Arsip

Posts Tagged ‘antv’

Gonjang-ganjing di TV Swasta Kita

3 November 2009 syaifuddin 3 komentar
Liputan6-logo-a

Liputan 6 SCTV

Dunia broadcasting kita akhir-akhir ini goyah. Kabar tak menyenangkan menyeruak begitu cepatnya. Akhir pekan lalu seorang kawan lama di Sctv menulis sebuah notes di Facebook yang mengabarkan perpisahannya dengan Redaksi Liputan 6. Setelah 13 tahun bersama kapal SCTV, ia ‘dipaksa’ untuk mengundurkan diri secara massal bersama 120-an karyawan.

Jumlah ini tak sebanyak kabar yang saya dengar sebelumnya, yang menyebut sekitar 500 karyawan SCTV di-phk. Tapi apapun itu, jumlah itu cukup membuat terhenyak. Pengunduran diri itu sendiri dibungkus dengan label yang cantik ‘pensiun dini’. Inikah jawaban dari rumor yang beredar beberapa bulan terakhir dari Senayan City markas Liputan 6?

Saya sudah mendengar kabar tak sedap macam ini sejak beberapa waktu. Tepatnya sejak gonjang-ganjing terjadi di Liputan 6 saat pencopotan Pemred Liputan 6 Rosiana Silalahi. Pencopotan Rosi kemudian diikuti dengan penggeseran besar-besaran awak redaksi. Ada yang tak boleh siaran lantaran memprotes pencopotan Rosi, dan ada pula yang dilempar ke bagian non news.

Sungguh situasi yang saya bayangkan tidak nyaman. Kebersamaan sebagai ciri khas kerja jurnalistik pastinya sudah tak ada lagi di sana. Tangan kekuasaan kemudian mengubah semuanya, mulai dari kebiasaan kerja, perombakan tim, hingga format siaran. Pemred kemudian dipegang langsung sang pemilik modal.

Bagi pemirsa, seperti yang saya rasakan, layar Liputan 6 kemudian tak lagi secantik dan sedinamis dulu. Tak ada gaya siaran Bayu Sutiono yang penuh greget, tak ada lagi gaya tegas Rosi saat talk show. Bahkan momen Pemilu dan Pilpres yang biasanya menjadi kekuatan SCTV, berlalu begitu saja, tanpa sesuatu yang spesial.

Bagi pemirsa dan dunia jurnalistik TV, ini kemunduran. Suka tak suka Liputan 6 SCTV adalah sebuah ikon berita TV di Indonesia. Saya tahu persis mereka membangun  kejayaan dari bawah, dari kondisi yang amat sangat pahit dengan sokongan dana yang minim di awal pendirian Liputan 6.

Perlahan dengan kerja kerasnya, Liputan 6 kemudian menancapkan tajinya. Bahkan menjadi acuan serta rujukan banyak kalangan, termasuk para pengambil keputusan di negeri ini.

Kebesaran Liputan 6 dibangun dengan mengedepankan kapabilitas dan kredibilitas, sesuai dengan motonya Aktual, Tajam, Terpercaya.

Saya sendiri tak tahu pasti ada apa di internal SCTV sehingga harus mem-phk karyawan sebanyak itu. Apakah ini karena imbas krisis keuangan Amerika? Saya kok tak terlalu percaya. Karena setahu saya, kondisi keuangan stasiun TV ini lumayan sehat dibandingkan beberapa stasiun TV yang lain. Ataukah ini cara perusahaan mengurangi SDM tetap dengan memperbanyak karyawan kontrak? Entahlah?

Situasi berbeda tampaknya juga dialami 2 stasiun TV lainnya. TPI sedang menunggu putusan kasasi kasus Pailit yang diajukan Crown Capital. Sementara kabar gonjang-ganjing lainnya datang dari stasiun tv milik Bakrie, Antv. Kabarnya mereka menghadapi situasi serupa dengan Sctv pasca hengkangnya raksasa media Rupert Murdoch selepas lebaran lalu.

Categories: media Tag:, , , ,

Pailit

27 Oktober 2009 syaifuddin 3 komentar

Pailit bukan barang baru bagi saya. Makanya saat tempat kerja saya digugat pailit, saya tak seheboh kawan-kawan lainnya. Maklum sudah pernah mengalaminya.

Sekian tahun lalu saat di perusahaan lama –yang kebetulan sama jenis usahanya dengan yang sekarang, pailit menjadi kata-kata menakutkan. Saat itu terbayang bakal menganggur dengan anak istri yang harus dinafkahi.

Bayangan suram masa depan menghantui saya. Apalagi di kantor situasi pun mendukung. Fasilitas kantor makin minim. Line telepon yang biasanya puluhan, perlahan berkurang dan menyisakan 4 line. Perubahan drastis yang membuat tak nyaman.

Untungnya, perusahaan lama akhirnya tak jadi dipailitkan. Gugatan pailit berhasil digagalkan dan hingga kini perusahaan tersebut masih eksis.

Kondisi sebaliknya kini saya alami lagi. Secara keuangan, kondisi tempat kerja saya sekarang masih jauh lebih baik dari tempat kerja dulu saat digugat pailit. Malah perusahaan ini tergolong sehat. Makanya agak aneh tiba-tiba ada yang gugat pailit lantaran dianggap tak bisa bayar hutang.
Lho?

Bersiap untuk kondisi terburuk adalah lebih baik. Tapi siapa yang mau menampung? Atau inikah saatnya untuk switching channel, total ke wirausaha?

Bagaimana menurut anda?

KPI Hentikan “Makin Malam Makin Mantap”

Komisi Penyiaran Indonesia kembali menghentikan sebuah program televisi nasional. Program Makin Malam Makin Mantap (4M) yang tayang di Antv mulai 9 Oktober ini dihentikan untuk sementara waktu. Penghentian acara variety show yang ditayangkan tiap Senin-Jum’at jam 21.30 hingga 23.00 WIB itu maksimal selama dua bulan.

Kenapa acara ini dihentikan?

KPI mendasarkan tindakannya pada tayangan 4M tanggal 2 Oktober lalu. Sepanjang program, menurut KPI terus menerus dibicarakan payudara dan alat kelamin secara vulgar. Selain itu, pembawa acara wanita yang berperan sebagai suster cenderung menampilkan perilaku dan tutur kata yang seronok. Bahkan sempat menyebut alat kelamin laki-laki dalam bahasa yang kasar dan tidak sopan.

KPI menilai program tersebut melanggar undang-undang penyiaran serta standar program siaran. Keputusan ini sendiri diterima oleh pihak Antv dalam forum klarifikasi yang dihadiri diantaranya ketua KPI Pusat Sasa DJuarsa Sendjaja serta Direktur Antv Dudi Hendrakusuma.

Saya bukan penggemar acara ini. Namun beberapa kali sempat menyaksikan acara yang dipandu Tora Sudiro dan Vincent Rompies ini. Kesan saya kedua presenter yang maunya jenaka, kadang kelepasan melempar joke atau humor yang ’saru’, agak menyerempet porno malah. Mungkin maunya melucu tapi yang terdengar malah ‘aneh’.

Kebetulan saya juga tak menyaksikan acara 4M yang dikomplain KPI itu. Tapi kalau benar banyak joke atau obrolan saru soal alat vital di sepanjang acara, jelas itu sudah keterlaluan. Apa tujuan sebenarnya acara ini? Menghibur? Mengapa harus jorok?

Saya jadi ingat dengan penghentian program 4 Mata di stasiun Trans 7 beberapa waktu lalu. Saat itu –kebetulan saya nonton– seorang tamu acara Empat Mata memakan hewan kodok dengan cara yang menjijikkan. Kodok yang masih hidup, digigit hingga mengeluarkan darah. Hiii…Maunya mungkin memperlihatkan aksi nekat yang luar biasa, namun kesannya malah sadis!

Namun yang lebih miris keputusan KPI saat itu disikapi Trans7 dengan meluncurkan acara sejenis yang diberi label Bukan Empat Mata. Pensiasatan yang sangat tak elok. Hanya demi menangguk keuntungan, acara itu tetap diproduksi. Memang tak ada aturannya sebuah acara yang dimatikan kemudian dihidupkan dengan nama lain. Itu sah sah saja, tapi tak etis lah. Publik kadung tahu seperti apa kemasan 4 Mata sebelum dihentikan itu.

Saya menduga Antv pasti melakukan hal yang serupa. 4M meski per 9 Oktober dihentikan, pastinya bakal disiapkan penggantinya, yang mungkin namanya cuma plesetan dari nama program sebelumnya. Mungkin 4M diganti menjadi 5M, atau Makin Malam Makin Asyik… Who knows?

Berkaca dari kasus 4 Mata yang berubah wujud menjadi Bukan 4 Mata, tampaknya bagian program acara sebuah tv justru menjadikan keputusan penghentian program oleh KPI sebagai celah promosi gratis. Program tersebut menjadi lebih populer, atau setidaknya mengusik pemirsa yang belum pernah menonton menjadi minimal ingin tahu.

Ada yang aneh mengapa penghentian 4M tidak langsung dilakukan begitu surat ketetapan KPI bertanggal 6 Oktober keluar? Apakah KPI tunduk pada stasiun TV yang minta waktu mencari pengganti acaranya? Nanti kita tanya ke KPI.

diposting disini saat KPI keluarkan putusan penghentian program 4M