Black In News, Kopi darat Kompasiana yang berlangsung Sabtu siang di Bentara Budaya, Palmerah, Jakarta berlangsung seru. Awalnya beberapa blogger masih jaim karena belum saling kenal. Tapi dua session yang disediakan panitia akhirnya mencairkan suasana. Apalagi saat blogger ”bintang empat” pak Chappy Hakim tampil, atmosfer suasana benar-benar ’ancur’.

Ternyata jenderal yang satu ini sangat berbeda dengan jenderal-jenderal lainnya yang saya kenal. Pak Chappy sangat santai, humoris, dan tidak terlihat ’tentaranya’. Kalau jenderal lainnya pada berebut jadi capres, pak Chappy justru memilih jalan aktualisasi diri dengan banyak menulis. Di kompasiana pak Chappy tergolong blogger yang rajin menulis. Bahkan tiap 14 jam ada 1 tulisan yang diposting. Di sesi siang kopdar, pak Chappy jadi bintang dengan humor-humornya yang segar, permainan gitar dan saxopone hingga menyanyi. Benar-benar blogger yang komplit.

Selain atraksi pak jenderal, sesi awal juga diisi paparan soal media alternatif dan mainstream oleh Lily Yulianti Farid dan Tony D.Widiastono. Lily adalah mantan wartawan kompas yang juga blogger kawakan. Ia sudah malang melintang di situs pewarta warga www.ohmynews.com dan pendiri www.panyingkul.com. Lily berbagi mengenai kekuatan pewarta warga dan pengaruhnya bagi dunia yang berubah.

Sementara Tony Widiastono yang juga redaktur opini kompas membuka rahasia dapur rubrik opini Kompas. Termasuk tips bagaimana agar tulisan bisa tembus di rubrik opini Kompas yang cukup bergengsi itu.

Tapi session yang paling menguras urat tawa ya sessionnya Pandji Pragiwaksono, Raditya Dhika, Pepih Nugraha, dan Dharmawan di sore hari. Pandji menguraikan proses kreatifnya sebagai blogger yang menunjang profesinya sebagai penyanyi Hip-hop dengan gayanya yang selenge-an. Ternyata di balik kekonyolan Pandji di tv, dia adalah seorang marketer jempolan. Dia mengemas citra dirinya sedemikian rupa melalui blognya yang provokatif dan menjual.

Lain lagi paparan Raditya Dhika, blogger dan penulis buku best seller Kambing Jantan. Ternyata adik kelas saya di SMA ini seorang yang cerdas dan sadar branding dirinya. Meski awalnya tulisan di blognya adalah catatan harian yang gak penting, ternyata di kemudian hari catatan yang gak penting itu justru menjadi best seller ketika diterbitkan menjadi buku. Dengan kesadarannya pula, Dhika rajin ’merawat’ para pembacanya hingga loyal pada karya-karyanya. Bahkan awal maret mendatang Kambing Jantan the Movie siap edar di bioskop dengan sang blogger jadi pemeran utamanya. Wow!

Jadi sangat tak masuk diakal jika banyak orang menyepelekan dunia blog. Terbukti dari paparan selama kopdar Kompasiana, blog dan dunia web pada umumnya bisa mengubah dunia dalam skalanya masing-masing.

Selain para panelis diatas, beruntung pula ajang kopdar kali ini dihadiri blogger ”Indonesia Bersatu” Kusmayanto Kadiman. KK yang datang terlambat ogah disebut sebagai Menristek di ajang ini, ia lebih suka disebut sebagai blogger Kompasiana. Sebagai tanda cintanya pada komunitas ini, KK memberikan hadiah buku terbarunya untuk semua blogger yang hadir. Thanks KK, saya akan review bukunya nanti!

Oya, berkat kopdar ini juga saya akhirnya bisa meralat kesalahan saya selama ini yang menganggap Primora Harahap sebagai seorang lelaki! Hihi…sorry ya sis, untungnya bukan saya saja yang berpendapat demikian.

Disini saya juga akhirnya ketemu pak Prayitno Ramelan yang saya jadikan guru tak langsung. Salut atas energi menulis bapak yang luar biasa. Saya malu untuk yang satu itu, pak Pray lebih produktif dibanding saya! Tapi tenang pak Pray, saya justru terlecut untuk lebih sering menulis berkat bapak juga.

Black Community, saya harus mengucap terima kasih buat kang Pepih dan tim yang sudah mewujudkan kopdar kali ini. Meski baru dihadiri 50-an orang blogger, semoga ini adalah awal kekerabatan kita dalam rumah Kompasiana. Ke depannya, semoga makin banyak lagi penghuni rumah kita ini, sehingga kita selalu dapat berbagi cerita dan inspirasi.

Terakhir, tukeran link blog yuk! Hehehe….