pemilu

Black In News, jujur saat ini saya dalam posisi tak bergairah menyambut pemilu April nanti. Meski kerap menulis seputar politik, bukan berarti saya antusias menghadapai pesta demokrasi 5 tahunan itu.

Ini berbeda dengan kondisi tahun 1999 dan 2004. Saat itu saya dan mungkin jutaan warga Indonesia lain antusias mengikuti proses pemilu. Maklum tahun 1999 kan pemilu pertama setelah tumbangnya era Orde Baru.

Sementara tahun 2004 adalah pemilu presiden pertama yang menggunakan cara pemilihan langsung. Saat itu ekspektasi saya begitu tinggi, ingin menjadi bagian sejarah menentukan pemimpin yang sesuai keinginan.

Lalu seiring waktu bergulir, apakah saya puas dengan pemilu lalu? Puas tidaknya itu relatif, tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Tapi memandang Pemilu tahun ini, mengapa saya tak begitu antusias ya? Bisa jadi disebabkan kinerja DPR kita yang campur baur, sejumlah anggotanya terbelit skandal. Mulai dari korupsi berjamaah yang dialami Al Amin Nasution, Anthony Z.Abidin, Hamka Yandhu, hingga Sarjan Taher  yang baru pekan lalu divonis penjara. Ini belum termasuk beberapa anggota dewan yang lain yang menunggu proses pengadilan. Memalukan ! Ini membuat saya berpikir sekian kali untuk ikut terlibat dalam hajatan ini.

Belum lagi keterlibatan anggota DPR pada skandal seks. Kalau yang ini memang baru sedikit yang terungkap, tapi tetap bikin malu. Saya masih ingat dengan kasus yang menimpa politisi Partai Golkar Yahya Zaini. Akibat skandal seksnya dengan artis Maria Eva, karier politiknya di DPR selesai.

Kekecewaan saya tak hanya itu. Lembaga kepresidenan pun membuat saya masygul. Kadang saya gregetan dengan kinerjanya yang lamban merespon sesuatu, kadang kesal karena BBM dinaikkan, harga sembako melonjak, gas menghilang, dan jumlah pengangguran yang tak juga dapat ditekan. Tapi presiden memang bukan super hero, yang bisa menyelesaikan segala persoalan hanya dalam waktu 5 tahun. Terlalu naif mengharapkan itu terjadi dalam tempo yang singkat.

Memang tidak semua kerja DPR dan Presiden cacat. Tapi, kalau Black Community ada yang bisa memberitahu saya, apa lagi yang membanggakan dari sebuah hajatan pesta demokrasi? Memilih orang yang nantinya menyelewengkan amanah? Jelas menurut saya perbuatan sia-sia. Meski saya juga ogah jadi golput!

*gambar diambil dari sini.