Black In News, jum’at dinihari lalu Indonesia berduka. Tanggul situ Gintung di kawasan Cireundeu, Ciputat, Tangerang jebol. Air bah bak tsunami kecil meluber menggenangi kawasan perumahan di bibir situ. Debit air yang besar membuat tanggul peninggalan Belanda tak mampu menampung. Ratusan rumah rusak, 99 orang tewas, ratusan luka dan lebih dari 100 orang hilang.

Mengapa ini terjadi? Karena manusia tak pernah belajar dari kesalahan lama. Bencana lingkungan semacam ini bukan kali ini saja terjadi. Teramat sering Allah memperingatkan manusia agar tak abai pada alam. Karena alam diciptakan untuk dihuni sembari dirawat, bukannya malah dirusak. Jika kerusakan yang dipilih, maka tak ada pilihan lain bagi Sang Pencipta untuk memberi peringatan.

Situ Gintung memberi contoh kepada keserakahan manusia. Bayangkan saja bagaimana mungkin sebuah tanggul tua namun dijadikan tempat hunian? Logika saja tidak masuk akal. Sejatinya tanggul kan digunakan untuk menahan air yang mengalir saat musim hujan tiba. Jika konstruksi tanggul lemah, maka hanya menunggu waktu akan jebol.

Bencana memang tak memilih tempat atau waktu. Ia datang tanpa mengetuk pintu.Bukan tak mungkin bencana serupa akan terjadi di tempat lain. BPPT setidaknya sudah memberi peringatan, ada 5 situ di jabotabek yang tanggulnya rawan jebol karena berubah peruntukan. Harusnya situ dibiarkan sesuai aslinya. Dan mestinya ada jarak tertentu bagi warga yang akan tinggal di sekitar situ. Ada jarak aman dan jarak berbahaya yang harus tegas ditegakkan.

Pemerintah memang tak tegas memelihara lingkungan. Harusnya wilayah konservasi air tidak diganggu gugat untuk bangunan, apalagi hunian. Karena wilayah konservasi air menjadi pusat kehidupan manusia.

Black Community, saatnya kita membangun dengan lebih peduli lingkungan. Jangan jadikan lingkungan hanya sebagai slogan.