Dear pembunuh Munir,

Apa kabar bung? Tentunya anda masih sehat wal afiat kan? Pastinya anda tengah tersenyum melihat reaksi publik pasca bebasnya pak Muhdi sebagai aktor pembunuh cak Munir.

Bung, anda yakin lolos dari jerat hukum? Saya kok melihatnya tidak. Tidak di dunia, anda bisa menghadapinya di akherat sana. Kalau di dunia, dengan kekuatan dan uang anda, ada jutaan pengacara handal siap memback-up anda.

Tapi jangan bayangkan nanti di alam ‘sana’, tak ada pengacara satupun yang bisa menjangkau anda. Amal perbuatan andalah yang akan menjadi pengacara anda di hadapan Allah. Jika ternyata kebaikan lebih berat, lolos lah anda ke surga. Tapi sebaliknya, jika tangan anda berlumur dosa, neraka menganga untuk anda.

Semoga anda masih punya jiwa.

Di awal Januari ini, saya merenung. Apa yang salah di republik ini?

Mengapa kita gemar bersandiwara? Mengatakan tidak pada sesuatu yang benar, dan membenarkan sesuatu yang sebenarnya tidak!

Jika dalangnya tak terungkap, lalu siapa dong pembunuh cak Munir? Apa cak Munir membunuh dirinya sendiri demi mencari sensasi? Saya yakin itu bukan jalan hidup Cak Munir.

Pernahkah anda berfikir kematian Munir bukan hanya disesalkan aktifis HAM, tapi juga keluarganya. Pernahkah membayangkan istri dan anak-2 Munir hidup dalam luka yang dalam dan sulit disembuhkan?

Saya kok teramat yakin, anda masih punya nurani. Mengaku dan dihukum adalah jauh lebih baik, meski saya yakin itu sulit.