imam samudera, anggota trio bali bomber
imam samudera, anggota trio bali bomber

Hiruk pikuk eksekusi trio Bali Bomber Amrozy, Imam Samudera dan Muklas usai. Pro-kontra mengenai cara hukuman matipun surut seturut dimakamkannya 3 terpidana mati kasus bom Bali. Tapi ada yang tertinggal, liputan media elektronika yang begitu heboh mengenai eksekusi ini, menyisakan banyak tanya bagi saya.

Sebagai praktisi media, sempat terpikir apa begitu hebatnyakah eksekusi ini, sehingga perlu dibuatkan liputan-liputan eksklusif panjang lebar? Sekedar mengejar rating? Tak elok lah kalau ini dijadikan alasan. Celaka sekali kita masuk dalam tirani rating. Demi periuk nasi menghalalkan cara.

Kasus Bom Bali satu memang memiliki magnitude yang luar biasa bagi Indonesia. Tidak hanya dari jumlah korban yang lebih dari 200 orang tewas, tapi juga membuka mata dunia ternyata negeri yang dulu aman tentram itu masuk dalam lingkaran aksi terorisme. Suatu hal yang tak pernah terbayangkan oleh sebagian kita sebelumnya.

Kalau alasannya itu, okelah eksekusi ini dijadikan ‘barang dagangan’. Tapi coba tengok apa yang terjadi kemudian. Beberapa media tv kebablasan. Alih-alih merekam peristiwa bersejarah eksekusi 3 teroris itu, eh ternyata beberapa media malah menjadikan ketiga teroris itu sebagai ‘pahlawan’. Segala hal dikulik dari A sampai Z. Bahkan keluarga pun diburu laksana selebritis. Duh, kok gini ya?.

Bahkan yang membuat geli, ada media yang ikut-ikut menyebut Amrozy sebagai mujahid, persis seperti agenda yang disuarakan salah satu kelompok massa. Hmm…

Larut dalam obyek liputan mestinya bisa dihindari media, karena media (harusnya) tidak berpihak pada isu tertentu. Karena keberpihakan media adalah pada kebenaran dan nasib orang banyak.

Sekedar ambil contoh, pemberitaan media Malaysia tak terjebak pada euphoria saat teroris asal Malaysia, doktor Azahari ditembak polisi Indonesia di Batu Malang. Padahal potensi untuk itu sangat besar. Alasan patriotisme melayu bisa saja ditiupkan. Tapi tidak dilakukan, karena media sana sadar yang dilakukan Azahari adalah kegiatan terorisme yang membahayakan kehidupan orang banyak.

Apakah media yang berpihak dalam kasus Amrozy cs tidak melihat begitu banyak pihak yang tersakiti, kehilangan keluarga, hingga cacat tubuh seumur hidup akibat Bom Bali?

Kemanusiaan kita diuji. Simpati macam apa yang harus diberikan pada teroris yang sudah mengakui kejahatannya di pengadilan, ditetapkan semua lembaga hukum negara bersalah telah melakukan pengeboman yang mengakibatkan kematian banyak orang?

Saya khawatir jika etos kerja macam ini yang digelorakan, media kita akan banyak yang terjebak sebagai pendukung “kepentingan tertentu”. Apalagi pemilu segera hadir.