road

Judul Buku : The Road to The Empire; Kisah Takudar Khan Pangeran Muslim Pewaris Mongol

Pengarang : Sinta Yudisia

Penerbit : Lingkar Pena Publishing House, 2008; 573 hal.

Apa yang terpikir mengenai Mongol? Bagi penikmat sejarah Asia Timur mungkin tak terlalu sulit menguraikannya. Karena Mongol yang terletak di daratan Cina, di masa silam punya sejarah panjang kekaisaran.

Dan jika nama Jenghiz Khan disodorkan, pasti lamat-lamat sebagian dari kita merasa sangat mengenalnya. Ya, dialah kaisar Mongol masa lalu yang sangat terkenal. Terkenal bukan hanya lantaran kepemimpinannya yang tangguh, tapi juga kebengisannya.

Namun bagi yang tak terlalu aware dengan Mongolia, pasti akan sulit mengurai sejarah panjang kekaisaran Mongol. Saya termasuk yang tak terlalu mengikuti sejarah Mongol. Karenanya saat  membaca buku The Road to the Empire; Kisah Takudar Khan Pangeran Muslim Pewaris Mongol karya Sinta Yudisia, awalnya saya bayangkan akan banyak kerumitan menyertai pemahaman saya yang minim mengenai Mongol.

Apalagi di bagian awal Sinta menggunakan banyak kata yang kurang familiar bagi saya, macam apa itu hooves, tolgoin, shanaavch sampai terleg del. Untungnya Sinta selain menggunakan juga menyisipkan arti kata-kata tersebut. Sehingga saya bisa paham kalau itu adalah bagian busana prajurit Mongol.

Imaji saya pun mulai terbangun. Agak teringat dengan filmnya Yusril Ihza Mahendra tentang Laksamana Cheng Ho. Meski sangat berbeda, tapi setidaknya saya bisa membayangkan dimana bagian busana itu digunakan prajurit Mongol.

Selesai? Enggak juga. Persoalan kedua adalah bagaimana menempatkan pemahaman para tokohnya. Kemiripan nama juga menjadi persoalan bagi saya membedakan satu karakter dengan karakter lain. Misalnya, Ada trio (sayangnya bukan trio macan!) Takudar, Arghun, dan Buzun yang namanya sama diakhiri nama marga Khan. Belum lagi ada nama Albuga dan Tuqluq Timur Khan. Wah, pe-er besar tuh untuk memahaminya.

Pemahaman saya mulai agak cair saat Sinta menceritakan perempuan di sekitar ketiga pangeran macam Almamuchi, Urghana hingga Han Siang. Ternyata peran perempuan-perempuan itu lah yang berhasil membetot perhatian saya lebih mudah. Ada sosok yang setia, ada sosok yang culas, bahkan ada yang siap berkorban demi menyenangkan keluarga dalam hal jodoh.

Melalui tokoh perempuan itulah saya bisa masuk ke akar persoalan sesungguhnya. Dengan caranya bertutur yang sangat detil dan mengalir, Sinta benar-benar tak memberi kesempatan saya melepaskan sedikitpun kisah intrik perebutan kekuasaan di novel ini.

Saya tak bisa membayangkan berapa lama Sinta melakukan riset mendalam mengenai sejarah Mongol beserta tokoh-tokohnya. Karena apa yang tersaji di novel ini bukan saja deretan peristiwa sejarah, namun juga dengan konteks. Sinta berhasil menghadirkan sejarah dengan caranya. Tidak menggurui seperti cara guru sejarah di negeri ini. Tidak juga memaksa kita untuk memahami persoalan dengan cara yang pelik.

Intrik perebutan kekuasaan yang menjadi titik sentral cerita novel ini, seolah menggambarkan situasi yang tengah terjadi di negeri ini. Pemilu dan segala macam perniknya yang kini tengah disiapkan KPU, sebenarnya punya muara yang sama, yakni perebutan kekuasaan. Tinggal bagaimana cara merebut kekuasaan itu. Apakah menggunakan cara yang digunakan Khan bersaudara atau cara ’halus’ yang kita sebut demokrasi.

Penulis mampu membumikan kisahnya dengan aliran bahasa yang ringan, enak dan ritmis. Sehingga lebih dari 500 halaman tak begitu terasa tebalnya. Ia begitu pandai menghadirkan Mongol seolah nyata di hadapan kita. Saya yang semula sangsi bisa menyerap buku ini dengan keminiman pemahaman mengenai Mongol, berani bertaruh siapapun pasti bisa menikmati keindahan bahasa dan cara bertutur Sinta.

Meski ini novel pertama Sinta yang saya baca, saya berani pula memberikan gelar Sinta adalah pencerita yang memesona. Tak salah mengapa buku ini mendapat award sebagai buku fiksi terbaik di Islamic Book Fair 2009 baru-baru ini. Oya, saya bayangkan jika buku ini diangkat ke layar lebar pastinya akan menjadi film berbiaya besar dan kolosal.