Berebut Citra Lewat IklanBlack In News, iklan politik Megawati (baca PDIP) mengenai kontra keberhasilan SBY pun keluar hari ini. Di harian Kompas, iklan setengah (sepertiga?) halaman itu menyita perhatian saya. Di situ dikatakan, kebijakan penurunan harga BBM bukanlah prestasi pemerintah tapi hasil otomatis turunnya harga minyak dunia.

Disitu dipaparkan pergerakan harga minyak dunia yang dikomparasi dengan kondisi tahun 2004 saat Mega (tentunya) memerintah.

Yang menarik, iklan itu juga mendesak pemerintah mengakui ketidak berhasilannya di empat hal mendasar, mulai dari harga BBM yang masih mahal, sembako tak terjangkau, kesenjangan ekonomi melebar, serta angka kemiskinan yang masih tinggi.

Menurut saya ini iklan yang cerdas. Setidaknya dari sisi pemaparan data. Mega dan PDIP berani bermain angka dan mengkomparasi dengan fakta harga minyak dunia yang makin rendah. Mestinya harga BBm bisa lebih rendah dari sekarang. Karena harga minyak dunia sudah terkoreksi hingga 70 persen dibanding Juli tahun 2008, namun harga BBM baru turun 25 persen saja.

Tapi jangan salah, iklan ini akan menjadi tak berguna jika dalam satu dua bulan ini ada lagi kebijakan menurunkan harga BBM. Karena bangsa kita tergolong ingatannya pendek, enggan mengingat yang lama, lebih merasakan hal yang di depan mata.

Dari sisi strategi sebenarnya iklan ini bisa menjadi mubazir, karena PDIP masuk kedalam issu utama yang dijual partai Demokrat, lawan politik mereka. Petinggi Demokrat pasti ketawa-ketawa, “Nah lho, masuk perangkap!”

Saya juga kurang tahu apa urgensinya membuat iklan saling bantah begini. Mestinya PDIP setia pada issu utama mereka menuntut sembako murah. Issu sembako sendiri belum terlalu ‘meneror’ perhatian publik dibandingkan issu 3 kali harga BBM turun.

Jika PDIP sibuk ngurusi issu partai lain hanya sekedar dianggap populis, saya kira para lawan politik Mega lainnnya juga tidak akan tinggal diam. Mereka akan merancang iklan buruk lainnya yang diarahkan pada Mega.

Hati-hati iklan model begini cenderung kurang produktif. Ingat model kampanye John Mc-Cain dan Sarah Palin saat pilpres Amerika setahun silam. Saat itu keduanya rajin membuat iklan tandingan yang menguliti iklan Obama. Alih-alih mendapat simpati, justru kubu Mc-Cain kerap diserang sebagai tak kreatif, tak punya issu sentral. Simpati malah berlabuh ke kubu Obama.

Black Community, kalau hal terakhir yang didapat, pasti kubu Mega akan berpikir dua kali untuk membuat iklan bantahan semacam ini.

*gambar diambil dari sini.