Black In News, Saya punya mimpi. Anda pasti juga punya mimpi. Tapi mimpi saya tak terlalu muluk, bahkan teramat sederhana malah.

Saya tak ‘berbakat’ bermimpi yang mewah, yang jauh dari jangkauan saya. Aneh ya, padahal mimpi itu gratis dan merupakan ruang kebebasan tiada tara. Tak ada yang bisa mengintervensi mimpi selagi kita belum terjaga.

Harusnya saya berani bermimpi yang muluk. Tapi tidaklah, karena saya menyukai kesederhanaan.

Mimpi itu hanya berupa keinginan melihat semua rakyat Indonesia bisa membaca dan menulis. Itu saja.

Mengapa saya hanya ingin melihat semua warga di negeri ini bisa membaca dan menulis? Karena saya ingin kita bisa maju bersama.

Memiliki kebiasaan yang serupa yakni membaca dan menulis. Karena dengan membaca kita jadi lebih berbudaya, santun dalam berucap dan bertingkah. Sementara dengan menulis, kita jadi mampu menuangkan gagasan lebih terstruktur, rapi dan kongkrit.

Mimpi ini dilandasi keprihatinan makin seringnya saya melihat budaya kekerasan fisik dikedepankan dalam menyelesaikan persoalan. Mengapa harus tarik urat leher kalau ternyata persoalan bisa diselesaikan dengan jalan bicara yang santun? Mengapa harus menyerang sebuah kantor majalah, jika kita hendak memprotes penerbitan majalahnya? Mengapa pula harus menganiaya penganut kepercayaan tertentu hanya karena kita berbeda pendapat?

Dengan gemar membaca dan menulis, warga negeri ini akan lebih produktif. Sebab melahirkan banyak gagasan cemerlang yang sangat dibutuhkan bagi pengembangan dan peningkatan kualitas hidup.

Tak ada lagi pengangguran, karena semua orang punya pekerjaan minimal sebagai penulis. Sharing ide akan jadi kebiasaan sehari-hari yang tidak saja mengasyikkan tapi juga memberi inpsirasi bagi sesama.

Hari-hari kita akan disibukkan dengan aneka kegiatan produktif sehingga kita lupa pada kekerasan, lupa pada perang. Indonesia akan menjadi negeri yang bersemangat, menghargai pendapat, dan menghargai keberagaman. Lebih dari yang ada sekarang.

Apakah mungkin, Black Community? Kenapa tidak.