Arsip

Posts Tagged ‘bukber’

Buka Bareng Kompasiana, Indahnya Persahabatan

16 September 2009 syaifuddin 2 komentar

Buka puasa bersama blogger Kompasiana Senin kemarin memang bukan kopdar biasa. Meski sempat kesal terjebak macet di Fatmawati selama setengah jam, namun bukber kemarin menghapus semua kesal saya.

Dimulai lelet dari jadwal yang mestinya pukul 4 sore, bukber ini jadi kehilangan sedikit gregetnya di awal acara. Panitia sebelumnya sudah mensetting akan ada taushiyah dari da’i kondang Uje sebelum bedug magrib. Karena acara dimulai terlambat taushiyah dari Uje batal. Padahal Uje yang juga blogger Kompasiana sudah siap dengan baju kokonya sejak awal.

Eits…Uje yang satu ini memang bukan Ustad Jefri yang kondang itu. Tapi ini ustad Jet alias Iskandar Jet, blogger dan salah satu admin Kompasiana yang tak kalah kondangnya.

Saat buka ada hidangan istimewa yang sengaja diberikan di beberapa meja, cake buah yang aduhai. Sebenarnya ini pesanan Abi Hassantoso dari mbak Linda yang Djalil itu. Ternyata Abi memang sengaja memesan kue itu untuk dimakan bareng. Thx ya Bi, sayangnya saya gak kebagian!

Acara dibuka dengan pembacaan puisi karya Unang Muchtar oleh Linda Djalil. Puisi ini diilhami dari postingan Kang Pepih yang berjudul Ibu dan Ramadhan. Linda membawakan puisi tersebut dengan penghayatan penuh dan pas. Beberapa kali saya curi pandang ke Pepih yang sepertinya takjub juga tulisannya diadaptasi oleh Unang menjadi puisi yang indah.

Namun bintang bukber kemarin siapa lagi kalau bukan blogger yang juga wartawan dan seniman Jodhi Yudono. Jodhi perform menembangkan beberapa lagu karyanya dengan iringan gitar dan biola. Jodhy berhasil membius para blogger dengan lagu-lagunya yang mengingatkan saya pada Leo Kristi. Ini kedua kalinya saya melihat mas Jodhi perform menyanyi, sebelumnya saya sempat terkagum-kagum dengan penampilannya di ajang Mochtar Lubis Award Agustus lalu. Tapi kali ini saya lebih puas, karena Jodhi manggung tanpa jarak dengan audiens.

Meski Jodhi saya anggap bintang malam itu, rupanya ia enggan menjadi bintang sendirian. Iapun mendaulat Linda Djalil untuk bersaksi mengenai kisah romansanya dengan penyair si burung merak mendiang WS.Rendra. Mungkin ini merupakan kali pertama Linda bicara terbuka di depan audiens mengenai kisah masa lalunya yang kemudian mengilhami sebuah puisi karangan si burung merak berjudul Pamflet Cinta.

Jodhi juga mengajak Linda berduet. Jodhi menyanyi, Linda baca puisi. Duet ini mampu membuat ruangan Dapur Sunda riuh. Linda membaca puisi Rendra itu dengan semangat yang luar biasa. Rohnya dapet, feel-nya terasa. Ya iyalah, puisi ini suka tidak suka punya cerita masa lalu yang very romantic, setidaknya bagi mendiang Rendra.

Di ajang ini saya juga bertemu dengan Yudiantoro, blogger yang juga staf ahli di TVRI. Namanya sudah saya tahu dari situs tetangga sebelah. Dari dia saya banyak tahu bagaimana pengembangan TVRI sekarang setelah menjadi lembaga penyiaran publik. Yudi juga mengajak Embie C.Noer yang menjadi pemrakarsa paguyuban pecinta TVRI.

Ke depan Yudi akan mengajak blogger Kompasiana yang peduli pada nasib TVRI untuk bergabung urun rembug membicarakan seperti apa sih TV yang diinginkan publik. Sebuah tawaran yang menggiurkan, bukan karena saya berlatar televisi, tapi lebih pada keprihatinan dan cara melihat yang sama mengenai perkembangan pertelevisian kita yang makin jauh dari budaya kita sendiri.

Lain itu, kita yang hadir juga berhasil mengumpulkan sumbangan bagi korban gempa bumi Jawa Barat. Dari sini terkumpul sekitar 1,6 juta rupiah yang kemudian diserahkan pada Tauvik Miharja untuk disalurkan melalui Dana Kemanusiaan Kompas. Ini merupakan hajat dadakan yang dimulai dari email di facebook. Kami ingin kopi darat Kompasiana tak hanya berisi tawa-tiwi, tapi juga kepedulian. Dan langkah ini adalah awal dari sebuah gagasan besar Kompasiana Peduli di masa datang.

Di ujung acara semua yang hadir diberi oleh-oleh roti gambang yang tergolong langka. Roti ini merupakan pemberian dari mbak Rosi, seorang blogger yang mukim di Auckland Selandia Baru. Karena jarang, roti ini jadi spesial. Apalagi yang mengirimkannya di seberang lautan. Thx ya mbak Rosi. Kapan-kapan kopdar Kompasiana di NZ boleh juga. hehehe…

Hmm….thx ya untuk semua yang hadir. Indah memang persahabatan di Kompasiana.

Kemesraan Komunitas di Be Blog

13 September 2009 syaifuddin Tinggalkan komentar

Kekuatan sebuah komunitas bisa dilihat dari keakraban dan perasaan at home yang dirasakan anggotanya. Tapi bagaimana mengukur keakraban sebuah komunitas yang usianya masih seumur jagung seperti Blogger Bekasi dot com?

Orang luar mungkin akan surprise melihat yang dipertunjukan para blogger anggota komunitas Be Blog saat buka puasa bersama hari Sabtu lalu. Buka puasa ini adalah yang pertama digelar secara terbuka. Sebelumnya beberapa pengurus Be Blog sudah buka bareng secara terbatas.

Mayoritas anggota Be Blog yang hadir di Bekasi Cyber Park baru pertama kali bertemu. Selama ini kami umumnya baru temu maya dengan saling membaca tulisan, berkomentar atau saling memberi support.

Meski baru pertama, suasana sudah terbentuk sedemikian rupa. Guyub kata orang timur. Mungkin karena kita sudah sehidup se-Bekasi– meminjam istilah mas Eko Eshape dan Daeng Amril yang sehidup se-Cikarang. Kami bagai magnet yang tinggal disatukan. Karena kami menggunakan satu bahasa, bahasa blogger. Jadi tak terlalu sulit untuk kami nge-blend.

Saya sendiri dengan beberapa aktivis Be Blog sudah seperti sodara sendiri, karena kita lebih dulu bertemu di Kompasiana. Ke depannya, kita akan menularkan energi positif Kompasiana di Be Blog. Semoga kami bisa merawat kebersamaan ini menjadi sebuah kekuatan bagi Bekasi. Kami ingin blogger Bekasi menjadi pemain utama, pengusung isu persoalan kekinian Bekasi.

Selain membicarakan sejumlah rencana ke depan, acara bukber diselingi diskusi buku Pak Dhe Ngeblog karya mas Eko Eshape. Hasil penjualan buku indie ini didedikasikan penulisnya bagi kegiatan Be Blog. Hmm…tengkyu ya mas Eko. Semoga rejekinya mengalir bagai samudra.

Dan di penghujung acara, sebuah interupsi diberikan anak istri mas Eko. Saya kira interupsi ini bakal dilakukan dengan seru seperti petualang politik di parlemen sana. Nyatanya, interupsi kecil ini dilakukan istri mas Eko karena akan berbagi kebahagiaan. Mereka menyerahkan sebuah lukisan karikatur mas Eko hasil karya 2 putrinya. Kejutaan yang manis di penghujung acara.

Tulisan ini diposting juga di sini.