Malam merambat perlahan. Sepi, anak-anak sudah tidur sejak jam 9. Ibunya baru saja menyusul setelah surfing di internet.

Pikiranku masih saja melayang ke banyak hal. Mulai dari terbakarnya depo pertamina plumpang, banjir yang gak kelar-kelar, sampai iklan SBY yang rajin wara-wiri di televisi.

Untuk Plumpang, masih tak habis pikir sebuah depo yang menyuplai kebutuhan BBM cukup besar di negeri ini terbakar. Memang, tak ada yang tak mungkin. Seribu teori pun bermunculan. Mulai dari kecelakaan murni hingga sabotase.

Sabotase? Edun euy, kalau benar yang ini. Apa ini terkait terus diturunkannya harga BBM oleh pemerintah? Hmm, who knows?? Terlalu mahal lah ongkosnya.

Tapi yang paling menggelikan ya itu iklan partainya SBY, Demokrat. Simak aja tag iklannya, “Terima kasih pak SBY yang sudah menurunkan harga BBM 3 kali”. Yuk mari….

Memang benar harga BBM sudah terkoreksi 3 kali sejak Desember 2008 dan itu diturunkan dimasa pemerintahannya SBY. Itu fakta yang tak bisa dibantah.

Tapi tahukah anda, sebenarnya harga BBM semula bakal diturunkan langsung 2 ribu rupiah dari harga 6 ribu. Mbak Ani selaku menteri keuangan sudah menghitung besaran itu aman bagi perekonomian nasional. Dan kalau itu yang terjadi, akan ada tepuk tangan membahana bagi SBY karena baru pertama kali langsung menurunkan harga BBM sebanyak itu.

Tapi rupanya SBY dan timnya tak setuju dengan skema itu. Kalau sekali turun kan simpati yang mengalir cuma sekali juga, coba kalau berkali-kali…nuikmate poll!!

Maka dibuatlah kebijakan ‘seolah-olah’ turun tiga kali mulai dari 1 Desember 2008, 15 Desember 2008, dan terakhir 15 Januari 2009. Dugaan saya pasti banyak warga yang terkaget-kaget dengan langkah ini. Hah turun gopek, eh turun lagi gopek, lho kok turun lagi!

Saat penurunan yang diikuti dengan aneka kesulitan mencari pasokan BBM, saya sudah merasa ,”Ini pasti dipakai buat bahan kampanye!”.

Benar saja, baru beberapa hari kebijakan ketiga digulirkan, iklan partai Demokrat serentak muncul di mana-mana. Di tv, koran, radio hingga internet. Di koran, iklannya menohok satu halaman. Sementara di Tv nyaris di semua acara prime time iklan ini pasti muncul. Wow, cepat sekali ya iklan tadi muncul?

Iklan itu jelas tak dibuat asal-asalan, sudah direncanakan jauh-jauh hari. Lihat saja pemilihan tag iklannya yang sangat up to date. Belum lagi pemilihan talent atau bintang iklannya, pasti gak gampang mencari talent secepat itu.

Konseptor iklan mungkin tak membayangkan bahwa penikmat iklan politik itu juga kaum terpelajar. Dikiranya orang kecil seperti saya tak mengerti proses pembuatan karya iklan. Pastinya penggodokan iklan itu memerlukan riset mendalam, pembuatan copy iklan yang pas dan mengena sehingga bisa sampai ke audience dengan tepat.

Kita tak bodoh untuk memahami. Untuk membuat satu iklan macam itu juga butuh kerja kreatif yang tak mudah, njelimet kata orang Jawa, mulai dari pengambilan gambar, pemilihan gambar, editing, dubbing hingga pasca produksi. Semuanya pasti butuh waktu!

Jadi sangat mustahil iklan itu dibuat dalam waktu mepet setelah keluarnya kebijakan ketiga penurunan harga BBM atau pasca tanggal 15 januari 2009. Jadi sesungguhnya sudah lama kebijakan penurunan itu dikonsep menjadi beberapa kali. Bahkan setelah iklan ini keluar pun kabarnya bakal ada kebijakan jilid empat.

Benarkah itu? Siapa tahu… Yuk kita tunggu!