Speedy…Speed that you can’t trust!

speedySaya adalah pelanggan speedy Telkom sejak lebih dari 2 tahun. Sebelumnya saya menggunakan layanan telkomnet instan. Karena bermasalah akhirnya Telkomnet kami tinggalkan. Dibandingkan dengan Telkomnet, Speedy memang jauh lebih bagus. Tapi eits..nanti dulu.

Selama rentang waktu tersebut saya mengalami banyak hal yang tidak menyenangkan. Mulai dari kecepatan yang turun naik, tiba-tiba jaringan putus, hingga mati berhari-hari. Selain persoalan jaringan, saya juga kerap mengalami problem dengan modem.

Biasanya kalau ada trouble, customer service akan memandu langkah darurat apa yang harus saya lakukan. Sering persoalan selesai dengan panduan by phone, namun tak jarang pula masalah tak kelar. Jika ini terjadi, biasanya akan ada petugas yang datang.

Selesaikah dengan kedatangan peugas? Tak selalu. Pernah suatu kali petugas datang dan masalah selesai. Tapi begitu petugas pergi, masalah pun datang lagi! Hingga akhirnya mereka menawarkan modem baru lain merk. Jelas kami tolak, karena masalahnya saya yakin bukan pada modem. Setelah berdebat panjang lebar kami tetap menolak untuk mengganti modem yang artinya harus keluar uang sekian ratus ribu.

Anehnya, setelah itu internet lancar lagi.

Belakangan kondisi tidak stabil kembali kami alami. Capek juga kalau harus marah-marah di telepon pada petugas. Selain kerap percuma karena seringkali mereka juga tak mengerti persoalan, marah malah menimbulkan penyakit.

Entah sampai kapan speedy di rumah bakal aktif lagi. Saya sendiri sudah sampai pada kesimpulan akhir bakal menghentikan langganan speedy. Cukup lah dua tahun yang menyebalkan. Kini saya tak lagi menggantungkan pada layanan speedy di rumah. Karena saya juga pakai operator internet lainnya.

Heran jega dengan PT.Telkom, sebuah BUMN besar, kok mengabaikan konsumen. Kenapa kami konsumennya tak dirawat. Kehilangan satu konsumen mungkin tak mereka pusingkan, toh nilai nominalnya tak seberapa. Tapi sadarlah satu konsumen pergi dengan membawa kekecewaan, maka akan banyak orang yang terbuka matanya untuk tak menggunakan jasa Telkom Speedy. Apalagi kabar buruk pelayanannya sudah menyebar bagai virus di internet.

Jadi jangan tertipu dengan slogan Speedy…Speed that you can trust! Kalau kebanyakan yang komplain mengenai layanan Speedy, bukan tak mungkin menjadi Speedy…speed that you can’t trust!

Perlukah Kita Minta Kompensasi PLN?

Listrik

Listrik

Selasa lalu PT.PLN memasang iklan permintaan maaf di harian Kompas. PLN minta maaf atas pemadaman listrik bergilir yang menimpa sebagian warga Jakarta dan terjadi akibat terbakarnya trafo di gardu induk tegangan tinggi Cawang Jakarta.

Langkah ini merupakan pertama kali dilakukan PLN. Selama ini PLN sering cuek bebek jika mereka melakukan pemadaman listrik sepihak. PLN tak pernah memikirkan dampak pemadaman dan tak pernah merespon komplain pelanggan.

Padahal akibat tindakan PLN melakukan pemadaman listrik, kerugian materi yang diderita pelanggan tak sedikit. Yang paling terasa adalah tak berfungsinya alat-alat rumah tangga yang menggunakan sumber listrik. Belum lagi mereka yang mempunyai usaha rumahan dengan listrik sebagai sumbernya, kerugian tak terhitungh lagi.

Anehnya selama ini tak pernah ada kompensasi yang diberikan oleh PT PLN bagi pelanggannya. Pelanggan dipaksa memakan semua kerugian sendirian. Untung dimakan PLN, kalau rugi di pihak pelanggan ya rasakan sendiri.

Kalau melihat logika berpikir PLN, perlukah kita pelanggan listrik meminta kompensasi pada PLN akibat pemadaman listrik? Karena jika dibiarkan, PLN akan terus bersikap seolah tak bersalah melakukan pemadaman sepihak. Padahal ada konsumen yang dirugikan akibat tindakan mereka.

Untuk layanan listrik di negeri ini, pelanggan memang bukan raja. Pelanggan memang hanya hamba sahaya yang selalu sial nasibnya.

*postingan ini juga dimuat di sini.

Sengsaranya Jadi Penumpang KRL Ekonomi

Krl Ekonomi

Krl Ekonomi

Jangan pernah jadi penumpang KRL ekonomi kalau tak mau sengsara! Ini bukan nasehat tapi wanti-wanti. Pagi tadi saya lagi-lagi dapat pengalaman buruk saat menumpang kereta rakyat itu.

Nasib baik memang sedang tak berpihak pada saya akhir-akhir ini. Naik KRL Jabotabek selalu dapat pengalaman buruk. Anehnya, selalu dapat pengalaman jelek kok masih mau-maunya naik KRL!

Saya memang aneh, selalu berpikir PT.KAI sudah melakukan perbaikan atau setidaknya belajar dari pengalaman buruk penumpang sebelumnya. Sehingga mereka tak akan lagi menyakiti hati penumpang setianya.

Sesungguhnya perjalanan by train saya pagi tadi nyaris mulus tiada cela. Dari stasiun Gondangdia Kereta hanya berhenti sekian menit –mungkin 2 hingga 3 menitan– untuk naik turun penumpang. Setelah enam stasiun perhentian kereta berjalan mulus, saya sudah girang karena bakal bisa sampai rumah lebih pagi.

Namun mimpi buruk itu ternyata terjadi di stasiun pasar minggu. Lazimnya kereta ekonomi yang selalu ngalah saat kereta bagusan lewat, pun begitu pula dengan kereta yang saya naiki. Selama ini paling-paling kita tertahan sekian menit saja menunggu hingga kereta kelas bagus lewat. Perlu penyamaan persepsi dulu, yang saya maksud kereta bagusan itu cuma beda di AC dan jumlah penumpang. Lainnya tidak.

Yang terjadi tadi pagi, kereta tertahan di stasiun pasar minggu nyaris 45 menit demi memberi jalan pada kereta bagus itu. Kesal, sebal, ngantuk jadi satu. Sepanjang penantian yang tak berujung itu, saya mengutuk keras semua pelaku industri kereta jabotabek. Apakah begini memperlakukan penumpang yang bayar, meski yang dibayar cuma 1.500 perak?

Tak ada penjelasan mengapa begitu lama kami tertahan di stasiun, tak ada secuil kata maaf dari kepala stasiun atau siapa lah yang berwenang. Benar-benar penumpang cuma dijadikan catatan statistik penambah data kenaikan jumlah penumpang. Masa bodoh dengan kenyamanan atau waktu berharga yang hilang percuma.

Mungkin dalam pikiran pengelola kereta jabotabek, peduli setan dengan penumpang (miskin). Toh saya bukan yang pertama dongkol dengan cara-cara seperti ini. Besok toh penumpang ‘kere’ seperti saya bakal tetap naik kereta!

Duh, kalau begitu cara berpikir mereka, pengelolaan kereta api komuter jabotabek tak akan pernah beranjak, malah cenderung makin kacau. Paradigma penumpang adalah raja rasanya cuma berlaku di bidang lain, bukan layanan umum transportasi massal KRL jabotabek.

Kalau di negara maju, keluhan semacam ini pasti ditanggapi dengan segera oleh pengelola layanan publik. Mereka pasti malu kalau kinerjanya buruk dan membuat tak nyaman konsumennya.

Tapi kalau disini? Berharap ada permintaan maaf saja, rasanya itu sangat mahal.

*tulisan ini diposting juga di sini dan di situ.

Kapan KRL Jabotabek Profesional?

krl jabotabek

krl jabotabek

Saya kerap dibuat kesal saat akan naik kereta rel listrik (KRL) Jabotabek Jakarta – Bogor. Maksud hati memilih naik KRL agar menghemat waktu, semuanya buyar gara-gara kelakukan tak profesional petugas di loket dan penjaga pintu masuk.

Cerita begini, suatu pagi dari kantor di Gondangdia, dengan langkah tergesa saya tanya petugas kereta apa yang paling cepat tiba di stasiun gondangdia tujuan bogor? Petugas loket bilang kRL Ekonomi jam 07.15. Keterangan si bapak diperkuat petugas pintu masuk yang bilang, “Kereta sudah di juanda”.

Senang banget saya mendengarnya. Juanda, wah udah deket dong. Tinggal satu stasiun lagi dong, berarti kurang dari 10 menit tuh sampai gondangdia.

Tapi apa yang terjadi? Ternyata oh ternyata….setengah jam berlalu tak satupun kereta datang menjemput saya (halah memangnya siapa saya?). Yang bersliweran di depan saya justru kereta bagus yang bukan tujuan saya.

Sudah kadung menunggu, saya teruskan pekerjaan menyebalkan itu. Hingga sejam yang membuat mata makin berat dan lelah jiwa raga, tak ada kereta yang lewat.

Karena Kesal, akhirnya saya tinggalkan stasiun keparat itu. Saya ambil langkah mantap naik metro mini di depan stasiun. Belum sampai kaki menginjak metro mini, kereta idaman saya pun tiba. Karena jaim saya emoh balik ke dalam dan meneruskan petualangan menggunakan metro mini.

Ini bukan pertama kali saya dikecewakan petugas yang salah memberi informasi. Lho, bukankah petugas juga manusia? Wajar dong salah, toh cuma sedikit, beda-beda tipis lah kata abege.

Sampai kapan kita mentolerir kesalahan aparat. Apalagi sudah salah, mereka terbukti tidak punya panduan informasi yang akurat. Padahal, lazimnya mereka ditugaskan diposnya lantaran punya kualifikasi yang sesuai.

Bagaimana KRL mau didekati pelanggan baru kalau pelanggan lama kerap dikecewakan? Cukuplah manajemen by insiden yang selama ini diterapkan. Sebagai operator pelayan publik, wajib hukumnya PT KAI Commuter menjamin kenyamanan penumpang.

Kalau kerap membuat jengkel begini, bagaimana mereka akan bersaing dengan perusahaan sejenis, jika sewaktu-waktu keran swasta untuk mengelola kereta api dibuka pemerintah?

*tulisan ini juga diposting di sini

Edan, Sutradara Joko Anwar Bugil!!

Joko Anwar

Joko Anwar

Edan, begitu saya tahu aksi bugil sutradara muda Joko Anwar Rabu lalu. Ya, sutradara yang dipuji karena filmnya Janji Joni itu, nekat berbugil ria di minimarket Circle K. Ini dia lakukan setelah mempublish ‘janji Joko’ di akun Twitter-nya. Di akun twitternya dia janji bakal bugil, polos tanpa sehelai benang pun jika dia berhasil menggaet 3000 follower di twitter.

Joko tak menulis panjang lebar dalam akun twitternya, cuma sepenggal kalimat If I got my 3000th follower today, I’ll go into a Circle K naked.” Cuma itu. Tapi apa yang terjadi, kekuatan dunia maya yang dahsyat lantas membuat akun twitter Joko diserbu para pengikut atau follower. Ribuan orang masuk jadi follower.

Dan Rabu dinihari Joko Anwar pun melaksanakan ‘nazar’nya, telanjang di sebuah gerai Cirkle K di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Tempat itu (mungkin) dipilih lantaran sepi pengunjung, mengingat penghuni Bintaro sebagian besar pada mudik. Entah mengapa dia gak pilih di Indomaret atau Alfamart di komplek saya, pasti disambitin anak-anak tuh!

Sebagai sensasi okelah, Joko mendapatkan itu. Nama dia juga dalam sekejap menjulang tinggi. Bahkan tag cirkle K menjadi trending topics di twitter. Kalau hanya bertujuan mencari sensasi, pastinya ulah Joko tercapai. Setidaknya para follower Joko di dunia maya sudah melihatnya melalui foto yang diposting.

Tapi saya kira Joko tak berhenti di sekedar mencari sensasi. Di salah satu postingannya, Joko berucap,“A promise is a promise, Mr. Politicians!.” Sangat jelas sebenarnya ke mana arah aksi Joko kemarin itu dilakukan. Joko sukses menyindir para politisi negeri ini yang kerap mengumbar janji tanpa pernah merasa berdosa tak menepatinya. Momen yang pas diambilnya menjelang para politisi senayan dilantik Oktober mendatang.

Internet memang memungkinkan penggunanya bebas melakukan ekspresi apapun, tulisan, verbal maupun visual. Kalau di negeri yang bebas nilai seperti di barat, mungkin aksi semacam ini ada wadahnya. Tapi kalau di negeri ini?

Terus terang saya bingung, mengapa pilihan aksinya harus telanjang ya??? Apalagi ia melakukannya di tengah suasana Hari Raya Iedul Fitri. Kalaupun Joko tak merayakan, jelas aksi bugil Joko telah mencederai suasana hari kemenangan umat muslim.

Buat Joko, tak adakah aksi yang lebih cerdas dari sekedar buka baju? Mengapa tak melakukan aksi lain yang jauh lebih bernilai buat orang lain?

Apa kabar UU anti pornografi ya??

Atau jangan-jangan ini cuma sensasi menjelang promosi film besutan Joko Anwar terbaru? Who knows???!!!

*gbr diambil dari sini.

See You Next Ramadhan….!

Ramadhan..I'm In Love

Ramadhan..I'm In Love

Dua hari ini saya begitu kehabisan kata-kata. Ramadhan yang didamba segera pergi. Dan hari ini usai sudah ramadhan. Ada yang hilang. Dan kehilangan kali ini begitu membekas dihati.

Akankah saya diberi rizqi usia sehingga bisa sampai di ramadhan berikutnya? Apakah Allah masih sayang pada saya sehingga diberi kesempatan memperbaiki diri lagi ? Dan sejuta pertanyaan lagi menggunung dalam benak.

Entah mengapa kesedihan perpisahan pada ramadhan kali ini begitu mengusik diri saya, tidak seperti ramadhan yang lalu. Mungkin usia menjadi faktor utama. Makin bertambahnya usia berarti makin sedikit jatah hidup seseorang di dunia ini.

Saya sedih karena sadar dengan penuh belum beribadah dengan baik. Meski selalu ada ‘sesuatu’ yang saya dapat tiap kali ramadhan, saya merasa belum apa-apa.

Ramadhan kali ini saya jalani dengan banyak ujian, utamanya soal penataan emosi. Saya sudah berupaya maksimal menempatkan emosi pada tataran tertentu, namun entah mengapa kerap ‘kalah’. Namun saya tak akan pernah menyerah kalah. Memang tak mudah menata emosi di tengah banyak masalah, persoalan mulai dari masalah kerjaan, masalah rumah hingga persoalan lainnya yang kadang tak bisa diprediksi hadirnya.

Karenanya, jika masih diberi nikmat usia, saya akan menebus ramadhan berikutnya dengan ibadah yang jauh lebih baik dari sekarang. Percuma berjanji memang kalau tak melakukan. Tapi berjanji bukankah sebagian dari niat baik?

Insya Allah kita masih jumpa di ramadhan berikutnya. Ingin rasanya berucap Ramadhan jangan pergi…Tapi siapa yang bisa mencegah datangnya hari kemenangan?

Selamat hari raya Iedul Fitri, Taqabalallahu minna wa minkum, taqabal ya karim…..Maaf lahir batin!!

Noordin Tewas, Selesaikah Teror?

Noordin M Top

Noordin M Top

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri sore ini memastikan salah satu yang tewas ditembak dalam pengrebekan teroris di Jebres, Solo dinihari tadi adalah teroris kelas wahid yang selama ini jadi DPO Polri yakni Noordin M Top. Pernyataan Kapolri didasarkan pada pengecekan data sidik jari Noordin yang dimiliki Polri yang dicocokkan dengan data Polisi Diraja Malaysia.

Sedikitnya ada 14 titik kesamaan antara sidik jari korban dengan arsip data yang dimiliki Polri.

Sampai disini saya dan juga publik di tanah air bisa jadi lega. Karena musuh bersama yang selama ini menjadi momok pengganggu ketenangan dan keamanan di negeri ini sudah berhasil dilumpuhkan.

Butuh waktu 9 tahun bagi Polri untuk membekuk seorang teroris asal Malaysia ini. Waktu yang cukup panjang untuk menangkap seorang yang sudah diketahui TKP-nya. Karena selama kurun waktu tersebut Noordin tak pernah jauh dari Indonesia. Ia berkeliling ke sejumlah daerah, menetap dan berbaur dengan warga setempat. Bahkan kabarnya ia sempat menikah beberapa kali dengan perempuan setempat.

Licinnya perburuan Noordin menandakan sang teroris bukanlah orang sembarangan. Ia kerap berganti rupa bahkan sempat menjalani operasi plastik atau face off. Ia begitu dihormati anak buah dan orang terdekatnya sehingga mereka rela bersatu padu mengunci mulut mengenai keberadaan Noordin. Semua itu berlangsung hingga 9 tahun sodara-sodara.

Pertanyaan paling esensi saat ini, akankah kegiatan teror di negeri ini selesai dengan kabar kematian Noordin? Ataukah ini merupakan awal dari sebuah era teror without Noordin? Karena kepemimpinan suka tak suka memiliki life cycling juga. Bisa jadi memang kini saatnya Noordin Rest in Peace, beristirahat setelah lelah meneror kita semua.

Benarkah tak ada lagi mata rantai kejahatan Noordin setelah ini? Bagaimana dengan upaya regenerasi teroris seperti yang kerap didengungkan? Bukankah pelaku teror akhir-akhir ini bukan dari jaringan Jamaah Islamiyah yang dikenal selama ini?

Polri tak perlu bertepuk dada dengan prestasi terakhirnya ini. Saya kok melihatnya ini bukan sebuah prestasi yang monumental, karena harus butuh 9 tahun untuk membekuk Noordin. Apalagi sebelumnya Polri melalui ‘mata kanan’nya yakni tv one, kadung melansir berita salah kematian Noordin. Sebuah kecelakaan sejarah yang semoga tak pernah terulang lagi.

Ke depan, saya berharap episode teroris siapa pun itu di negeri ini usai. Agar mimpi kita saat tidur paripurna, melihat bangsa ini bergerak.