gaza3Belakangan ini menjadi hari-hari yang berat buat saya. Sulit sekali berkonsentrasi menuliskan setitik pemikiran dalam deret kalimat di blog. Blank! Sejak Israel menggempur Gaza mata ini tak pernah putus melihat drama memilukan yang disajikan Israel.

Kota yang porak poranda, api membara, darah dan air mata mengalir tanpa henti, nyawa yang tak ada harganya lagi. Ini pertunjukan paling edan yang pernah disajikan secara gamblang ke hadapan kita semua. Pertunjukan kelas tinggi tentang kebiadaban sebuah bangsa pada bangsa lain, dan itu tersaji langsung ke bilik-bilik rumah kita.

Jangan bayangkan pertunjukan itu bak sinetron penuh adegan kekerasan yang kerap tayang di indosiar. Jangan bayangkan pula adegan berdarah-darahnya, saya jamin melebihi berita kriminal yang disajikan televisi lokal!

Tak ada satupun televisi yang memotong gambar-gambar berdarah dengan guntingan edit, tak ada bluring wajah korban, bahkan …ah..sulit menyatakannya lagi dengan kata-kata.

Terlalu menyeramkan untuk dideskripsikan.

Perang dalam skala apapun adalah tindak kekerasan. Jika sedikit adegan kekerasan di televisi saja membuat marah banyak orang, saya kira adegan perang di Gaza pun melebihi apa yang kita deskripsikan bersama sebagai kekerasan.

Ini adalah kejahatan kemanusiaan. Bagaimana tak bisa dibilang demikian, jika perang yang seharusnya saling berbalasan karena suatu hal, ini tak ada. Israel dengan kecanggihan persenjataannya seperti membuat gaza sebagai uji coba senjata. Tak dibiarkan sedetik pun Palestina (Hamas) untuk membalas secara setimpal. Karena memang tidak akan pernah setimpal.

Hamas tak memiliki persenjataan sehebat Israel. Hamas juga tak punya nuklir atau senjata fosfor. Kalau harus dihitung, jumlah hamas dan pengikutnya tak akan masuk akal. Tapi lihatlah militer Israel begitu jumawanya memerangi Hamas, yang selalu dikatakan sebagai teroris.

Melihat pertempuran yang tak sepadan, wajarlah kalau saya bertanya, logika bodoh macam apa yang digunakan Israel memerangi Hamas? Setelah dengan berbagai cara menjungkalkan pemerintahan yang sah hasil pemilu tak sepenuhnya berhasil, israel gunakan cara kekerasan yang masif.

Jika melihat seberapa parah kerusakan, perang di Gaza bisa dikatakan dimenangkan oleh israel. Tapi dilihat dari kacamata moral, perang ini menunjukkan siapa sesungguhnya yang teroris. Dari seribu warga Palestina yang tewas, 400 diantaranya adalah anak-anak! Ini adalah bukti betapa yang terjadi di Gaza bukanlah perang, tapi agresi dengan akhir (lagi-lagi) pendudukan wilayah Palestina.

Wahai PBB yang jadi macan ompong, apa yang bisa kau lakukan?

Wahai para peraih nobel perdamaian, mana prakarsa anda?

Jika ada yang bertanya kenapa harus dukung Palestina? jawabannya akan panjang lebar. Dan bukti yang ditunjukkan oleh berita televisi sudah bicara terlalu banyak. Lupakan sejenak soal pertentangan agama, tapi lihatlah dalam konteks kemanusiaan.

Mengapa kita justru gamang menyikapi persoalan kemanusiaan macam ini? Bahkan di Kompasiana ada yang menyayangkan mengapa kita begitu gegap gempitanya mendukung Palestina yang jauh di sana. Kenapa tak melihat saudara-saudara kita yang kesusahan, seperti korban lapindo, gempa, atau yang lainnya.

Tanpa mengurangi hormat dan perhatian kita atas nasib saudara kita yang dekat, apa yang terjadi dan dialami saudara kita di Palestina jauh lebih dahsyat. Korban Lapindo masih bisa mengungsi, makan, hidup dan dapat bantuan uang.

Sementara warga Palestina, jangankan mikir makan, hidup saja sudah untung. Bagi mereka hidup dan mati tak bisa dijadikan pilihan lagi, tapi sudah takdir.

Hari ini mungkin mereka selamat dari serangan pasukan israel, tapi siapa tahu dengan nasib mereka esok? Semoga tak ada yang sia-sia dari kematian lebih dari seribu warga Palestina, demi mempertahankan harga diri dan martabat tanah kelahiran dan negaranya.

Ingat tak ada satupun penjajah di dunia ini yang abadi!!