Pom bensinHarga minyak dunia hari sabtu ini kembali turun ke tataran 40 dolar amerika per barel. Ini merupakan kisaran harga terendah sejak 4 tahun  terakhir. Harga minyak yang sempat membuat cemas saat melewati 100 dolar per barel, memang belakangan berakrobat dan terjun bebas perlahan-lahan. Penyebabnya adalah depresi ekonomi yang belakangan dirasakan semua sektor ekonomi.

Kabar baiknya, kemarin pak beye sudah woro-woro, pemerintah bakal menurunkan lagi harga premium. Saat ini pemerintah tengah mengkaji besaran persentase penurunan dan membuat antisipasi dampak yang ditimbulkan jika harga premium kembali diturunkan.

Apapun itu, saya dan mungkin anda pastinya ‘agak’ lega dengan kabar ini. ‘Agak’ lega karena kita baru sekali menurunkan harga selama harga minyak dunia terjun bebas dalam beberapa bulan terakhir. Sementara tetangga sebelah, Malaysia, sudah 7 kali mengkoreksi harga BBM nya dalam jangka waktu yang sama.

Mengapa kesannya kita ‘pelit’ soal penurunan harga premium? Bisa jadi ini disebabkan banyak faktor. Salah satunya, di sini berkembang budaya anti penurunan. Segala sesuatu yang sudah naik pantang diturunkan.

Lihat saja kekisruhan pasca penurunan harga premium pekan ini. Di banyak daerah premium langka, SPBU kewalahan menerima komplain warga. Setelah diselidiki ternyata penyebabnya adalah permainan di tingkat pengusaha SPBU.

Karena takut rugi besar akibat turunnya harga premium, SPBU memilih tidak mengorder premium sebelum 1 Desember. Mereka hanya menghabiskan stok yang ada, dan memilih tutup saat stok habis, sebab pengiriman baru akan datang paling cepat satu pekan setelah harga baru diterapkan.

Yang merana, lagi-lagi ya rakyat kecil.

Karenanya, saya berharap kabar premium mau turun harga lagi bukan isapan jempol. Dan (lagi-lagi) saya berharap pemerintah sudah lebih jago melakukan antisipasi jika ada kekisruhan. Jangan sampai kembali rakyat yang dikorbankan.

*gbr diambil dari sini.