Faktor apa yang menyebabkan partainya SBY, Demokrat unggul dengan begitu mengesankan dalam Pemilu 2009?

Apakah PDIP yang memble, Golkar yang terlalu pede ? Saya kira akan banyak ahli yang membedah mengapa partai-partai lama itu kini rontok dalam pemilu.

Bisa jadi kita sudah jenuh dengan cara berpartai yang diterapkan partai warisan Orde Baru macam PDI(P), PPP, serta Golkar. Suka tak suka masyarakat mengalami kejenuhan dengan penampilan (performance) partai lama yang begitu-begitu saja. Korupsi berjamaah sampai politik perkoncoan.

Dan Pemilu 2009 adalah hukuman bagi partai politik yang tak pernah sungguh-sungguh memperhatikan masyarakat banyak.. Saya kira kita semua masih ingat sepanjang 5 tahun pemerintahan SBY-JK tak pernah surut dari hujatan dan gangguan. Pengganggunya mulai dari mereka yang mengaku oposan hingga ‘kawan’ selangkah seirama.

SBY dihantami bareng-bareng. Tak ada saat pemerintah bisa bekerja dengan tenang. Baru melangkah digebuki, baru bikin kebijakan dicaci maki di DPR.

Saya tidak pernah melihat ada persatuan di kabinet dan DPR mengatasi krisis multi dimensi. Semua seolah-olah cuma kerjanya SBY.

Bahkan JK, kawan SBY yang membangun koalisi “Bersama Kita Bisa”, kerap bertindak melampaui wewenangnya, hingga dijuluki sebagai the real president. Mungkin tindakan SBY dilakukan untuk menutupi kelambanan dan ketidak tegasan sikap yang kerap ditunjukkan SBY. Namun masyarakat kadung menilai JK terlalu bernafsu menjadi Presiden, sehingga terlihat sangat ambisius.

Kini hasil hitung cepat Pemilu sudah dirilis banyak lembaga survey. Semua memperlihatkan hasil senada yang menempatkan Demokrat di posisi pertama dengan perolehan suara lebih dari 20 persen.

Artinya apa, Demokrat yang dulu underdog di pemerintahan dengan perolehan suara dari Pemilu 2004 yang cuma 7.45 persen kini menjadi raksasa baru melampaui pihak yang selama ini kerap mempecundanginya di parlemen, Golkar dan PDIP.

Terlepas dari persiapan pemilu yang kedodoran, dan hasil Quick Count merupakan sebuah prediksi awal, saya kira siapapun harus menghormati ini. Jangan karena dipihak yang kalah lantas kita menganggap hasil quick count tak valid. Tapi apapaun itu tetap hasil perhitungan KPU tetaplah yang menjadi acuan sah tidaknya perhitungan suara.

Buat PDIP dan Golkar,  berkacalah. Rakyat capek dengan gaya berpolitik yang kalian tampilkan. Jika tak melakukan perubahan dalam berpolitik, bukan tak mungkin dua partai papan atas itu akan ditinggalkan massa. Dan pemilu nantinya akan dihiasi kekuatan baru yang jauh lebih mengerti rakyat,

* Syaifuddin Sayuti yang tidak ikut nyontreng Demokrat.