sby pusing....Marah lagi…lagi-lagi marah!

Pak Beye hari Jum’at kembali marah. Kalau yang pertama marahnya ditujukan ke keluarga Bakrie yang tak becus menuntaskan kasus lapindo. Nirwan sang CEO Lapindo Brantas hanya bisa terdiam di kursinya saat pak Beye marah.

Pak Beye pantas marah pada Nirwan, karena adik orang terkaya nomor satu di indonesia itu seperti memain-mainkan nasib orang banyak, para korban lapindo. Deadline sudah dibuat 1 Desember untuk pembayaran sisa ganti rugi, tapi mereka bandel. Kondisi keuangan perusahaan yang lagi menurun akibat krisis global dijadikan tameng untuk berlindung.

Kalau marah yang kemarin, dikarenakan pak Beye yang hendak memimpin rapat terbatas, merasa terganggu dengan suara bising di depan istana. Gimana tak bising kalau di depan istana ratusan orang sedang berunjuk rasa. Selain teriakan massa, secara spartan pengunjuk rasa juga berorasi dengan pengeras suara yang cukup kencang. Alhasil, pak Beye yang hendak memulai rapat jadi terganggu.

Tambah unik saat pak Beye minta kapolri yang baru bertugas beberapa minggu untuk keluar ruangan dan meminta demo bubar. Dan kapolri pun akhirnya keluar ruangan.

Pak Beye yang terhormat, kok belakangan jadi kerap marah ya? Ada apa sih pak? Saya mengerti tugas negara memang berat, beban anda pun begitu banyak, banyak masalah yang belum selesai, apalagi sebentar lagi pemilu pula.

Duh, kebayang pusing nya!!

Tapi marah di depan umum apa elok pak?

Sesekali marah it’s ok. Tapi kalau tiap minggu marah dan disiarkan media, saya kok melihatnya tidak pas. Lama-lama wibawa bapak bisa luntur karena kerap marah.

Saya hakul yakin, kemarahan itu akan kontra-produktif. Kemarahan yang bapak tunjukkan bakal dijadikan alat bagi lawan politik untuk menyerang pribadi pak Beye.

Marah memang manusiawi. Dan marah juga menunjukkan pak Beye itu manusia biasa. Bisa marah, khilaf, hingga tak kontrol emosi. Mungkin pak Beye tak sadar jika di ruang rapat ada media yang sedang mengambil gambar, sehingga hanya dalam hitungan detik kemarahan pak Beye tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Hati-hati lho, pak, kemarahan itu malah bisa menggelincirkan. Alih-alih dapat simpati, eh malah jadi bumerang. Padahal banyak yang kesengsem dengan gebrakan say no to korupsi-nya.

Jangan sampai simpati itu menguap, dan publik berubah mengatakan “TIDAK” pada pak Beye, kebalikan dari iklan politik itu.

Atau saya yang salah? Jangan-jangan pak Beye marah dengan sadar. Artinya, sadar akan kekuatan media, sehingga perlu mengemas sebuah komunikasi marah ?

Bisa jadi tujuannya untuk memperlihatkan bahwa pak Beye tak lembek, peragu, seperti yang kerap ditudingkan sementara kalangan.

Wah, kalau itu yang bener, berarti media ditunggangi dong!

Ah, masa iya sih?

*gbr diambil dari sini.