earth_2d00_hourBlack In News, sabtu lalu (28 Maret) dunia menggemakan Earth Hour, satu jam tanpa listrik pada pukul 20.30. Beberapa hari sebelumnya saya sudah woro-woro lewat Twitter dan Plurk ngajak orang untuk ikutan.

Kelar kerja ada hajatan seorang kawan di kalibata, sayapun ikut gabung sebentar. Pulang naik KRL pas banget jam 20.30. Di kiri kanan stasiun Kalibata saya lihat lampu-lampu tetap gemerlap. Tak ada yang hirau dengan ajakan itu. “Ini memang bukan paksaan, cuma himbauan,” seloroh seorang kawan.

Pahamlah saya. Karena cuma ajakan banyak yang tak peduli. Bisa jadi karena negeri ini tengah sibuk kampanye, atau tengah berkubang lumpur di Situ Gintung.

Saya bayangkan jika kita mau barang sejam saja mematikan lampu, suasana malam minggu kemarin pasti berbeda. Benderang listrik sementara digantikan temaram lilin dan lampu teplok. Seperti kembali ke jaman batu.

Kalau saja ajakan ini diamini banyak orang, begitu banyak penghematan listrik bisa dilakukan. Lihat saja fakta-fakta berikut:

  • 300MW (cukup untuk mengistirahatkan 1 pembangkit listrik dan menyalakan 900 desa)
  • mengurangi beban biaya listrik Jakarta sekitar Rp 200 juta
  • mengurangi emisi CO2 sekitar 284 Ton CO2
  • menyelamatkan lebih dari 284 pohon
  • menghasilkan udara bersih untuk lebih dari 568 orang.

Kampanye macam ini sejatinya didengungkan lebih kencang, tidak cuma sekelabatan di media main stream. Tahun ini meski saya lihat lebih baik, tetap sosialisasinya masih kurang. Masih ketutup dengan kampanye Pemilu yang tiap detik menyita perhatian publik di semua lini media.

Black Community, k e depan gagasan macam ini mesti disokong lebih banyak orang, digemakan lebih sering, sehingga menjadi kesadaran global. Bumi ini sudah cukup merana. Jadi hanya ada dua pilihan terlibat atau sekarat!