Jakarta sendu. Hujan turun sejak pagi. Lumayan pagi tadi udah ikut kehujanan saat mengantar anak-anak ke sekolah. No problem, sudah cukup lama tubuh tak bersentuhan dengan butiran hujan.

Namun hujan tak menghapus kepedihan keluarga korban KM Teratai Prima yang tenggelam di Majene Sulawesi Barat, minggu dinihari. Hingga hari ini baru 35 orang yang ditemukan dari total 267 orang –17 diantaranya ABK. Dari jumlah itu, dua diantaranya tewas, lainnya entah, raib.

Pencarian korbannya terkendala cuaca buruk.

Duh! Pembuka tahun kok lagi-lagi diwarnai musibah. Mirip dengan tahun 2008 lalu. Awal tahun juga, di tempat serupa. Kalau dulu pesawat Adam Air kini kapal motor. Jika Adam akhirnya lenyap tak berbekas, Teratai masih bagusan, beberapa penumpangnya selamat.

Mengapa kecelakaan transportasi begitu mudah terjadi di negeri ini? Adakah kita terlalu memandang sepele aspek keselamatan? Saat Adam Air, kita sama-sama tahu maskapai berbujet rendah ini kerap abai soal yang satu itu. Alhasil sepanjang sejarah maskapai itu sering kecelakaan.

Sementara Teratai, kabarnya awak kapal sudah diperingatkan agar tidak menembus cuaca buruk yang terjadi di perairan pare pare.

Kita memang tak pernah tahu ada apa di rentang depan usia kita. Kita juga tak pernah mahfum Rahasia Illahi. Kalau para penumpang tahu bakal meregang nyawa di Teratai, saya hakul yakin mereka tak satupun berangkat. Tapi bukan berarti kita bodoh.

Membaca prediksi cuaca harusnya dibiasakan di negeri ini. Karena cuaca yang kerap berubah menuntut kesiapan manusia untuk menyikapinya. Tuntutan ini saya kira bukan hanya bagi penumpang, tapi juga awak kapal. Mestinya mereka lebih sensitif dengan cuaca dan bisa berhitung sebelum mengemudikan kapalnya.

Saya heran di negeri ini tak banyak warga yang cakap membaca prediksi cuaca. Padahal ini penting sebagai panduan aktivitas sehari-hari.

Media pun masih bisa dihitung dengan jari yang secara reguler memberitakan informasi cuaca. Apalagi di televisi. Hanya satu dua stasiun yang mau melengkapi informasinya dengan prediksi cuaca.

Di negara maju seperti Amerika, info cuaca menjadi panduan warga sebelum beraktivitas. Jika cuaca buruk, mayoritas warga akan memilih tidak bepergian hingga cuaca normal kembali.

Kita memang tak pernah tahu ada apa lagi di depan sana, tapi bersiaga menghadapi kemungkinan saya kira tak ada salahnya. Sudahkah kita bersiaga?