tv, kotak ajaibSeorang kawan yang sudah malang melintang belasan tahun sebagai jurnalis di sejumlah tv, pernah bersyukur tak lagi bekerja di stasiun tv gratisan (free air tv). Semula saya kaget, kok bisa?

Rupanya selama bekerja di sejumlah stasiun tv, ia dipusingkan dengan perkara rating – share acara berita yang digawanginya. Tiap pertengahan minggu ia harus memelototi hasil perhitungan rating-share yang dikeluarkan lembaga perating AC-Nielsen (dulu SRI, Survey Researh Indonesia).

Jika kinerja program bagus, tentu ia akan selamat dari ‘pembantaian’ di ruang rapat. Kondisi sebaliknya akan terjadi, manakala program yang disupervisi-nya gatot alias gagal total meraih capaian rating dan share tertinggi.

Mengapa rating dan share bagi televisi begitu menakutkan? Bahkan ada yang beranggapan, rating ibarat ‘agama’ kedua kru tv. Hidup matinya karier di televisi sangat bergantung dengan capaian rating dan share programnya. Makin tinggi rating dan share, berarti makin populer acara tersebut. Dan ujung-ujungnya, capaian jumlah penonton akan berbanding lurus dengan pemasukan iklan. Makin banyak iklan, makin moncer lah pundi-pundi tv, artinya usia harapan hidup orang banyak di industri ini akan terselamatkan.

Jika sebelumnya rating hanya keluar satu pekan sekali, belakangan hal itu berubah. Kini lembaga rating mengeluarkan laporan per hari. Artinya, kinerja sebuah acara bisa dipantau terus hari per hari.

Konsekuensinya, pihak stasiun tv pun mengubah strategi bisnisnya. Acara yang performanya buruk bakal langsung ‘ditendang’ setelah melewati episode tertentu. Semula, uji coba sebuah program (biasanya) mencapai 13 episode. Programming tv akan melihat pergerakan program dalam jangka waktu tersebut. Kini dengan pola perating-an yang baru, sebuah program bisa ‘ditendang’ jika tak ‘perform’ di sekian episode awal.

Kejam! Memang. Ini industri bung, begitu kira-kira dalih para punggawa stasiun tv.

Lantaran laporan rating per hari, acara yang disuguhkan stasiun tv pun kini makin terlihat seragam. Apa yang eksis di stasiun A akan dicontek habis stasiun B. Pengelola stasiun tv mengeroyok benak pemirsa dengan suguhan yang disuka pemirsa tv tetangga, dengan harapan kebagian lezatnya kue iklan.

Akibatnya, sinetron genre remaja yang semula hanya didapati di stasiun tertentu, kini bisa dinikmati di semua stasiun. Begitu pula dengan reality show yang mengumbar privasi orang ala Termehek-mehek yang kini nyaris ada di semua stasiun tv.

Differensiasi program benar-benar tak ada! Pemirsa benar-benar tak diberikan alternatif. Pilihan hanya pada jam tayang yang berbeda, namun secara isi sarua wae!!

Kemudian kabar baik datang dari yayasan SET bersama IJTI, TIFA, dan jaringan masyarakat pemerhati tv, yang mengusung rating publik. Mereka membuat penilaian atas tayangan tv kita, bukan dari sisi rating atau jumlah penonton, tapi berdasarkan bobot isi sebuah program. Bukan kuantitatif tapi lebih pada kualitas tayangan.

Sebagai penggiat tv, saya menyambut baik upaya perubahan tayangan tv dengan cara seperti ini. Sudah saatnya ada perlawanan rating yang selama ini seolah dimonopoli oleh AC Nielsen. Publik berhak mendapat pencerahan atas tayangan tv.

Kembalikan media televisi sebagai alat komunikasi pembelajaran, yang berkualitas, memiliki nilai dan jauh dari kekerasan.

Kalau ada yang mempertanyakan sejauh mana ukuran kualitas, kita kembalikan ke publik pemirsa. Apakah mau terus-menerus disuguhi sinetron yang tak masuk akal, penuh adegan sadis atau tangisan terus menerus?

Saya yakin dan percaya, sebuah sajian acara berkualitas akan dihampiri rating dan share yang bagus. Tengok saja program sinetron garapan Deddy Mizwar, sukses secara komersial, namun secara kualitas tayangan itu lumayan.

Atau contoh lain program Kick Andy yang pekan lalu ditetapkan sebagai program tv berkualitas oleh rating publik. Bila anda pernah menyaksikannya, pasti setuju, program ini inspiratif.

Jadi, jangan nonton acara tv yang buruk!!

*gbr diambil dari sini.