Dukungan Fesbuker Untuk Chandra dan Bibit

77148_bibit_samad_riyanto_chandra_m_hamzah

Bibit dan Chandra

Ditahannya wakil ketua KPK Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto oleh polisi sejak kemarin disesalkan banyak pihak. Apapun alasan polisi, jelas ini sebuah upaya pelemahan fungsi Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebuah upaya yang sangat tidak populer, jauh dari ekspektasi rakyat.

Polisi lupa, kita saat ini sedang berperang melawan korupsi, dan yang berada dalam upaya tersebut bukan hanya KPK, tapi seluruh rakyat. Kita sudah muak dengan korupsi. Karena korupsi bukan saja menggerogoti keuangan negara, namun juga menjadikan kita bangsa yang terbelakang. Gemar mengambil milik orang lain.

Gerakan rakyat mendukung Chandra dan Bibit pun sejak kemarin sudah masif diperlihatkan. Puluhan intelektual sipil seperti Ery Riyana, Eep Syaefulloh, Ahmad Syafii Ma’arif, hingga intelektual muda Anies Baswedan menjaminkan dirinya bagi C&B. Mereka minta keduanya dikepaskan dengan jaminan para tokoh tersebut. Karena mereka percaya, keduanya tak akan melarikan diri atau tak akan membuang barang bukti.

Belum cukup dengan itu, kalangan pengguna facebook atau fesbuker pun menggalang dukungan. Hingga pukul 15.06 WIB, dukungan bagi C&B sudah mencapai 25.637 fesbuker. Gerakan ini sendiri mempunyai target dukungan sejuta fesbuker.

Bukan perkara mudah mengumpulkan dukungan sebanyak itu. Tapi bukan perkara sulit pula jika fesbuker memang concern pada gerakan anti korupsi. Karena kini saatnya kita mempunyai kepedulian yang sama terhadap gerakan ini. Ini juga kalau para fesbuker masih ingin melihat dan merasakan Indonesia menjadi lebih baik.

Dukungan semacam ini bukan pertama kali terjadi. Ingat saat Prita Mulyasari tersangkut kasus dengan RS.Omni Internasional Serpong. Ribuan fesbuker dengan rela memberi dukungan dalam berbagai cara.

Entah apakah statemen politik (political statement) macam ini efektif, kemudian hari terbukti kasus Prita menjadi magnet yang luar biasa bagi banyak kalangan. Selain media online, pers mainstream pun memberitakan fenomena Prita dengan masifnya dukungan masyarakat maya pada kasusnya.

Bahkan bagi mereka yang bukan fesbuker sekalipun, termasuk Presiden SBY pun kemudian mengomentari kasus ini dan berharap diselesaikan secara adil. Dan kita tahu seperti apa ending kasus Prita.

Saya sendiri berharap, apa yang dilakukan fesbuker menggedor perhatian para petinggi negara, utamanya Presiden yang seolah tak ambil pusing dengan pertikaian KPK dan Polri. Presiden harus bersikap jika tak mau ditinggalkan rakyat.

Sekali lagi, inilah saatnya rakyat menagih janji pemberantasan korupsi yang dulu jadi jualan semasa pemilu. Kami tak butuh lip service, tapi bukti nyata. Perang melawan korupsi belum selesai kawan.

Kalau mau gabung, ini link laman Facebook-nya.

 

Mainan Baru Yahoo! Meme

Belakangan saya punya teman baru yang mengasyikkan. Namanya Meme (dibaca mimi). Awas bukan Cut Memey artis yang pernah bikin heboh dulu. Imut ya namanya. Kesannya cute dan girly. Tapi jangan salah, dia bukan seorang cewek.  Ini produk teranyar Yahoo!

Jika melihat selintas pasti akan mengasosiasikannya pada microblogging twitter. Tak salah, Meme memang sebuah microblogging besutan Yahoo! yang tentunya diposisikan berhadapan dengan Twitter atau Plurk yang lebih dulu eksis.

Apa menariknya Meme dibandingkan Twitter? Mengapa harus punya Meme? Toh dengan twitter sepertinya sudah cukup. Apalagi twitter belakangan lagi happening banget. Rasanya para blogger sejati hampir semuanya punya akun di twitter. *namanya juga rasanya, kalo salah ya sorry*

Yang jelas Meme tak membatasi karakter teks yang bisa kita kirim. Mungkin ini karena meme masih dalam uji coba. Beda dengan Twitter yang membatasi postingan teks sepanjang 140 karakter. Jadi kita bisa lebih ekspresif menumpahkan tulisan.

Dari sisi tampilan, Meme menurut saya lebih segar. Tampaknya sesuai dengan style Yahoo! yang akhir-akhir ini mengupgrade tampilannya sehingga terlihat lebih muda dan fresh. Lihat saja warna-warna theme Meme, menggunakan warna dominan yang soft. Dari sisi ini, jelas target pasar yang dituju Meme adalah anak muda, atau bisa dikatakan mereka yang berjiwa muda. Meski tampilan theme berwarna cerah, bukan berarti Meme tak mengakomodir pengguna pria. Meme juga menyediakan warna solid yang cenderung dark. Warna ini biasa disuka kaum adam.

Lalu apa keunggulan Meme dibanding twitter? Selain bisa mengetik teks mini, Meme memberi fasilitas penggunanya untuk mengupload foto, audio dan video. Inilah kelebihan yang ditawarkan Meme dibandingkan twitter. Pengguna Meme akan dimudahkan saat sharing lagu, foto hingga cuplikan video. Untuk video memang masih terbatas sumbernya, dari youtube dan vimeo.Tapi untuk foto, kita bisa upload langsung dari komputer kita.

Oya, Meme juga bisa diakses secara mobile. Sayangnya fasilitas mobile belum bisa dirasakan pengguna dari Indonesia. Fasilitas ini baru bisa digunakan pengguna Meme dari Philipina. Tak apalah, perlahan jika komunitas pengguna Meme di negeri ini makin membesar, bukan tak mungkin banyak pihak yang membuka kerja sama dengan Yahoo!

So, kalau ingin sharing apapun lewat microblogging baru, kenapa tak coba follow saya di Meme. Mudah kok. Yang terpenting kita punya akun di yahoo. Oya, ini akun saya : http://meme.yahoo.com/syaifuddin/

Saya tunggu lho…

Kompasiana Baru, One Stop Blogging

Wajah baru Kompasiana yang diluncurkan sejak pekan lalu benar-benar mengejutkan. Banyak hal baru yang bisa ditemukan di halaman rumah sehat ini. Yang paling mencolok ya rubrikasi di bagian atas situs yang sangat memudahkan pencarian artikel yang kita cari.

Selain itu, tak ada lagi sekat antara Guest, Public atau Journalist blogger. Semua sama dalam posisi dan kedudukan. Jadi buat blogger baru sekalipun, jangan takut kalah sohor dengan para blogger karatan macam kang Pepih, pak Pray, atau Linda Djalil. Jika punya postingan yang menarik pasti dibaca para Kompasianer.

Jika di orde lama Kompasiana, beberapa postingan bisa menjadi “raja”, maka di orde reformasi Kompasiana sistem itu tak ada lagi. Postingan lawas akan otomatis masuk dalam kategori rubrik-rubrik yang tersedia.

Perubahan lain yang saya rasakan adalah soal interaksi. Di wajah baru memang memungkinkan blogger berinteraksi secara intens dengan blogger lainnya. Pendek kata, admin memberi keleluasaan blogger menulis, membaca, mengomentari sekaligus bersahut-sahutan dengan blogger lainnya. Istilah kerennya mungkin one stop blogging. Sekali masuk ke kompasiana banyak yang bisa dilakukan, ngeblog sekaligus bersosialisasi. Namun sampai detik ini, saya sendiri belum bisa memaksimalkan feature ini. Masih coba sana sini, melihat ini itu.

Kalau bicara kelebihan the new Kompasiana, pastilah ada kekurangannya juga. Yang paling saya rasakan adalah tipologi huruf yang digunakan. Terlalu kecil dan tipis, sehingga membuat mata harus ekstra kerja keras. Jelas ini menyulitkan bagi mereka yang memiliki problem dengan mata. Apalagi di Kompasiana banyak juga blogger senior yang aktif menulis. Pastinya mereka juga mengalami hal serupa.

kekurangan lain adalah logo yang kurang catchy. Terlalu biasa malah. Saya lebih senang dengan tulisan Kompasiana yang dulu, lebih elegan. Sekarang kesannya lebih light. Tapi bisa jadi perubahan logo atau tampilan ini punya tujuan besar, membuat rumah sehat ini makin nyaman dihuni. Saya melihat dengan perwajahan dan konsep baru ini, pengelola Kompasiana ingin meraih pasar lebih luas, lebih luas dari pasar Kompasiana sebelumnya.

Sebelum ini banyak kalangan yang melihat Kompasiana terlalu serius. Tulisannya bagus-bagus, tapi membuat kening berkerut saat membacanya. Nah, dengan perwajahan dan konsep barunya, saya yakin makin banyak kalangan yang tertarik dan ingin bergabung. Dengan konsepnya yang sekarang, saya yakin ngeblog di Kompasiana bakal makin seru!

Pailit

Pailit bukan barang baru bagi saya. Makanya saat tempat kerja saya digugat pailit, saya tak seheboh kawan-kawan lainnya. Maklum sudah pernah mengalaminya.

Sekian tahun lalu saat di perusahaan lama –yang kebetulan sama jenis usahanya dengan yang sekarang, pailit menjadi kata-kata menakutkan. Saat itu terbayang bakal menganggur dengan anak istri yang harus dinafkahi.

Bayangan suram masa depan menghantui saya. Apalagi di kantor situasi pun mendukung. Fasilitas kantor makin minim. Line telepon yang biasanya puluhan, perlahan berkurang dan menyisakan 4 line. Perubahan drastis yang membuat tak nyaman.

Untungnya, perusahaan lama akhirnya tak jadi dipailitkan. Gugatan pailit berhasil digagalkan dan hingga kini perusahaan tersebut masih eksis.

Kondisi sebaliknya kini saya alami lagi. Secara keuangan, kondisi tempat kerja saya sekarang masih jauh lebih baik dari tempat kerja dulu saat digugat pailit. Malah perusahaan ini tergolong sehat. Makanya agak aneh tiba-tiba ada yang gugat pailit lantaran dianggap tak bisa bayar hutang.
Lho?

Bersiap untuk kondisi terburuk adalah lebih baik. Tapi siapa yang mau menampung? Atau inikah saatnya untuk switching channel, total ke wirausaha?

Bagaimana menurut anda?

Reuni

Setelah 26 tahun, akhirnya sebagian alumni SDN Grogol Selatan 03 Pagi, sabtu (24 Oktober 2009)  bertemu muka di gedung Pertamina Simprug, Jakarta Selatan. Perjumpaan setelah sekian lama diwarnai cekikikan, saling tebak nama, cerita-cerita seru dan saru saat SD.

Sebagian wajahnya masih mudah dikenali, karena perubahan tidak terlalu drastis. Namun untuk sebagian lagi saya harus memutar otak dengan kencang untuk sekedar mengingat versi kecilnya wajah kawan.

Selain bertemu kawan masa kecil, yang paling membahagiakan dan mengharukan adalah kesempatan bertemu dengan guru. Tidak semua memang, karena sebagian sudah lebih dulu berpulang, seperti Bu Sri Nur Alamsih, Bu Ernalis, Bu Yayah, dan Pak Sanusi. Saya hanya berharap mereka yang sudah berpulang diberi kelapangan di alam kubur dan diberi balasan setimpal atas jasanya dalam dunia pendidikan.

Sementara itu guru yang hadir adalah Pak Gani, Pak Yusuf, Pak Maman, Bu Komariah, Bu Rosadah dan Pak Rusman. Bu Nani batal hadir karena ibundanya baru saja berpulang di Bandung.

Saat kami semua menyanyikan himne guru, sebagian guru tak kuasa menahan air mata. Sampai kapanpun kami memang tak pernah bisa membalas jasa guru-guru. Mereka terlalu luar biasa dalam sepenggal kehidupan kami. Dari merekalah kami bisa baca tulis, mengerti ilmu-ilmu dasar, mengerti akan pekerti, dan memiliki mimpi untuk menjadi sesuatu  kelak di kemudian hari.