GolputBlack In News, Mendung sejak pagi menggayut di ibukota. Jalanan sepi ditinggal sebagian warganya lantaran libur panjang. Sebagian lagi tengah merayakan imlek. Aku kembali berada di tengah denyut kantor setelah beberapa hari tergolek sakit.

Banyak yang baru, terutama isu media. Mulai dari bis Kramat Jati yang nyungsep ke jurang dan membuat tewas 6 penumpangnya. Persiapan rakernas PDIP yang mulai ramai, hingga soal fatwa haram rokok. Soal rokok pasti kudukung, semata-mata bukan karena tak merokok. Tapi lebih pada kesehatan.

Tapi ada satu lagi yang bikin aku risau, fatwa haram Golput! Duh, ternyata serius tho. Beberapa saat lalu kegundahan ini sudah saya buat tulisan disini. Tapi saat itu saya menyoroti pernyataan Ketua MPR Hidayat Nurwahid.

Saya nyatakan ketidak setujuan saya pada usulan fatwa tersebut. Pro-kontra pun bersambut. Wajar lah. Saat itu saya pikir usulan itu masih sebatas wacana. Eh di tahun baru ini ternyata mewujud.

Menurut Majelis Ulama Indonesia, menjadi golongan putih (golput) itu haram. Karenanya, umat Islam wajib memilih dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2009. Artinya, karena ada calonnya (presiden dan caleg tentunya), maka harus dipilih. Tak memilih berarti haram. Keputusan ini adalah hasil Ijtima’ Ulama Fatwa ketiga MUI yang digelar di Kabupaten Padang Panjang, Padang, Sumatera Barat.

Para ulama tampaknya tak ingin ada kekosongan kekuasaan jika sampai tak ada pemimpin yang dipilih. Waduh, segitu gawatnya kah? Apa benar angka partisipasi politik kita benar-benar rendah?

Black Community, bingung juga harus menyikapi persoalan ini, karena ternyata sudah menjadi ketetapan para ulama. Tampaknya baru kali ini dalam sejarah republik, pemilu mengikut sertakan campur tangan ulama.

Begitu burukkah sosialisasi yang dilakukan KPU sehingga harus melibatkan pihak lain untuk menghimbau datang ke TPS? Lebih penting dari itu, ini merupakan upaya mewajibkan sebuah hak? Bukankah Pemilu itu adalah hak warga negara?