Arsip

Posts Tagged ‘mbah surip’

Menang Lomba Resensi Buku Mbah Surip

Di tengah padatnya kerja, kuliah dan proses ‘itu’, mampir berita gembira dari Kompasiana. Resensi buku We Love U Full Mbah Surip yang saya tulis di Kompasiana 13 November silam, keluar sebagai resensi terbaik lomba resensi yang digelar penerbit Grasindo. Pengumumannya ada dimari.

Alhamdulillah, hal-hal kecil seperti ini membuat semangat nulis tetap tinggi dan terpelihara. Ini adalah prestasi kesekian di tahun 2009.

Sebelumnya April 2009, postingan saya mengenai Pemilu legislatif berjudul Dan Hak Politik Ibu pun Dicabut di Wikimu juga menyabet penghargaan terbaik.

Setelah itu juga Agustus silam di Kompasiana laporan pandangan mata mengenai launching buku Chappy Hakim juga jadi salah satu yang terbaik.

Mau tahu komentar kawan-kawan soal kemenangan ini di Facebook? Ini dia..

Henie Zr, Eko Eshape and 2 others like this.
Jajang Dirajanagara

Jajang Dirajanagara

Tres bon mang udin
11 hours ago · Delete
Mona Kasfiarni

Mona Kasfiarni

bener din….?selamatya!
11 hours ago · Delete
Latief Siregar

Latief Siregar

cool… hadiahnya apa cang, foto bareng mbah surip ya
10 hours ago · Delete
Linda Djalil

Linda Djalil

selamat yaaaaa….
10 hours ago · Delete
Dyah Wirastri

Dyah Wirastri

wahhhh… Selamat ya… Mana resensinya? Boleh dong di sharing…
10 hours ago · Delete
Fikri Syaukani

Fikri Syaukani

selamat brader…
10 hours ago · Delete
Ade C. Sari

Ade C. Sari

Met ya din..
10 hours ago · Delete
Manyus Pagar Alam

Manyus Pagar Alam

selamat din…ditunggu traktirannya ya..
10 hours ago · Delete
Yeni Marliani

Yeni Marliani

ikut seneng dinnn
10 hours ago · Delete
Kenia Gusnaeni Normansyah

Kenia Gusnaeni Normansyah

Wah..selamat mas. Makin mantap aja nih td siang otw menuju masa depan,skrg menang resensi buku..
9 hours ago · Delete
Hanif Doang

Hanif Doang

slamat bro..keep up the good work!!
9 hours ago · Delete
Giri Gunawan

Giri Gunawan

My Bro…ok !
9 hours ago · Delete
Eko Eshape

Eko Eshape

selamet ya mas
mas Din memang manteb kok…
4 hours ago · Delete
Heny Rachmayani

Heny Rachmayani

Tolong ya..semua ksh jempol bwt Udin!hehehe. selamat ya Boss.. salut..!
3 hours ago · Delete
Prayitno Ramelan

Prayitno Ramelan

Selamat ya…sudah menang…gitu dong, yang namanya kompasianer.
about an hour ago · Delete

Membaca Mbah Surip Lewat Jodhi

17 November 2009 syaifuddin 2 komentar
//www.grasindo.co.id)

Membuat buku mengenang seorang kawan yang telah berpulang, rasanya susah-susah gampang. Mudah kalau kita pernah menjadi bagian hidup si tokoh. Kepergiannya malah justru membuka semua sejarah hidup yang kita pernah tahu selama ini. Namun menjadi persoalan yang rumit manakala terbentur harus melakukan verifikasi data atau mengkonfirmasi kisah masa lalu. Bagaimana mau mengklarifikasi, lha wong tokohnya saja sudah tiada!

Semangat itu pula yang saya camkan saat membaca buku “Mbah Surip We Love You Full” karya kompasianer Jodhi Yudono terbitan Grasindo. Meski saya tahu Jodhi sangat mengenal sosok mbah Surip, namun menjadi persoalan tersendiri bagi Jodhi untuk mengklarifikasi sejumah hal. Misalnya soal kisah hidup mbah Surip sebagai pekerja di kilang minyak. Di beberapa kesempatan penyanyi nyentrik bernama asli Urip Ahmad Arianto mengatakan sebelum menyanyi ia pernah bekerja di kilang minyak di sejumlah Negara.

Untuk mengecek kebenaran cerita ini Jodhi sudah berupaya mencari tahu ke berbagai pihak termasuk keluarganya, namun semuanya gelap. Jodhi sendiri tampaknya ragu pada bagian kecil kisah mbah Surip yang ini. Meski di bagian awal dengan gagah Jodhi menceritakan hal itu, namun di bagian lain bukunya justru Jodhi menggugat cerita ini.

Cerita mengenai hal inilah yang membuat saya dan mungkin pembaca lainnya penasaran. Benar-benar untold stories. Almarhum mbah Surip sendiri setiap dipertanyakan mengenai hal ini, jawabannya kerap berubah-ubah. Bahkan lebih sering menimpalinya dengan senyuman dan tawa berderai “Hahaha…hahaha….I love you Full!.” Untuk soal yang satu ini, rasanya hanya mbah Surip dan Tuhan saja yang tahu kebenarannya.

Sementara soal Bulungan, tempat dimana mbah Surip dan Jodhi menjadi bagian dari komunitas seniman di Jakarta Selatan itu, Jodhi bisa mengisahkannya dengan sangat baik. Itu karena mereka pernah bersama-sama menyanyi, berdiskusi, dan tidur di ‘kampus’nya seniman ibukota itu.

Buku ini memang tidak bermaksud menjadi sebuah biografi perjalanan karier seorang mbah Surip. Kalau itu mau anda, jangan pernah baca buku ini.

Jodhi hanya bermaksud mengungkapkan pandangannya mengenai sang kawan dari kacamatanya. Kacamata seorang sahabat. Karena perjalanan hidup mbah Surip sendiri penuh misteri, Jodhi menjadikan buku ini sangat personal. Ia mengungkapkan sosok mbah Surip apa adanya, yang dipenuhi kelebihan dan kekurangan. Sosok yang membumi, setia kawan, dan penolong.

Karena merupakan pandangan seorang kawan, tidak semuanya berisi kisah yang “baik-baik” saja. Jodhi bisa dengan entengnya mengungkap gaya mbah Surip saat manggung di warung apresiasi Bulungan. Atau mengungkap aroma rambut gimbalnya yang kerap meruapkan aroma wangi Rinso. Ini sekedar menunjukkan mbah Surip yang keramas tiga hari sekali, dan bukan menggunakan shampoo namun justru sabun cuci. Jodhi mengungkap itu bukan dengan maksud mengejek atau merendahkan, namun justru menunjukkan kebersahajaan, apa adanya, dan kejujuran seorang Mbah Surip.

Buku ini sengaja memotret sosok kesenimanan mbah Surip dengan kacamata kejujuran seorang sahabat. Paling tidak, Jodhi mengungkap apa yang diketahui dan dirasakannya. Dan ia tidak mencoba masuk ke wilayah abu-abu yang tak diketahuinya secara pasti.

Kalaulah perlu dikritik, ada hal yang kurang dari sebuah buku testimonial macam ini. Mengapa Jodhi tak menampilkan foto-foto kedekatannya dengan mbah Surip semasa hidup hingga akhir hayatnya. Menurut saya ini penting, karena akan memetakan sedekat apa hubungan perkawanan mereka berdua. Dan yang jauh lebih penting, foto akan membantu menjelaskan siapa sosok mbah Surip sebenarnya. Karena pembaca belum tentu ‘ngeh’ dengan sosok mbah Surip yang meninggal dunia di puncak kariernya itu.

Menganggap semua pembaca adalah penggemar mbah Surip adalah salah. Karena dengan demikian membatasi siapa pembaca buku ini.

Apalagi kalau Jodhi mau menambahi dengan dokumentasi foto pribadinya saat mbah Surip berada di tengah komunitas seniman Bulungan, ini akan menjadi memorabilia yang sangat berharga bagi para penggemar mbah Surip.

Tapi apapun itu, melalui buku ini saya bisa mengenang sosok Mbah Surip dengan ujaran khas-nya I love You Full. Ujaran yang membuat semua pendengarnya merasa nyaman, dihargai dan dicintai. Sebuah ungkapan cinta yang penuh dari lelaki yang kini sudah berdamai dengan keabadian.

Tak gendong kemana-mana….tak gendong kemana-mana….

*tulisan ini juga dimuat di Kompas.com


Lomba-lomba yang Menarik

3 November 2009 syaifuddin 1 comment

Guys, ada beberapa lomba yang mungkin bisa kamu ikuti.

1. Lomba Menulis Kisah Kasih Ibu.

Deadline 10 Desember 2009

2. Pertamina Blog Contest.

Deadline 5 Januari 2010

3. Lomba Resensi buku Mbah Surip

Deadline 14 November 2009

Yuk mari….

Mbah Surip, I love U Full!

17 Juli 2009 syaifuddin 2 komentar
Mbah Surip

Mbah Surip

SAYA bukan pengagum atau penggila mbah Surip, tapi saya  tiba-tiba ingin menuliskan sedikit mengenai demam penyanyi berambut gimbal ini. Jika ada yang belum tahu, mbah Surip itu penyanyi yang lagunya sedang banyak direquest di radio dan tv. Dengan modal satu lagu sederhana “Tak Gendong”, mbah Surip secepat kilat mengorbit. Ia mengangkasa  melampaui capaian artis yang bertahun-tahun mengeluarkan album namun tak satupun lagunya jadi hits.

Saya tak menyangka mbah Surip yang saat reformasi bergulir kerap terlihat diantara demonstran jalanan, kini menjelma menjadi seleb dadakan. Dulu wartawan yang menjumpainya kerap mencapnya sebagai orang stress, karena berpenampilan ala penyanyi reggae, berambut gimbal, berbaju colourful, dan selalu cengar-cengir.Tak ada yang berubah dari ciri khas mbah Surip setelah ‘nyeleb’. Ia tetap ’slengean’, sak enak’e, ceria dengan ketawa khasnya yang diimbuhi “HA-HA-HA…HA-HA-HA”. Ciri lainnya, ia selalu berujar I love you full, sebagai ungkapan sayangnya pada semua orang, sebagai ungkapannya pada perdamaian. Mungkin pernyataan ini bisa dimaknai sebagai pesan anti kekerasan dari mbah Surip.

Mbah Surip adalah anomali dalam dunia musik Indonesia. Ia bukan keluaran kontes nyanyi ‘idol-idolan’. Ia adalah penyanyi jalanan. Usianya tak lagi muda saat lagunya melambung. Ia mampu menerobos batasan usia, yang dipatok produser rekaman yang belakangan lebih suka penyanyi muda usia, ganteng/ cantik, dengan musik standar band yang lagi memuncak.

Mbah Surip membalikkan semua anggapan bahwa penyanyi yang masuk industri itu harus muda, ganteng dengan lagu yang sudah dipatok industri rekaman. Ia berpenampilan apa adanya, cenderung seenaknya. Baginya menyanyi itu haruslah menghibur, setidaknya menghibur bagi dirinya sendiri.

Ia tak pernah mempersoalkan apa genre musiknya. Meski banyak yang bilang reggae, ia malah tak tahu apa itu musik reggae. Bagi mbah Surip menyanyi is fun. Ia tak pusing dengan jenis musik, genrenya, apalagi sebutan sebagai penyanyi kampungan. Baginya, selama musiknya bisa membahagiakan, berarti orang bisa menerima karyanya.

Apa yang sedang terjadi dengan mbah Surip mungkin bisa sejajar dengan capaian Kuburan Band asal Bandung. Band yang dengan lagunya “Lupa-lupa Ingat” pernah merajai radio dan tv sebelum mbah Surip mencuat. Band ini membalikkan anggapan bahwa menyanyi itu harus hapal syair lagu. Mereka bahkan lupa syair yang mereka nyanyikan. Yang jelas ini melawan ketentuannya mbak Bertha, yang kerap memarahi penyanyi baru yang tidak hapal lyrik lagu.

Bahkan yang lebih ektrem Kuburan Band juga menutupi jati dirinya dengan memakai masker topeng. Mereka seolah menertawakan industri rekaman yang sering kaku menerapkan standar. Bahwa penampilan menarik adalah modal jualan, itu tak bisa dipungkiri. Tapi bukan berarti semua pelaku industri harus good looking.

Keberadaan Kuburan Band seolah menertawakan aturan itu. Tak selamanya wajah bagus menjadi penentu penerimaan publik pada sebuah karya musik. Buktinya mereka dengan tampang yang kita tidak pernah tahu seperti apa, berhasil menggoyang Indonesia dengan lagunya yang jenaka, yang membuat semua orang yang mendengarnya tertawa, atau minimal senyum simpul.

Mungkin Kuburan Band ingin berujar, jangan pedulikan wajah kami, tapi nikmati saja musiknya.

I LOVE YOU FULL….!!!

*gambar diambil dari oom Google.

Tulisan ini dimuat juga di http://public.kompasiana.com/2009/07/15/mbah-surip-i-love-u-full/