si mbot
si mbot

Dunia per-Blog-an memang dahsyat. Selalu memunculkan kejutan-kejutan tak terduga. Bakat-bakat baru dalam bidang tulis-menulis bermunculan bak cendawan di musim hujan.

Jika dulu menulis secara massal seolah hanya milik jurnalis, kini sejak era blog mewabah, siapapun bisa menulis apapun. Dampaknya pun tak kalah dari tulisan di media mainstream. Bahkan bisa lebih heboh. Sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Tulisan seorang blogger pun kini tak berhenti di dunia maya. Karena belakangan isi blog yang semula merupakan karya personal, banyak dilirik penerbit untuk dibuatkan versi buku. Raditya Dika sudah memulainya sejak lama dengan Kambing Jantannya. Fenomena itu berlanjut hingga kini.

Dan yang terkini -meski pasti bukan yang terakhir, adalah buku Ocehan si Mbot. Buku terbitan Gramedia ini awalnya adalah tulisan Agung Nugroho yang tersimpan manis di multiply dot com-jejaring sosial dunia maya. Blog Agung sendiri sudah lumayan kondang (http://www.mbot.multiply.com), terutama sejak dia mempopulerkan istilah pengokot, sebutan resmi buat stapler. Sejak itu, Agung memiliki fans fanatik tulisan-tulisannya.

Gramedia dengan cerdik berhasil merayu Agung untuk membukukan karyanya. Mungkin Gramedia punya asumsi awal, paling tidak buku ini bakal dibaca fans fanatik Agung di dunia maya. Tidak salah memang, meski tidak sepenuhnya benar. Karena ternyata buku ini dibaca begitu banyak orang dan diresensi banyak kalangan. Bahkan di Multiply, belum pernah ada blog-book yang bikin heboh seperti ini. Blog-book ini sekedar istilah untuk blog yang dibukukan.

Apa yang membuat buku ini membuat jagat blog begitu ramainya? Padahal dari sisi isi bertema sederhana, ringan dan sarat banyolan kantoran. Buku ini memang bukan buku yang most powerfull layaknya Laskar Pelangi. Kalau penting-tidaknya sebuah buku dinilai dari tema besar macam sosial-politik-ekonomi, buku ini jauh dari itu.

Tapi buku ini menjadi penting- setidaknya menurut saya, karena beberapa hal. Pertama, buku ini menerobos banyak sekat sehingga begitu ‘ramai’ diulas di dunia maya. Penulisnya mengajak para pekerja kantoran untuk menertawakan diri sendiri, sesuatu yang mulai sulit dilakukan di tengah ketatnya ritme kerja di kantor.

Kedua, temanya sangat tidak umum. Karena biasanya buku yang laris di pasaran tidak jauh dari tema cinta. Contohnya Ayat-ayat Cinta atau Laskar Pelangi. Keduanya menjual cinta dalam tataran berbeda.

Ketiga, penulisnya sadar akan networking dunia maya. Karena sudah punya ‘penggemar’, ia manfaatkan jaringan itu untuk memasarkan dan mengulas bukunya. Uniknya banyak yang dengan sukarela melakukan itu. Baru sebulan, ternyata 42 ulasan muncul di berbagai blog, koran, dan situs internet. Belum lagi penulisnya juga tampil di radio, talk show pameran buku hingga (rencananya) tampil di tv. Wow, sebuah pencapaian yang luar biasa untuk seorang pendatang baru dalam dunia tulis menulis.

Apalagi si penulisnya pun sebelum ini nyaris tak dikenal. Dia bukan seleb atau politisi yang dengan sengaja memiliki blog demi ‘memelihara’ popularitas. Agung adalah lelaki sedikit tambun, pekerja kantoran biasa yang kebetulan senang menulis, humoris dan tidak berkumis. Dia juga punya sedikit kepandaian mendesain blognya hingga tampilannya terlihat eye catch, beda dengan yang lain. Agung berlatar belakang psikologi, maka tak heran di buku ini bersliweran istilah psikologi yang tak semua orang paham. Namun berkat multi latar seperti itu dan kepiawaiannya merangkai kata, tulisan agung jadi mengalir jernih, menyentil dan membuat bahagia pembacanya (?).

Karenanya tak heran, 42 ulasan di berbagai media bagi debutan penulis buku seperti Agung, adalah pencapaian yang tidak main-main. Kuncinya adalah marketing.

Memasarkan buku saat ini memang sudah tidak jaman hanya dengan cara memajangnya di rak toko buku saja. Selain berpotensi salah taruh, buku bergenre humor diletakkan di buku impor atau buku masak-memasak. Memajang di rak buku juga paling-paling hanya membuat buku itu makin lecek.

Cara yang dilakukan Agung bisa jadi bakal jadi genre marketing gaya baru. Agung tak berdiam diri dan tak kegirangan begitu bukunya terbit. Ia menyambangi pembaca potensialnya dengan promosi di blognya dan blog istrinya. Keduanya aktif berpromo, sang suami mempromosikan buku sambil promo toko kue virtual istrinya. Sementara sang istri sambil sibuk berjualan juga mempromosikan buku sang suami. Samen worken yang manis!

Untuk orang-orang terdekatnya, ia minta membaca dulu sebelum buku dilaunching di toko. Alhasil, beberapa resensi sudah wira-wiri di jagat maya, jauh sebelum buku fisiknya terbit.

Bagi pembeli buku sebelum terbit ia juga memberi diskon khusus plus bonus tanda tangan, coretan kartun si-mbot langsung di bukunya. Bahkan bagi yang membeli di rumahnya, kalau beruntung bisa mendapat gratisan kue risol kribo -dagangan istrinya-yang kondang itu.

Apa yang dilakukan Agung adalah cara baru dalam marketing buku. Jadi tak perlu sebar duit seperti dilakukan Tung Desem Waringin saat meluncurkan bukunya beberapa waktu lalu. Cukup buka laptop, mainkan jejaring maya, plus kreativitas, maka jadilah ia buku laris.