Arsip

Posts Tagged ‘KPI’

KPI Hentikan “Makin Malam Makin Mantap”

Komisi Penyiaran Indonesia kembali menghentikan sebuah program televisi nasional. Program Makin Malam Makin Mantap (4M) yang tayang di Antv mulai 9 Oktober ini dihentikan untuk sementara waktu. Penghentian acara variety show yang ditayangkan tiap Senin-Jum’at jam 21.30 hingga 23.00 WIB itu maksimal selama dua bulan.

Kenapa acara ini dihentikan?

KPI mendasarkan tindakannya pada tayangan 4M tanggal 2 Oktober lalu. Sepanjang program, menurut KPI terus menerus dibicarakan payudara dan alat kelamin secara vulgar. Selain itu, pembawa acara wanita yang berperan sebagai suster cenderung menampilkan perilaku dan tutur kata yang seronok. Bahkan sempat menyebut alat kelamin laki-laki dalam bahasa yang kasar dan tidak sopan.

KPI menilai program tersebut melanggar undang-undang penyiaran serta standar program siaran. Keputusan ini sendiri diterima oleh pihak Antv dalam forum klarifikasi yang dihadiri diantaranya ketua KPI Pusat Sasa DJuarsa Sendjaja serta Direktur Antv Dudi Hendrakusuma.

Saya bukan penggemar acara ini. Namun beberapa kali sempat menyaksikan acara yang dipandu Tora Sudiro dan Vincent Rompies ini. Kesan saya kedua presenter yang maunya jenaka, kadang kelepasan melempar joke atau humor yang ’saru’, agak menyerempet porno malah. Mungkin maunya melucu tapi yang terdengar malah ‘aneh’.

Kebetulan saya juga tak menyaksikan acara 4M yang dikomplain KPI itu. Tapi kalau benar banyak joke atau obrolan saru soal alat vital di sepanjang acara, jelas itu sudah keterlaluan. Apa tujuan sebenarnya acara ini? Menghibur? Mengapa harus jorok?

Saya jadi ingat dengan penghentian program 4 Mata di stasiun Trans 7 beberapa waktu lalu. Saat itu –kebetulan saya nonton– seorang tamu acara Empat Mata memakan hewan kodok dengan cara yang menjijikkan. Kodok yang masih hidup, digigit hingga mengeluarkan darah. Hiii…Maunya mungkin memperlihatkan aksi nekat yang luar biasa, namun kesannya malah sadis!

Namun yang lebih miris keputusan KPI saat itu disikapi Trans7 dengan meluncurkan acara sejenis yang diberi label Bukan Empat Mata. Pensiasatan yang sangat tak elok. Hanya demi menangguk keuntungan, acara itu tetap diproduksi. Memang tak ada aturannya sebuah acara yang dimatikan kemudian dihidupkan dengan nama lain. Itu sah sah saja, tapi tak etis lah. Publik kadung tahu seperti apa kemasan 4 Mata sebelum dihentikan itu.

Saya menduga Antv pasti melakukan hal yang serupa. 4M meski per 9 Oktober dihentikan, pastinya bakal disiapkan penggantinya, yang mungkin namanya cuma plesetan dari nama program sebelumnya. Mungkin 4M diganti menjadi 5M, atau Makin Malam Makin Asyik… Who knows?

Berkaca dari kasus 4 Mata yang berubah wujud menjadi Bukan 4 Mata, tampaknya bagian program acara sebuah tv justru menjadikan keputusan penghentian program oleh KPI sebagai celah promosi gratis. Program tersebut menjadi lebih populer, atau setidaknya mengusik pemirsa yang belum pernah menonton menjadi minimal ingin tahu.

Ada yang aneh mengapa penghentian 4M tidak langsung dilakukan begitu surat ketetapan KPI bertanggal 6 Oktober keluar? Apakah KPI tunduk pada stasiun TV yang minta waktu mencari pengganti acaranya? Nanti kita tanya ke KPI.

diposting disini saat KPI keluarkan putusan penghentian program 4M

Berita Teroris di Tv Rugikan Polisi?

Wanted: Noordin!

Hari ini kalau tak meleset, polisi bakal merilis identitas para tersangka teroris Temanggung dan Jatisaih. Dari sekian nama yang bakal dirilis, sangat kecil kemungkinan nama Noordin M.Top ada diantaranya. Jika benar yang ditembak mati bukan Noordin, maka inilah drama paling tidak lucu yang disajikan aparat kita akhir-akhir ini.

Media punya andil menambah keksiruhan dengan menyebut nama Noordin di kesempatan pertama. Padahal belum ada konfirmasi soal identitas, identifikasi jenazah pun belum dilakukan polisi. Siapa yang salah?

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menuding pemberitaan Tv soal teroris cenderung merugikan polisi. KPI menilai media tv kurang mengindahkan prinsip akurasi data dan hanya mengandalkan asumsi-asumsi belaka. Asumsi tersebut malah membuat fakta yang disajikan belum tentu kebenarannya.

Baiklah, KPI bisa dan bebas menuding demikian pada media. Tapi media yang mana ya? Karena tak semua media melakukan kesembronoan serupa yang disebutkan KPI. Tolong sebut saja media “X” atau “Y”.

Bias memang bisa terjadi dalam laporan teroris. Tapi apakah ini murni salah media? Polisi juga harus bertanggug jawab pada putusannya yang melibatkan media tv sejak awal. Untuk sebuah operasi penting macam itu mestinya tidak dilakukan secara sembrono. Karena melibatkan banyak pasukan dan berdasar data intelijen kepolisian, sebaiknya polisi tidak melibatkan pihak lain yang kemungkinan bisa mengganggu jalannya operasi.

Saya kira sudahilah cara-cara lama menjadikan operasi kepolisian sebagai panggung popularitas. Kalau polisi berhasil membekuk buronan meski tanpa liputan langsung tv, rakyat pasti mengapresiasi. Penyergapan teroris seperti di Temanggung adalah pertaruhan besar kepolisian. harapan tertangkapnya Noordin M Top yang kadung diletakkan di posisi yang tinggi, sirna lantaran kecerobohan polisi sendiri.

Meski KPI menuding berita teroris merugikan polisi, sebaliknya bagi media tv. Breaking News yang disajikan tv One hari Sabtu pagi lalu berhasil membetot perhatian 45 persen penonton tv pada saat itu. Jumlah yang tidak main-main dari raihan jumlah penonton. Apalagi breaking news teroris itu juga penuh dengan iklan komersial yang tentunya tidak murah. Dan capaian rating-share hari Sabtu itu menempatkan Tv One sebagai di posisi pertama rating harian. Kenaikan yang sangat tajam,  mengingat sebelumnya tvone berada di posisi keenam atau ketujuh dari sekian belas tv yang di survey AC-Nielsen.

Jadi saya yakin meski KPI menuding media merugikan polisi, praktek semacam ini pastinya akan terus berlangsung. Kan yang rugi polisi, sementara medianya kaya raya. hahaha….