Arsip

Posts Tagged ‘kopdar’

Kopdar dengan Pak Doktor!!

2901_1132614550138_1070514205_30405538_674497_n1Tunggu punya tunggu kok belum ada yang posting tentang Kopdar kecil Kompasiana di Dapur Sunda, Sabtu lalu. Pada kelelahan kah sehingga tak sempat menulis? Semoga tidak.

Kemarin saya datang memang karena ingin memberi selamat blogger Kompasiana yang juga kawan lama saya, Frans yang baru saja meraih gelar Doktor. Ini adalah perjumpaan saya yang pertama sejak 20 tahun silam. Sejak lulus SMA tahun 1989 saya memang tak sekalipun bertemu Frans. Saya ke bandung, dia di Jakarta.

20 tahun tak bersua, Frans ternyata tak banyak berubah, pembawaannya tetap tenang. Melihat sosoknya yang down to earth mungkin tak   ada yang menyangka kawan kita satu ini baru saja menambahkan namanya dengan gelar Doktor. Sebuah pencapaian akademis yang gak main-main. Sayapun iri jika ada teman yang bisa sekolah terus. Karena dari dulu problem saya tetap sama, tak punya waktu lagi untuk sekolah lagi.

Acara kemarin memang hanya fokus pada penyambutan kepulangan Frans dari Jepang  saja, tak ada agenda khusus. Tapi tahu sendiri jika dua orang gokil bertemu pasti rame. Tapi apa jadinya yang ketemuan lebih dari sepuluh? Dapur Sunda Cipete jadi riuh rendah. Tapi biang dari kerusuhan siapa lagi kalo bukan mbak Linda Djalil.

Jeng yang satu ini memang ratu heboh. Belumapa-apa dia sudah komplain soal meja panjang yang semula kami tempati. “Gak asyik ah, bentuknya membuat kita berjarak,” protesnya. Kamipun pindah ke ruang dalam ‘lebih beradab’, bersebelahan dengan kawan ex 34 yang sedang reunian.

Kehebohan belum berhenti disini, tiba-tiba dia naik panggung dan bernyanyi. Suaranya gak kalah sama Rien Djamain! hehehe…. Usai ngamen, LD juga minta kita bergaya dalam berbagai pose. Beberapa dari kita sebenarnya malu dengan umur, tapi karena yang minta seorang LD, siapa sih yang bisa nolak!! Jadilah kita berfoto ala pre-wed.

Di ujung, usai haha..hihi..keluarlah curhat masing-masing blogger kenapa mau capek-capek jadi blogger di Kompasiana. Di sesi ini juga terungkap ternyata ada yang khawatir dengan tulisan Frans soal “Pulang” beberapa waktu lalu. Dia menyangka Frans tengah menceritakan soal kematian. Waduh, kok segitunya ya…!!!

Bagi saya, pertemuan kemarin benar-benar refreshing. Karena   saya bisa hadir di tengah kawan-kawan yang hebat dari berbagai latar. Ini menghibur sekali buat saya yang belakangan kelelahan dan kurang tidur karena ngurusi program Pemilu di kantor.

Thx buat semuanya, semoga bukan pertemuan terakhir. Khusus buat Abi dan Sholi thx atas tumpangannya.

* foto diambil dari sini.

Categories: sosial Tag:,

Antiklimaks Kopdar Prabowo!

Sebuah sms pendek “info indonesia center-malam ini ini, amigos bellagio kuningan pkl 7 malam. Ngariung bloggers dan shabat fbps bersama prbwo subinto. kehadiran anda sgt diharapkan” masuk di tengah deadline program Lintas 5 hari selasa. Sms itu saya terima pukul 15.15.

Terbayang ribetnya mengarungi jakarta di tengah kemacetan menuju kuningan dari kawasan gondangdia. jalan satu-satunya naik ojek!

Jakarta ternyata sudah tidak bersahabat buat siapapun, saya terjebak di belantara kemacetan yang rumit. Mobil saling sikut, motor beradu cepat. Dari mesjid sunda kelapa ke bellagio kuningan harus saya tempuh 1,5 jam.

Itu belum seberapa, beberapa kawan seperti admin Kompasaiana kang Pepih malah lebih parah, butuh 4 jam perjalanan dengan mobil dari Palmerah!

Sampai amigos beberapa blogger kondang kompasaiana sudah ngariung semeja. Ada mbak Linda, pak Pray yang baru sembuh sakit, Novrita, Yulyanto, mas Aris, dokter Anugrah, oom Jay dan beberapa yang sorry belum hapal namanya.

Setelah berhaha-hihi dan makan, mas Bowo baru datang pukul 20.40, terlambat jauh dari jadwal yang ditetapkan. Kami masih sabar menanti dan sedikit maklum karena siang harinya mas Bowo berkampanye akbar di Gelora Bung Karno.

Sebelum bicara mas Bowo sempat menyapa dan bersalaman dengan beberapa blogger kompasiana yang duduk di barisan depan.

Dan mas Bowo akhirnya memaparkan visi dan misinya sebagai capres. Tak ada yang baru, setidaknya bagi saya yang sudah mengamatinya di berbagai media setahun terakhir ini.

Ia mulai dengan alasan mengundang blogger bertemu, kenapa blogger dan bukan wartawan media main stream. Menurutnya, era internet menunjukkan informasi tak bisa lagi dibatasi.

Ia merasa perlu mengapresiasi aktivitas para blogger karena dianggap punya kekuatan yang lebih dahsyat dibanding jurnalis main stream. Sebab ia kerap dikecewakan media main stream, yang kerap sudah meliput dan mewawancarainya, namun jarang dimuat.

Untuk yang satu ini mas Bowo mahfum jika penyebabnya bukan karena kerja jurnalisnya, namun karena ada pembatasan di media lantaran faktor kepemilikan yang hanya pada segelintir orang.

Di luar paparannya soal kebebasan media, apa yang disampaikan mas Bowo semuanya berbau kampanye. Apakah salah? Tidak juga, tapi menurut saya kurang pas saja, seorang capres yang sudah disokong tim media yang kuat masih harus kampanye di depan komunitas blogger. Bukankah informasi mengenai siapa mas Bowo sudah begitu banyak menyebar di media?

Sayangnya, acara yang mestinya penuh spontanitas dari blogger, jadi searah. Meski blogger diberi kesempatan bicara, namun sangat terbatas. Justru mas Bowo terlalu dominan. Mestinya kesempatan bagi Blogger bicara diberi ruang lebih lega lagi.

Selain soal kelegaan bicara tadi, ada satu hal yang sangat mengganggu acara semalam. Khususnya di bagian ending, tiba-tiba ada seorang wanita –saya kurang yakin dia seorang blogger–yang tampil dengan bahasa campur aduk mendukung mas Bowo. Lho? Beberapa rekan sempat kaget, kok ada beginian? Sudah gitu ada kawan suporter mas Bowo yang minta kita bergabung sebagai suporternya. Hmmm…

Lebih ajaib lagi saat di ujung acara tampil sejumlah remaja dengan iringan lagu puja-puji memberi bunga dan menyampaikan (lagi-lagi) dukungan terhadap mas Bowo. Aduh, saya yang salah dengar atau ……? Kok seperti di jaman Orba dulu ya??

Sebuah antiklimaks dari Ngariung blogger!!

Kopdar Kompasiana, Serasa Bertemu Teman Lama

21 Februari 2009 syaifuddin 5 komentar

Black In News, Kopi darat Kompasiana yang berlangsung Sabtu siang di Bentara Budaya, Palmerah, Jakarta berlangsung seru. Awalnya beberapa blogger masih jaim karena belum saling kenal. Tapi dua session yang disediakan panitia akhirnya mencairkan suasana. Apalagi saat blogger ”bintang empat” pak Chappy Hakim tampil, atmosfer suasana benar-benar ’ancur’.

Ternyata jenderal yang satu ini sangat berbeda dengan jenderal-jenderal lainnya yang saya kenal. Pak Chappy sangat santai, humoris, dan tidak terlihat ’tentaranya’. Kalau jenderal lainnya pada berebut jadi capres, pak Chappy justru memilih jalan aktualisasi diri dengan banyak menulis. Di kompasiana pak Chappy tergolong blogger yang rajin menulis. Bahkan tiap 14 jam ada 1 tulisan yang diposting. Di sesi siang kopdar, pak Chappy jadi bintang dengan humor-humornya yang segar, permainan gitar dan saxopone hingga menyanyi. Benar-benar blogger yang komplit.

Selain atraksi pak jenderal, sesi awal juga diisi paparan soal media alternatif dan mainstream oleh Lily Yulianti Farid dan Tony D.Widiastono. Lily adalah mantan wartawan kompas yang juga blogger kawakan. Ia sudah malang melintang di situs pewarta warga www.ohmynews.com dan pendiri www.panyingkul.com. Lily berbagi mengenai kekuatan pewarta warga dan pengaruhnya bagi dunia yang berubah.

Sementara Tony Widiastono yang juga redaktur opini kompas membuka rahasia dapur rubrik opini Kompas. Termasuk tips bagaimana agar tulisan bisa tembus di rubrik opini Kompas yang cukup bergengsi itu.

Tapi session yang paling menguras urat tawa ya sessionnya Pandji Pragiwaksono, Raditya Dhika, Pepih Nugraha, dan Dharmawan di sore hari. Pandji menguraikan proses kreatifnya sebagai blogger yang menunjang profesinya sebagai penyanyi Hip-hop dengan gayanya yang selenge-an. Ternyata di balik kekonyolan Pandji di tv, dia adalah seorang marketer jempolan. Dia mengemas citra dirinya sedemikian rupa melalui blognya yang provokatif dan menjual.

Lain lagi paparan Raditya Dhika, blogger dan penulis buku best seller Kambing Jantan. Ternyata adik kelas saya di SMA ini seorang yang cerdas dan sadar branding dirinya. Meski awalnya tulisan di blognya adalah catatan harian yang gak penting, ternyata di kemudian hari catatan yang gak penting itu justru menjadi best seller ketika diterbitkan menjadi buku. Dengan kesadarannya pula, Dhika rajin ’merawat’ para pembacanya hingga loyal pada karya-karyanya. Bahkan awal maret mendatang Kambing Jantan the Movie siap edar di bioskop dengan sang blogger jadi pemeran utamanya. Wow!

Jadi sangat tak masuk diakal jika banyak orang menyepelekan dunia blog. Terbukti dari paparan selama kopdar Kompasiana, blog dan dunia web pada umumnya bisa mengubah dunia dalam skalanya masing-masing.

Selain para panelis diatas, beruntung pula ajang kopdar kali ini dihadiri blogger ”Indonesia Bersatu” Kusmayanto Kadiman. KK yang datang terlambat ogah disebut sebagai Menristek di ajang ini, ia lebih suka disebut sebagai blogger Kompasiana. Sebagai tanda cintanya pada komunitas ini, KK memberikan hadiah buku terbarunya untuk semua blogger yang hadir. Thanks KK, saya akan review bukunya nanti!

Oya, berkat kopdar ini juga saya akhirnya bisa meralat kesalahan saya selama ini yang menganggap Primora Harahap sebagai seorang lelaki! Hihi…sorry ya sis, untungnya bukan saya saja yang berpendapat demikian.

Disini saya juga akhirnya ketemu pak Prayitno Ramelan yang saya jadikan guru tak langsung. Salut atas energi menulis bapak yang luar biasa. Saya malu untuk yang satu itu, pak Pray lebih produktif dibanding saya! Tapi tenang pak Pray, saya justru terlecut untuk lebih sering menulis berkat bapak juga.

Black Community, saya harus mengucap terima kasih buat kang Pepih dan tim yang sudah mewujudkan kopdar kali ini. Meski baru dihadiri 50-an orang blogger, semoga ini adalah awal kekerabatan kita dalam rumah Kompasiana. Ke depannya, semoga makin banyak lagi penghuni rumah kita ini, sehingga kita selalu dapat berbagi cerita dan inspirasi.

Terakhir, tukeran link blog yuk! Hehehe….