teroris mumbaiSejak awal kompasiana memang bukan ajang untuk saling kutuk. Tapi khusus yang satu ini, saya kira semua pembaca pasti sepakat untuk mengutuknya.

Dalam tiga hari terakhir dunia kembali disuguhkan drama berdarah dari Mumbai, India. Tak ada Shahruk Khan disana, tak ada tarian Bollywood yang menawan. Yang kudengar hanya suara ketakutan, tembakan, ledakan, dan kabar menyedihkan jatuhnya korban lebih dari 150 orang tewas dan ratusan lain luka-luka.

Sejumlah gerilyawan berusia muda membuat kekacauan terencana di kota Mumbai yang dikenal sangat tenang, setidaknya dibanding kota di India lain yang penuh gejolak. Meski berusia muda, namun gerilyawan itu sangat paham situasi dan semua aksinya dilakukan dengan perencanaan matang.

Bayangkan, mereka beraksi di lokasi-lokasi penting seperti hotel Taj dan Oberoi, kafe Leopold, rumah sakit, stasiun kereta, hingga markas besar polisi.  Mustahil jika tanpa perencanaan, aksi ini bisa melenggang begitu saja.

India memang kecolongan! Selama ini pusat konflik di India justru berada di wilayah Kashmir, yang menjadi wilayah sengketa dengan negara tetangganya, Pakistan. Para teroris sudah memperkirakan aparat keamanan dalam kota Mumbai sangat longgar, sehingga mereka leluasa masuk ke jantung kota.

Saya ngeri membayangkan jika itu terjadi di Indonesia yang pengamanannya masih lemah.

Meski miris melihat tv yang terus menerus menayangkan serangan di Mumbai. Tapi saya cukup bersyukur karena 5 warga Indonesia asal Bali yang bekerja di hotel Oberoi semuanya selamat. Padahal serangan ini belum juga usai. Hingga sabtu dinihari waktu indonesia, sesekali masih ada ledakan besar terdengar dari hotel Taj.

Mengapa teroris seperti tak pernah berhenti? Jawabannya sederhana, ada pihak-pihak yang diuntungkan dibalik kekacauan ini. Pihak-pihak ini merasa misinya berhasil dengan menebarkan ketakutan di masyarakat.

Yang saya sayangkan, mengapa kegiatan teror sejenis ini selalu dikaitkan dengan organisasi muslim? Semudah itukah aparat keamanan percaya/ mempercayai? Padahal segala kemungkinan bisa terjadi. Bisa saja informasi itu aspal, bisa saja ada pihak lain yang bermain dan memanfaatkan situasi. Atau bisa jadi ini taktik intelijen untuk mengalihkan  perhatian publik.

Semua mungkin dan kita hanya menunggu, kemana arah serangan Mumbai ini mengalir. Yang pasti, tak ada salahnya kita berdo’a bagi para korban sipil tak berdosa.

*ada di sini juga.