Sejak pekan lalu kaba2-aa1r koalisi besar Teuku Umar kencang berhembus. Runtang-runtung JK, Prabowo, Wiranto ke mendatangi rumah Megawati. Saking seringnya, saya sendiri sampai malas menghitung berapa kali Prabowo wira-wiri ke rumah Mega.

Pokonya, pekan lalu rumah mbak Ega layaknya rumah kedua Prabowo. Terakhir kunjungan Prabowo digenapi kehadiran sejumlah purnawirawan TNI. Kalau saya tak salah catat, ada sekitar 13 jenderal menyambangi Mega saat itu.

Saya melihat kehadirannya tak lebih untuk ‘menekan’ Mega agar mau berpasangan dengan salah satu jenderal. Karena SBY yang juga pensiunan jenderal konon hanya bisa ditandingi jenderal pula. Hasilnya? Jum’at malam JK resmi meresmikan JK Win, akronim JK dengan Wiranto. Soal kans mereka biarlah para ahli survey yang bicara.

Tapi berita koalisi kubu Teuku Umar tampaknya antiklimaks, setelah pertemuan koalisi parlemen yang sebenarnya gegap gempita. Publik tak akan menaruh perhatian pada isu koalisi lagi, karena ada isu yang lebih hot, selingkuh berbuah kematian yang melibatkan tokoh besar negeri ini, AA inisialnya. Tapi sudah boleh kok disebut sebagai Antasari Azhar sang ketua KPK.

Ya, Antasari diduga menjadi mastermind kasus terbunuhnya Nasarudin Zulkarnain, seorang direktur PT Rajawali Banjaran, Maret lalu. Nahas, kalau boleh dibilang begitu, Antasari pendekar Anti Korupsi itu tergelincir dalam kasus yang menurut saya norak, perempuan!

Siapa yang diuntungkan dari kasus Antasari?

Dugaan saya kubu SBY cukup diuntungkan dengan mencuatnya kasus Antasari. Lho? Setidaknya kasus ini langsung melesat kilat ke angkasa pemberitaan media di negeri ini. Suka tak suka kasus pembunuhan yang melibatkan pejabat publik sekelas ketua KPK, jelas lebih ‘menjual’ dibandingkan koalisi basi kubu Teuku Umar.

Publik akan membicarakan terus menerus berita kasus Antasari. Dan (sedihnya) bakal melupakan Koalisi Parlemen dan deklarasi pasangan capres-cawapres JK-WIN.

Kalau boleh taruhan, besok semua headline koran, tv, media online pasti masih terus membicarakan kasus Antasari dibandingkan Koalisi (semu) Parlemen itu. Bahkan saya hakul yakin, berita hiburan infotainment Tv pasti ikut menyilet-nyilet kasus ini sampai tuntas!

Dari sisi ini, saya akui pengalihan berita koalisi politik ke berita kriminal tingkat tinggi adalah cara jenial. Apalagi ingatan orang Indonesia rata-rata cukup pendek, cepat beralih pada sesuatu yang lebih seru dan saru.

Dan kasus Antasari memenuhi semua hasrat orang untuk mengikuti berita, karena mengandung unsur drama yang cukup kuat. Ada kesan tragis, karena seorang ternama tersandung skandal berbumbu seks dan pembunuhan.

Tapi jangan salah, bukan hanya keuntungan yang diraih kubu SBY. Kubu mereka juga dirugikan, bahkan tercoreng. Karena Antasari adalah ikon pemberantasan korupsi, sebuah isu yang dijaga betul oleh SBY sebagai ‘barang dagangannya’ dalam pemilu. Jika SBY tak cermat bersikap, salah-salah kasus Antasari justru memelorotkan citranya. Jangan-jangan bakal muncul sindiran ”Lihat tuh ketua KPK, anti korupsi tapi tak anti perempuan!”

Yang rugi juga bukan hanya SBY lho, Megawati dan PDIP pun setali tiga uang. Karena Antasari terpilih sebagai ketua KPK atas ’sponsor’ penuh PDIP di parlemen. Kasus ini pasti akan dipolitisir habis-habisan, karena menyentil banyak kalangan.

Selamat datang politik skandal. Dan selamat pusing membaca ulasan media yang hiruk pikuk mengenai kasus Antasari. Untuk sementara lupakan dulu koalisi. Kita tunggu apakah drama Antasari bakal dibikin opera sabun oleh Trans Tv di program KPK (kumpulan Perkara Korupsi). Tapi gak cocok kali ya, karena bukan kasus korupsi. Mungkin acaranya bakal menjadi Kumpulan Perkaranya orang KPK….

*dimuat juga disini.