yoyoBlack In News, di perkotaan era permainan tradisional yoyo dan gasing memang sudah lewat. Anak-anak kota banyak yang tak lagi mengenal kedua jenis permainan ini. Mereka lebih familiar dengan aneka permainan elektronis seperti game di komputer atau PS, Wee dan sejenisnya.

Tapi dalam beberapa hari ini nama keduanya banyak disebut media, terutama setelah pidato ketua umum PDIP Megawati Sukarnoputri dalam rakernas PDIP di Solo. Saat itu Mega mengatakan, pemerintah sekarang kerap membuat rakyat seperti permainan Yoyo. Sebentar ditarik ke atas sebentar ke bawah. Pendek kata, Mega menuding pemerintah memainkan nasib rakyat dengan membuat kebijakan yang naik turun.

Merasa dituding, kubu SBY pun bereaksi. Sutan Bathoegena salah satu anggota DPR dari Demokrat berujar, ” Lebih baik jadi yoyo daripada gasing. Karena nggak maju-maju, tetap disitu-situ saja.” Sementara salah satu ketua Demokrat yang juga jubir presiden Andi Mallarangeng berujar, kritik Mega tidak akan laku dijual.

Alasan Andi, dulu tahun 2004 saat Taufik Kiemas suami Mega menuding SBY sebagai jenderal kekanak-kanakan, kritik itu tak mempan, bahkan melambungkan SBY dalam pilpres mengalahkan Mega. Andi menilai, kritik dan sikap Mega kali ini justru kekanak-kanakan.

Entahlah siapa yang benar. Klaim mengklaim sudah jadi bahasa sehari-hari antar politisi. Bagi saya, komunikasi politik semacam ini malah jadi polusi politik. Kontra produktif malah. Saling lempar kritikan malah membuat kinerja siapapun tak maju-maju, baik itu pengkritik maupun lawannya.

Hentikan cara kotor berpolitik macam ini. Popularitas tak bisa menutup mata rakyat. Ingat 2004, kurang populer apa presiden incumbent saat itu, tapi tak dipilih rakyat. Sekarang di 2009, siapapun tak bisa menyangkal popularitas SBY berada diatas angin capres lainnya. Tapi apakah itu berarti dia yang akan kembali memimpin negeri ini? Belum tentu.

Boleh-boleh saja membuat pencitraan diri sedemikian rupa, peduli wong cilik lah, peduli anu, peduli ini. Tapi ingat, saling serang akan malah menjadi bumerang. Akan ada kejenuhan politis di hati rakyat. Dan jika sampai rakyat jenuh, hati-hati… bukan mustahil keduanya tak akan dipilih dalam Pilpres. Bisa jadi justru tokoh lain yang tak pernah kisruh di media, yang bicaranya santun, yang bakal jadi calon alternatif.

Sekali lagiBlack Community, simpan energi untuk BEKERJA. Banyak pe-er di negeri ini yang belum selesai. Buat incumbent, jangan tanggapi kritik kekanak-kanakan. Selesaikan sisa masa bakti  dengan peninggalan yang manis dan dikenang rakyat.

Bagi yang lain, raih simpati rakyat dengan cara yang elegan. Sehingga rakyat mantap memilih anda, bukan yang lain.

*gbr diambil dari sini.