Ada insiden menarik di Yogyakarta di hari pertama masa tenang menjelang Pemilu, siang tadi. DPC PDIP Bantul emoh atribut kampanyenya dicopoti petugas gabungan KPU, Panwaslu, dan Satpol PP. Alasannya, petugas tak berhak mengambil atribut milik mereka begitu saja.

Lho, mereka mengerti tidak sih, ini kan masa tenang. Dan sejatinya, dalam masa tenang semua atribut kampanye harus diturunkan atau dilepas, baik sukarela maupun oleh petugas.

Saya kira ini prosedur standar yang selalu ada dalam tiap Pemilu. Mengapa hal macam ini mesti menjadi masalah? Apakah satgas DPC PDIP Bantul tak mengerti aturan Pemilu?

Padahal dimana-mana sudah diwartakan banyak media, bahwa mulai minggu tengah malam semua atribut kampanye tak boleh lagi berada di manapun. Harus dicopot tanpa terkecuali.

Harusnya DPC sebagai kepanjangan tangan partai di daerah mengerti hal ini. Melakukan tindakan melawan aturan hanya akan membuat pandangan masyarakat jadi minor pada partai.

Di ibukota dan sekitarnya sendiri, hari pertama masa tenang juga belum sepenuhnya steril dari atribut kampanye. Setidaknya saya mencatat di kawasan Kranggan Bekasi, CIbubur Jakarta Timur, Cimanggis dan Depok masih banyak poster saya temukan di pinggir jalan. Sejumlah baliho caleg yang mengotori pojok-pojok jalan pun masih berdiri megah.

Keberadaan atribut kampanye tersebut seolah masih berupaya merayu siapapun yang melintas. “Hai pilih aku dong…!!”

Mungkin petugasnya lupa, belum sempat mensweeping daerah tersebut ataukah memang disengaja?

Konsistensi sikap petugas juga dipertanyakan. Sebelumnya KPU sudah mewanti-wanti di berbagai media akan melakukan pembersihan atribut kampanye mulai Senin ini. Harusnya mereka tak hanya berkoar di media, tapi mewujudkannya di lapangan. Sehingga tak muncul kesan, KPU pilih kasih. Kalau atributnya partai “anu” kok dibiarkan, sementara balihonya partai “itu” kok dirobohkan!

Tuslisan ini Dimuat di sini.