boneka parpol Black In News, Hujan membuat Jakarta dingin. Seharian di rumah membuat malas beraktivitas. Untungnya pas dapat jatah libur. keluar rumah pastinya tak nyaman, dihadang banjir dan genangan air di mana-mana.

Hujan begini mengingatkan saya pada seorang kawan sesama jurnalis. Meski tak ada hubungannya dengan hujan, saya yakin hatinya sempat mendung. Ia kebetulan caleg dari sebuah partai besar. Belum lama ini ia risau, bimbang, dan ingin menyimpan mimpinya sebelum sampai ke senayan. Lho, kok gitu sih, pikir saya?

Ia utarakan beragam hal yang sepertinya mengganjal langkahnya, hingga sempat membuatnya putus asa. Katanya, ia tak punya modal terlalu banyak, tidak disupport partai hingga soal lain yang sifatnya pribadi. Semula saya pikir ia cengeng, lekas menyerah dari keadaan. Seolah kalang sebelum tanding. Padahal saya mengenalnya jauh dari sosok itu. Ia adalah sosok yang berjuang, tak pernah menyerah saat mengejar nara sumber.

Soal pribadi sengaja saya tak masuki lebih dalam, karena toh saya tak bisa membantunya lebih banyak. Biarlah ia menyelesaikan persoalan pribadinya.

Waktu itu saya menyayangkan jika benar ia mundur. Bukan apa-apa, saya punya harapan dengan teman seperti dia yang lumayan punya idealisme. Saya bayangkan senayan akan makin ramai, bukan hanya dengan pamer kecantikan artis saja, tapi juga penuh ide dari orang-orang seperti dia. Sayang sekali kalau hanya masalah dana dan ketidak pedulian parpol harus menghambat langkahnya.

Soal dana, memang tak bisa dipungkiri untuk menjadi caleg butuh dana yang tak main-main. Ada caleg yang menyebut angka 1,4 Milyar rupiah untuk bisa melenggang hingga ke senayan. Tapi banyak pula yang lebih dari itu.

Bayangkan jika dipukul rata 1,4 M per caleg, berapa banyak perputaran uang untuk menjadi caleg? Luar biasa! Terlalu banyak angka nolnya. Membayangkannya pun saya tak mampu.

Dana sebesar itu digunakan untuk beriklan di media, mulai dari media lokal, televisi hingga spanduk dan baliho yang mengotori kota. Belum lagi dana untuk sosialisasi ke konstituen di wilayah pemilihan yang tentunya tidak gratis.

Angka 1,4 M itu sendiri sebenarnya tergolong pas-pasan. Agar iklannya bisa wara-wiri di tv saja jumlah itu pasti kurang. Apalagi untuk bisa tampil berkali-kali hingga pesannya menancap di benak publik. Dana 1,4 M itu tak ada apa-apanya. Tak heran, konon kabarnya Prabowo dengan Gerindranya sampai membenamkan dana 180 M untuk beriklan di berbagai media. Wow!

Besarnya dana untuk ke senayan pada akhirnya membuat caleg yang berkantung tipis, yang hanya mengandalkan promosi seadanya, ciut nyalinya.

Padahal ini era teknologi maju. Mengapa tak memanfaatkan jejaring sosial ala facebook, Multiply atau friendster? Memang ini belum terukur efektivitasnya di negeri ini, karen jumlah pengguna internet di negeri ini belum sebesar di Amerika. Tapi mencoba kan tak dosa, daripada tidak sama sekali.

Memang akan jauh lebih baik jika seseorang terjun ke politik praktis setelah memiliki uang yang cukup. Dengan uang yang cukup diharapkan ia tak tergiur mencari ‘penghasilan’ di dunia politik atau bahasa lainnya korupsi. Dengan uang yang banyak dan jaringan yang luas akan dengan mudah suara didapat.

Atau paling tidak seseorang terjun ke dunia politik setelah karya yang dinikmati banyak orang, sehingga untuk sekedar mendapat suara tinggal mengerahkan jaringan yang dibinanya selama ini.

Dan Black Community, yang tak bisa saya bayangkan setelah mereka terpilih nantinya. Apakah mereka akan ‘balas dendam’ karena telah mengeluarkan banyak rupiah?

*gambar diambil dari sini.