Black In News, ini sambungan kisah penumpang KRL. Saya akan buat berseri, tapi sambungannya tergantung mood saya juga.

Menumpang kereta jabotabek (lebih enak menyebut demikian ketimbang jabodetabek yang kepanjangan) kini jauh lebih nyaman, setidaknya jika dibandingkan jaman dulu. Kini ada beberapa alternatif, mulai dari kelas ekonomi, AC Ekonomi, hingga yang Ekspres. Pembedaan kelas bukan sekedar jenis tapi menunjukkan ‘kelas’.

Kondisi KRL kelas ekonomi jelas seadanya, malah cenderung menyedihkan  dan tak manusiawi. Ya iyalah, dengan tiket yang cuma 1.500 rupiah dari Bogor ke Jkt, fasilitas macam apa yang kira-kira bisa diberikan PT.KAI? Makanya dibandingkan jenis KRL lainnya, KRL Ekonomi ratingnya tergolong tinggi. Peminatnya selalu membludak, tidak hanya saat jam kerja.

Namun ada beberapa hal yang membedakan dengan KRL  jenis lainnya. Salah satunya yang khas, pintu kereta tak pernah tertutup! Sepanjang perjalanan penumpang selalu disambut semilir angin bahkan hujan. Karena tak pernah ditutup, siapapun bebas keluar masuk kereta, pun saat kereta berjalan sekalipun. Terbukanya pintu membuat banyak aktivitas yang tak terbayangkan bisa terjadi disini. Mulai dari ayam dan kambing yang dimasukkan gerbong, copet yang bebas gentayangan, hingga pipis di pintu. Hmm…kalau yang terakhir biasanya anak balita, kalau orang dewasa pasti membuat geger seisi kereta.

Penumpang juga bebas jika hendak naik di atap gerbong, meski sangat tidak disarankan. Jatuh dan kehilangan nyawa adalah resiko pribadi. Sudah jelas-jelas bahaya kok masih nekat. Saya tak tahu persis sudah berapa banyak nyawa melayang akibat terjatuh dari atap kereta ini.

PT KAI sendiri pernah menertibkan penumpang yang ada di atap. Mereka ditangkapi dan pakaiannya disiram dengan cat, tapi operasi macam itu hanya sesaat, hangat-hangat tahi ayam! Kini bahkan operasi sejenis nyaris tak terdengar.

Di kelas ekonomi jangan pernah bicara soal kenyamanan. Bagaimana bisa nyaman, jika dalam satu gerbong hanya tersisa ruang antar penumpang dalam ukuran milimeter. Tak jarang tubuh harus berhimpitan macam ikan pindang. Jika sudah begini, tak jelas bau tubuh siapa yang wangi dan siapa yang tak mandi! Menggunakan parfum hanya kamuflase sesaat, karena setelah itu peluh bercucuran aneka rupa.

Mengingat kondisinya sedemikian rupa, ada beberapa saran bagi penumpang KRL ekonomi.

Pertama, jangan berharap dapat duduk jika menumpang kereta ini. Anda akan sakit hati dibuatnya jika ternyata jumlah kursi yang tersedia jauh lebih sedikit dari jumlah orang yang beredar. Tapi jika akhirnya dapat duduk, itu namanya rejeki.

Kedua, jangan pernah membawa banyak barang, pastinya bakal sengsara. Coba saja bawa buntelan segerobak pasti gak bisa masuk ke dalam gerbong. Boro-boro bawaan, badan bisa masuk celah penumpang lain saja sudah syukur.

Ketiga, jangan memancing hasrat mencopet orang lain. Maksudnya, jangan bertelepon genggam selama perjalanan, karena barang satu ini menjadi most wanted para pencopet. Harganya jelas, pasarnya ada, peminatnya pun melimpah. Makanya HP lebih baik disimpan, entah ditaruh dalam tempat rahasia di dalam tas, saku yang sulit dirogoh, atau di tempat tersembunyi lainnya. nasehat bijak ini juga buat dompet. Jangan taruh dompet di tempat yang terjangkau. Lho, kalau mau jajan? Dijamin selama naik KRl ini tak akan berminat pada jualan pedagang asongan. Tapi, kalau masih terdeteksi pencopet juga? Ya, pasrah lah. Itu nasib namanya!

Keempat, jangan ikutan mencopet juga. Kalau tak profesional, salah-salah bakal digebukin orang segerbong dan muncul di berita kriminal tv.

Kelima, kalau punya uang lebih mending naik KRL AC yang lebih beradab. Selain desak-desakannya masih bisa ditolerir, udaranya agak segar karena ada AC dan fan.

Black Community, PT KAI harusnya memperbaiki kereta jenis ini, karena peminatnya sangat banyak. Saya yakin jika dikelola dengan profesional kereta kelas ekonomi bisa menguntungkan secara komersial. Tinggal apakah PT KAI mau atau tidak.