Arsip

Posts Tagged ‘krl jabotabek’

Sengsaranya Jadi Penumpang KRL Ekonomi

Krl Ekonomi

Krl Ekonomi

Jangan pernah jadi penumpang KRL ekonomi kalau tak mau sengsara! Ini bukan nasehat tapi wanti-wanti. Pagi tadi saya lagi-lagi dapat pengalaman buruk saat menumpang kereta rakyat itu.

Nasib baik memang sedang tak berpihak pada saya akhir-akhir ini. Naik KRL Jabotabek selalu dapat pengalaman buruk. Anehnya, selalu dapat pengalaman jelek kok masih mau-maunya naik KRL!

Saya memang aneh, selalu berpikir PT.KAI sudah melakukan perbaikan atau setidaknya belajar dari pengalaman buruk penumpang sebelumnya. Sehingga mereka tak akan lagi menyakiti hati penumpang setianya.

Sesungguhnya perjalanan by train saya pagi tadi nyaris mulus tiada cela. Dari stasiun Gondangdia Kereta hanya berhenti sekian menit –mungkin 2 hingga 3 menitan– untuk naik turun penumpang. Setelah enam stasiun perhentian kereta berjalan mulus, saya sudah girang karena bakal bisa sampai rumah lebih pagi.

Namun mimpi buruk itu ternyata terjadi di stasiun pasar minggu. Lazimnya kereta ekonomi yang selalu ngalah saat kereta bagusan lewat, pun begitu pula dengan kereta yang saya naiki. Selama ini paling-paling kita tertahan sekian menit saja menunggu hingga kereta kelas bagus lewat. Perlu penyamaan persepsi dulu, yang saya maksud kereta bagusan itu cuma beda di AC dan jumlah penumpang. Lainnya tidak.

Yang terjadi tadi pagi, kereta tertahan di stasiun pasar minggu nyaris 45 menit demi memberi jalan pada kereta bagus itu. Kesal, sebal, ngantuk jadi satu. Sepanjang penantian yang tak berujung itu, saya mengutuk keras semua pelaku industri kereta jabotabek. Apakah begini memperlakukan penumpang yang bayar, meski yang dibayar cuma 1.500 perak?

Tak ada penjelasan mengapa begitu lama kami tertahan di stasiun, tak ada secuil kata maaf dari kepala stasiun atau siapa lah yang berwenang. Benar-benar penumpang cuma dijadikan catatan statistik penambah data kenaikan jumlah penumpang. Masa bodoh dengan kenyamanan atau waktu berharga yang hilang percuma.

Mungkin dalam pikiran pengelola kereta jabotabek, peduli setan dengan penumpang (miskin). Toh saya bukan yang pertama dongkol dengan cara-cara seperti ini. Besok toh penumpang ‘kere’ seperti saya bakal tetap naik kereta!

Duh, kalau begitu cara berpikir mereka, pengelolaan kereta api komuter jabotabek tak akan pernah beranjak, malah cenderung makin kacau. Paradigma penumpang adalah raja rasanya cuma berlaku di bidang lain, bukan layanan umum transportasi massal KRL jabotabek.

Kalau di negara maju, keluhan semacam ini pasti ditanggapi dengan segera oleh pengelola layanan publik. Mereka pasti malu kalau kinerjanya buruk dan membuat tak nyaman konsumennya.

Tapi kalau disini? Berharap ada permintaan maaf saja, rasanya itu sangat mahal.

*tulisan ini diposting juga di sini dan di situ.

Kapan KRL Jabotabek Profesional?

krl jabotabek

krl jabotabek

Saya kerap dibuat kesal saat akan naik kereta rel listrik (KRL) Jabotabek Jakarta – Bogor. Maksud hati memilih naik KRL agar menghemat waktu, semuanya buyar gara-gara kelakukan tak profesional petugas di loket dan penjaga pintu masuk.

Cerita begini, suatu pagi dari kantor di Gondangdia, dengan langkah tergesa saya tanya petugas kereta apa yang paling cepat tiba di stasiun gondangdia tujuan bogor? Petugas loket bilang kRL Ekonomi jam 07.15. Keterangan si bapak diperkuat petugas pintu masuk yang bilang, “Kereta sudah di juanda”.

Senang banget saya mendengarnya. Juanda, wah udah deket dong. Tinggal satu stasiun lagi dong, berarti kurang dari 10 menit tuh sampai gondangdia.

Tapi apa yang terjadi? Ternyata oh ternyata….setengah jam berlalu tak satupun kereta datang menjemput saya (halah memangnya siapa saya?). Yang bersliweran di depan saya justru kereta bagus yang bukan tujuan saya.

Sudah kadung menunggu, saya teruskan pekerjaan menyebalkan itu. Hingga sejam yang membuat mata makin berat dan lelah jiwa raga, tak ada kereta yang lewat.

Karena Kesal, akhirnya saya tinggalkan stasiun keparat itu. Saya ambil langkah mantap naik metro mini di depan stasiun. Belum sampai kaki menginjak metro mini, kereta idaman saya pun tiba. Karena jaim saya emoh balik ke dalam dan meneruskan petualangan menggunakan metro mini.

Ini bukan pertama kali saya dikecewakan petugas yang salah memberi informasi. Lho, bukankah petugas juga manusia? Wajar dong salah, toh cuma sedikit, beda-beda tipis lah kata abege.

Sampai kapan kita mentolerir kesalahan aparat. Apalagi sudah salah, mereka terbukti tidak punya panduan informasi yang akurat. Padahal, lazimnya mereka ditugaskan diposnya lantaran punya kualifikasi yang sesuai.

Bagaimana KRL mau didekati pelanggan baru kalau pelanggan lama kerap dikecewakan? Cukuplah manajemen by insiden yang selama ini diterapkan. Sebagai operator pelayan publik, wajib hukumnya PT KAI Commuter menjamin kenyamanan penumpang.

Kalau kerap membuat jengkel begini, bagaimana mereka akan bersaing dengan perusahaan sejenis, jika sewaktu-waktu keran swasta untuk mengelola kereta api dibuka pemerintah?

*tulisan ini juga diposting di sini