AAA
Diujung usia

27 januari 2008 suharto, mantan presiden itu berpulang. banyak yang meratapi, banyak pula yang mencaci. dua kubu yang sama sahnya menjadi penilai atas orang kuat ini.

32 tahun memerintah bukan waktu yang sedikit. suka tak suka dia adalah peletak dasar pembangunan negeri ini, dari kondisi yang terbelakang menjadi sedikit naik kelas.

sayang di ujung usia pemerintahannya, korupsi membabi buta. logika memerintahnya pun tak karuan. parlemen diisi kroni-kroninya, mulai dari anak-bapak-ibu jadi anggota parlemen. belum lagi anaknya dijadikan menteri sosial. bisa jadi pengangkatan anaknya ini adalah blunder bagi hms.

namun disisi lain ini menjadi bukti bahwa legitimasi hms sebagai presiden waktu itu makin tipis, sehingga ia tak punya pendukung lagi, selain orang terdekatnya, yakni keluarga.

sekarang saat ia telah berpulang, banyak yang kehilangan. mereka yang kehilangan membanding-bandingkan ‘nikmatnya’ jaman suharto dibandingkan sekarang. harga-harga yang stabil, tak pernah ada kerusuhan. pokoknya saat itu hidup begitu nyaman di indo.

siapa bilang? memang untuk wong cilik tidak begitu terasa. tapi kita tak boleh lupa, hms lah yang memberangus kehidupan intelektual dengan aksi bredel sejumlah penerbitan pers, buku dan kegiatan politik. bukankah itu inti dari kehidupan sebuah negeri.

rakyat cukup makan kenyang, belanja murah. jangan pernah pintar, jangan pernah berserikat, dan jangan berpolitik. siasat cerdik membungkam sebuah bangsa. dan sekaranglah hasilnya. bangsa ini carut marut sedikit banyak adalah warisan lama hms.

kini, mestinya aparat hukum punya keleluasaan mengusut kejahatan politik dan ekonomi hms. bukan untuk balas dendam tapi untuk menata ulang sejarah bangsa, dan mengembalikan hak rakyat untuk mengontrol kekuasaan.

membicarakan keburukan orang yang telah wafat memang tabu. tapi menegakkan kebenaran jauh lebih hakiki, asal tidak dijadikan santapan politik lagi.