Sekian jam lagi pesta nyontreng pun tiba.   Sudah siapkah anda dengan bekal nama caleg yang akan anda pilih di bilik suara? Jujur, hingga detik ini saya benar-benar blank dengan nama caleg yang bakal saya pilih.

Karena harus memilih di daerah yang bukan tempat tinggal, saya tak terlalu memperhatikan nama-nama caleg di dapil saya. Dari hasil browsing di internet, saya menemukan beberapa nama, tapi tetap rekam jejaknya tak terlalu saya ketahui.

Sementara mereka yang saya ketahui, setidaknya karena status selebritinya atau karena pernah menjadi anggota dewan sebelumnya, saya kok kurang sreg.

Untungnya diantara kebingungan itu, saya masih punya panduan untuk mencontreng nama partai bukan nama caleg. Saya kira ini solusi termudah menghadapi persoalan yang saya hadapi. Nama partai!

Dan saya sudah mengantongi nama partai itu jauh-jauh hari. Sorry bukan partai lain, meski banyak rayuan di media, baliho, poster, spanduk yang hebat-hebat, saya akan menjatuhkan pilihan pada partai ini.

Saran saya bagi mereka yang sudah punya pilihan nama caleg, teliti dulu siapa dia dan apa programnya. Telisik lagi latar belakang partainya.

Jangan memilih sekedar milih, karena dipundak mereka kita akan bergantung. Setidaknya dari merekalah produk undang-undang akan banyak dilahirkan untuk mengatur jalannya negara. Yang utama, jangan pilih caleg yang berkategori busuk.

Bisa saja dia kembali mencalonkan diri padahal selama ini di parlemen kerjanya cuma korupsi, tidur saat sidang, tak pernah datang saat sidang, tak pernah membela rakyat banyak, pernah terkena skandal seks dan masih banyak sederet lagi cacat yang melekat.

Tentunya kita belum lupa ada skandal Al Amin Nur Nasution dari PPP, Hamka Yandhu dan Anthony Z-Abidin dari Golkar, skandal seks Yahya Zaini dari Golkar, korupsi Sarjan Taher dari Demokrat, dan yang baru divonis Yusuf Erwin Faisal dari PKB. Ini hanya sekedar menyebut contoh, karena masih banyak skandal dihasilkan oleh parlemen diluar kerja utamanya.

Memang tak ada manusia yang sempurna, tapi paling tidak memilih yang tidak masuk kategori busuk akan jauh lebih baik demi menciptakan DPR yang bersih dan berwibawa.