Black In News, itu bukan perkataan saya lho, Black Community! Itu adalah kejengkelan seorang kawan yang sempat sempat curhat. Ia kesal dan memutuskan ‘membunuh’ account facebooknya. Lho, kok segitunya tanya saya?

Dia jelaskan semuanya. Ia terlibat pertengkaran dengan sang suami lantaran facebook. Rupanya sang suami di facebooknya tak mencantumkan status hubungan mereka yang sudah setahun menikah. Sudah gitu tak ada satupun foto mereka berdua yang dipajang sang suami di facebooknya. Justru foto sang suami yang sedang gaul dengan kawan-kawan ceweknya yang banyak dipajang.

Karena merasa tak dihargai sang suami, akhirnya kawan saya tadi menutup account facebooknya. Agak aneh menurut saya, karena dia dikenal sebagai anak yang gaul. Menutup account berarti memutus rangkai pertemanan dengan kawan-kawan gaulnya. Karena suka tidak suka, situs buku wajah ini menjadi ’tempat’ termudah untuk saling sapa saat ini.

Barangkali kawan saya yang satu itu adalah korban kesekian dari fenomena facebook yang mewabah akhir-akhir ini. Sebelumnya saya juga pernah dengar kabar ada pasangan yang bercerai gara-gara facebook. Sang istri marah besar lantaran status sang suami masih dipajang single di facebook. Akibatnya, banyak gadis yang mengajaknya kencan. Dasar sang suami memang playboy, terbongkarlah semua perselingkuhannya. Ujung-ujungnya sang istri memilih bercerai.

Wah, sedrastis itukah dampak sebuah situs internet?

Tak dapat dipungkiri keberadaan facebook membuat banyak kalangan di dunia seperti terkena sindroma baru. Mereka yang tadinya gaptek dan ogah bersentuhan dengan internet, karena melihat trend facebook memaksakan diri masuk dalam dinamika situs pertemanan ini. Bagi mereka yang terbisa memilah informasi pribadi yang sifatnya publik dan mana yang privat, tentunya tak terlalu bermasalah saat harus ’menelanjangi’ atau ’ditelanjangi’ dirinya di facebook.

Tapi bagi mereka yang introvert, yang kerap menyimpan rapat informasi pribadinya, situs semacam facebook memang merepotkan. Karena nyaris tak ada ruang untuk bersembunyi dari publik. Bayangkan, meski kita hanya memberikan data yang paling minimal, seperti nama, dan alamat email sekalipun. Tiba-tiba ada kawan lama yang mengenali kita dan mengirimkan foto-foto jadul. Mungkin maksud di pengirim hanya untuk nostalgia dan lucu-lucuan. Tapi kemudian bisa jadi si penerima merasa ditelanjangi, tatkala banyak komentar mengenai behind the foto yang muncul.

Sekali lagi, teknologi maju seperti internet memang butuh kedewasaan tersendiri dari penggunanya. Menyalahkan internet atau situs pertemanan maya saat muncul persoalan adalah tidak bijak. Karena bangaimana pun juga semua kembali ke masing-masing individu. Internet dan juga situs semacam facebook hanyalah produk teknologi yang memudahkan manusia. Manusialah yang harusnya mengendalikan itu semua, bukan manusia yang takluk pada teknologi.

Black Community,  sudahkah mengupdate status facebook anda hari ini?