Arsip

Posts Tagged ‘tpi’

Dukung TPI tetap On Air!

n194956036521_3421

TPI tetap On Air

Semangat gerakan sejuta Fesbuker dukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto hingga kini masih terus bergelora. Meski Sudah berhasil melewati angka satu juta dukungan, namun gerakan sosial ini terus bergema. Apalagi belakangan Polri membuat serangan balik yang hendak menghantam gerakan tersebut.

Belajar dari semangat gerakan terhadap Chandra-Bibit, kawan-kawan stasiun TPI membuat gerakan sejuta tanda tangan mendukung TPI tetap on Air.

Ini bukan gerakan ikut-ikutan. Namun ini merupakan gerakan yang memang dibutuhkan kawan-kawan TPI agar tetap bisa menjalankan misinya sebagai stasiun TV yang paling Indonesia, sesuai mottonya Makin Indonesia Makin Asyik Aja.

Seperti belakangan diberitakan banyak media, stasiun televisi TPI divonis pailit oleh pengadilan niaga Jakarta Pusat beberapa waktu lalu. Jika sudah berkekuatan hukum tetap nantinya TPI harus tutup dan tak lagi bisa siaran. Artinya, akan ada sejarah baru di negeri ini sebuah stasiun TV dinyatakan pailit!

Putusan pailit sendiri bagi karyawan TPI jelas mengejutkan. Karena tanpa ada angin apapun, tiba-tiba pengadilan memutuskan demikian. Karyawan jelas kaget karena selama ini kondisi keuangan perusahaan relatif  ‘aman’. Masalah lengkapnya baca ini.

Saat ini TPI sedang menanti putusan kasasi kasus tersebut. Selain kasasi, berbagai upaya sudah dijalankan serikat pekerja dan manajemen, diantaranya mendatangi sejumlah pihak guna meminta dukungan dari DPR, Komnas HAM, KPI, Dewan Pers hingga Menakertrans. Semua upaya ditempuh demi memperjuangkan hak 1.083 karyawan TPI.

Saya pribadi berharap dukungan lebih banyak lagi dari pemirsa televisi nasional. Karena selama ini TPI termasuk stasiun tv yang konsisten mengangkat seni budaya lokal lebih banyak daripada tv swasta lainnya. Lihat saja selain dangdut, di TPI juga pernah ada ludruk, wayang kulit, lawak, sinetron tradisi, hingga sinetron religi.

Saya kira kita tak ingin budaya lokal nusantara makin tak mendapat tempat lagi jika stasiun televisi yang ‘peduli’ bakal hilang dari udara. Makanya, dukung TPI Tetap On Air di Facebook.

Gonjang-ganjing di TV Swasta Kita

3 November 2009 syaifuddin 3 komentar
Liputan6-logo-a

Liputan 6 SCTV

Dunia broadcasting kita akhir-akhir ini goyah. Kabar tak menyenangkan menyeruak begitu cepatnya. Akhir pekan lalu seorang kawan lama di Sctv menulis sebuah notes di Facebook yang mengabarkan perpisahannya dengan Redaksi Liputan 6. Setelah 13 tahun bersama kapal SCTV, ia ‘dipaksa’ untuk mengundurkan diri secara massal bersama 120-an karyawan.

Jumlah ini tak sebanyak kabar yang saya dengar sebelumnya, yang menyebut sekitar 500 karyawan SCTV di-phk. Tapi apapun itu, jumlah itu cukup membuat terhenyak. Pengunduran diri itu sendiri dibungkus dengan label yang cantik ‘pensiun dini’. Inikah jawaban dari rumor yang beredar beberapa bulan terakhir dari Senayan City markas Liputan 6?

Saya sudah mendengar kabar tak sedap macam ini sejak beberapa waktu. Tepatnya sejak gonjang-ganjing terjadi di Liputan 6 saat pencopotan Pemred Liputan 6 Rosiana Silalahi. Pencopotan Rosi kemudian diikuti dengan penggeseran besar-besaran awak redaksi. Ada yang tak boleh siaran lantaran memprotes pencopotan Rosi, dan ada pula yang dilempar ke bagian non news.

Sungguh situasi yang saya bayangkan tidak nyaman. Kebersamaan sebagai ciri khas kerja jurnalistik pastinya sudah tak ada lagi di sana. Tangan kekuasaan kemudian mengubah semuanya, mulai dari kebiasaan kerja, perombakan tim, hingga format siaran. Pemred kemudian dipegang langsung sang pemilik modal.

Bagi pemirsa, seperti yang saya rasakan, layar Liputan 6 kemudian tak lagi secantik dan sedinamis dulu. Tak ada gaya siaran Bayu Sutiono yang penuh greget, tak ada lagi gaya tegas Rosi saat talk show. Bahkan momen Pemilu dan Pilpres yang biasanya menjadi kekuatan SCTV, berlalu begitu saja, tanpa sesuatu yang spesial.

Bagi pemirsa dan dunia jurnalistik TV, ini kemunduran. Suka tak suka Liputan 6 SCTV adalah sebuah ikon berita TV di Indonesia. Saya tahu persis mereka membangun  kejayaan dari bawah, dari kondisi yang amat sangat pahit dengan sokongan dana yang minim di awal pendirian Liputan 6.

Perlahan dengan kerja kerasnya, Liputan 6 kemudian menancapkan tajinya. Bahkan menjadi acuan serta rujukan banyak kalangan, termasuk para pengambil keputusan di negeri ini.

Kebesaran Liputan 6 dibangun dengan mengedepankan kapabilitas dan kredibilitas, sesuai dengan motonya Aktual, Tajam, Terpercaya.

Saya sendiri tak tahu pasti ada apa di internal SCTV sehingga harus mem-phk karyawan sebanyak itu. Apakah ini karena imbas krisis keuangan Amerika? Saya kok tak terlalu percaya. Karena setahu saya, kondisi keuangan stasiun TV ini lumayan sehat dibandingkan beberapa stasiun TV yang lain. Ataukah ini cara perusahaan mengurangi SDM tetap dengan memperbanyak karyawan kontrak? Entahlah?

Situasi berbeda tampaknya juga dialami 2 stasiun TV lainnya. TPI sedang menunggu putusan kasasi kasus Pailit yang diajukan Crown Capital. Sementara kabar gonjang-ganjing lainnya datang dari stasiun tv milik Bakrie, Antv. Kabarnya mereka menghadapi situasi serupa dengan Sctv pasca hengkangnya raksasa media Rupert Murdoch selepas lebaran lalu.

Categories: media Tag:, , , ,

Upin, Ipin dan Kita

9 September 2009 syaifuddin 12 komentar
Upin dan Ipin

Upin dan Ipin

Belakangan ini saya dan anak-anak di rumah sedang kesengsem berat dengan film kartun Upin dan Ipin di tpi. Buat yang belum tahu, film ini menceritakan kehidupan anak kembar Upin & Ipin di sebuah desa. Yang satu berambut seuntai bernama Upin, dan adiknya yang botsi alias botak sekali bernama Ipin.

Untuk sementara lupakan dulu pertentangan atau polemik klaim budaya dengan negeri jiran Malaysia. Cobalah sesekali tonton film kartun anak-anak Ipin dan Upin selama ramadhan diputar menjelang magrib. Maaf  saya tidak dalam posisi berpromosi dengan tayangan ini. Saya juga tak bermaksud menggiring anda untuk bersetuju dengan pendapat saya.

Film kartun Upin & Ipin ini memang produk asli Malaysia. Tapi saya menyarankan, untuk menonton jangan menggunakan paradigma apriori terhadap produk Malaysia yang satu ini. Cobalah nikmati sebagai sebuah karya film kartun yang sangat ‘melayu’.

Apa pentingnya sangat Melayu? Bagi saya penting, karena belakangan kita seperti dibombardir beraneka budaya pop barat yang menjauhkan kita dari pijakan leluhur. Kita seperti berumah di atas angin. Berada di negeri sendiri namun dengan sensasi yang sangat barat.

Nah, film kartun Upin dan Ipin seperti membawa saya ke kampung sendiri. Mengajak saya menengok masa lalu. Meski saya sadar ini (lagi-lagi) produk luar, namun jalinan ceritanya sangat dekat dengan keseharian kita di Indonesia.

Lihat saja betapa menggelikannya tingkah laku Upin dan Ipin yang ketakutan saat dokter gigi datang ke sekolah. Dengan jenaka digambarkan bagaimana anak-anak dengan caranya masing-masing menghindar dari dokter. Ada yang ngumpet di bawah meja hingga bolos karena takut diperiksa dokter.

Atau dalam cerita lainnya mengenai puasa, diperlihatkan lugunya kedua tokoh anak kembar ini teler karena tak kuat menahan lapar. Pertanyaan-pertanyaan khas anak-anak seperti mengapa orang muslim harus puasa, atau kenapa puasa ramadhan harus sebulan pun dimunculkan. Uniknya, meski bernilai pendidikan, namun ujaran yang digunakan sangat mudah dicerna anak-anak. Bahasa yang digunakan sangat khas anak-anak.

Mungkin inilah film kartun yang bermuatan dalam tanda kutip. Ia tak hanya menyampaikan pesan namun juga memiliki tanggung jawab pada isi pesan yang disampaikan bagi khalayak penontonnya. Sebuah hal yang belakangan jarang saya temui di tayangan anak-anak kita.

Melihat film kartun ini seperti melihat kehidupan anak-anak kita di pedesaan. Dengan keluguan, kenakalan, persaudaraan antar warga, serta mengagungkan nilai-nilai pada orang tua, saya kira inilah cerita yang pas bagi anak-anak. Posisi anak ditempatkan pada porsinya, sementara peran orang tua pun tidak sekedar menggurui, namun menjadi ‘teman’ yang membimbing.

Sangat jauh dari isi pesan sebagian sinetron berlabel anak atau keluarga yang ada di Tv kita. Tengok saja beberapa sinetron ramadhan yang (maunya) ditujukan bagi anak, namun dibungkus dengan penceritaan gaya orang tua. Dimana diperlihatkan dengan gamblang perseteruan, kebencian, atau dendam kesumat. Anak-anak pun berperan layaknya orang dewasa dalam bentuk mini.

Kalaupun ada kurangnya, di film kartun Upin dan Ipin, saya melihat ada yang tidak dijelaskan mengapa si kembar Upin dan Ipin hanya tinggal dengan nenek dan kakaknya. Kemana kedua orang tuanya tidak dijelaskan dan disinggung sama sekali. Ini membingungkan, tidak saja bagi anak-anak, tapi juga orang tua yang mendampingi menonton. Selain itu, anak-anak juga perlu didampingi karena dalam beberapa cerita, ada beberapa kebiasaan warga Malaysia yang berbeda dengan kita. Dan itu perlu dijelaskan pada anak-anak yang tak bisa menangkap konteksnya.

Tapi diluar kekurangan itu, saya sangat respek dengan jalinan kisah dan penceritaan film Upin dan Ipin. Melihat film ini saya kok tak pernah berpikir darimana dan siapa para pembuatnya. Saya dan juga anak-anak yang melihat, hanya melihat sebuah sajian budaya dengan kemasan yang sangat dekat dengan kita. Teramat dekat malah.

Saya sendiri lebih senang jika anak-anak di rumah menyenangi tokoh fantasi semacam ini, ketimbang Sponge Bob yang penuh adegan kekerasan itu. Bagaimana dengan anda?

*Ada di Kompasiana.