PDI Suryadi yang didukung kuat Suharto. Rebutan tahta partai membuat Suryadi terpental dan rakyat banteng memilih Megawati sebagai ketua umumnya. Nama Mega makin menjulang disaat kampanye pemilu, karena ia seolah menawarkan warna lain disamping warna kuning yang sudah membuat jenuh mata saat itu.

Tahun 1999 akhirnya PDIP –yang merupakan reinkarnasi PDI–menang Pemilu. Tapi apa yang terjadi, tak ada ide brilyan Megawati yang saya dengar. Bahkan saat ia tersingkir dan hanya bisa menjadi RI-2, kilaunya makin meredup.

Saat ia berhasil duduk di kursi RI-1 dengan “kudeta konstitusional” di MPR terhadap Abdurahman Wahid, iapun tak banyak menunjukkan kelasnya. Pemerintahannya sangat tak ada sentuhan Megawatinya. Sosok The Man Behind Mega-lah yang kerap dominan. Ya, Taufik Kiemas lah yang selalu berakrobat kesana-kemari.

Kuatnya pesona seorang Taufik Kiemas (TK) membuat banyak orang dekatnya ‘gerah’. Banyak yang semula menjadi kolega Mega akhirnya menyingkir, karena mengetahui tidak profesionalnya partai ini dikelola. Urusan rumah tangga dicampur adukkan ke dalam partai oleh TK.

Dan sekarang saat Mega digadang-gadang sebagai capres oleh PDIP, saya kok tak seratus persen percaya itu adalah kemauan Mega secara pribadi. Jika hanya memanfaatkan kharisma sang bapak, sorry dorry strawbery bu Mega, saya tidak silau dengan itu. Apa ide anda melihat begitu banyak persoalan negeri ini yang harus diselesaikan? Saya kok tak pernah mendengarnya.

Saya lebih sering mendengar nyanyian sumir dari bibir anda, seperti saat anda mengatakan pemerintah ini sering menari poco-poco. Kalau anda memiliki konsep yang kuat, sodorkan. Berikan kesempatan rakyat mengetahui, mendiskusikan, mengkritisi tawaran konsep anda.

Jika cuma runtang-runtung mengajak politisi lain ke Teuku Umar tiap hari, saya curiga anda hanya ingin memanfaatkan media agar wajah anda tiap saat nampang di Tv.

Tapi kalaupun anda punya konsep, saya juga tak akan memilih anda sebagai presiden. Kenapa? Karena sepertinya anda tak bisa ‘berlari kencang’. Padahal era sudah semakin maju. Teknologi pun sudah sedemikian rupa canggihnya. Apakah anda sanggup?

*gbr diambil dari sini.