Seorang kawan yang saya kenal sebagai pendukung fanatik PDIP menyatakan bakal melakukan aksi boikot Pilpres. Sikap itu saya baca di halaman Facebooknya. Meski belum tahu alasan dibalik sikapnya, saya terus terang agak kaget dan sempat menduga-duga.

Apakah ini akan jadi sikap akhir PDIP menjelang Pilpres? Atau ini murni kekesalan seorang simpatisan partai karena merasa partainya dikadali dalam pemilu legislatif oleh persoalan DPT? Semoga yang terakhir yang benar.

Saya tak bisa membayangkan jika dalam perhelatan Pilpres Juli mendatang hanya ada satu pasangan yang maju, itu artinya SBY dan pasangannya. Jelas ini bukan sebuah pentas demokrasi yang indah. Pasangan tunggal akan menisbikan persaingan. Padahal sejatinya, demokrasi akan tumbuh dengan cantik jika terjadi sebuah persaingan dalam prosesnya.

Namun jika mencermati manuver politik sejumlah elit belakangan ini, sangat kecil kemungkinannya PDIP dan rekan koalisinya menyerah kalah sebelum bertanding. Terlalu murah lah harga sebuah perjuangan jika belum apa-apa mengibarkan bendera putih. Bukan hanya pertanda mengalah, tapi sekaligus memberi kemenangan pada pihak lawan dengan cuma-cuma. Saya rasa ini jauh dari sikap politik PDIP.

Saya pikir sangat tidak elegan memboikot sebuah perhelatan di tengah proses yang diamini semua pihak. Karena meski memprotes terjadinya pelanggaran pemilu legislatif lalu, baik PDIP, Golkar atau partai lainnya hingga detik ini masih berhitung soal koalisi dalam Pilpres. Artinya, mereka dengan sadar akan menjadi peserta ‘beauty contest’ dan bukan sekedar jadi penggembira.

Kita tunggu saja, bagaimana sikap PDIP dan yang lainnya mengenai pilpres. Karena pekan ini setidaknya publik bakal mengetahui siapa cawapres PDIP, SBY serta sikap politik Golkar terkait Pilpres mendatang.