Yang Tersisa dari Kenanga

Syukuran @ kenanga

Akhir pekan ini benar-benar istimewa buat saya. Jum’at lalu saya hadir di acara syukuran yang dibuat Kompasianer Linda Djalil di rumahnya yang apik di jalan Kenanga Jakarta Selatan.  ADa sekitar 25-an kawan yang hadir. Semuanya berbahagia atas kesembuhan mbak Linda dari sakitnya.

Kenapa saya merasa istimewa? Karena mabk Linda dedicated acara kemarin tidak buat dirinya sendiri, saya dan juga Kompasianer Novrita Savitri ‘dipaksa’ ikutan merayakan ulang tahun  kami disini. Novrita ultah sehari sebelumnya. Sementara saya 3 hari sebelumnya.

Teristimewa lagi karena ada sajian musik dari idola saya yang juga blogger di Kompasiana, Jodhi Yudhono bareng Irul . . Saya mengagumi Jodhi sebagai penulis ya dari Kompasiana. Tulisan-tulisannya dalem banget dan membawa permenungan. Ia bisa menulis hal-hal ringan namun dengan bahasa yang menawan. Jam terbang dan ‘kesenimanan’ Jodhi membuat tulisannya berbeda.

Kekaguman saya makin bertambah saat saya tahu dia juga jago musik, khususnya main gitar dan menyanyi. Perjuampaan pertama saya dengan Jodhi langsung adalah diajang Mochtar KL\\Lubis Award 2009 lalu. Saat itulah pertama kali menyaksikan mas Jodhi live.

Keren!! Hanya itu yang bisa saya katakan saat itu. Ternyata saya bernasib baik, lewat kompasiana pula kemudia  saya dapat kesempatan melihat lagi aksinya. Saat buka puasa di Dapur sunda, hut Kompasiana di Marios Place, serta di  rumah mbak \Linda.

Hmm…beruntungnya saya bisa berada di barisan depan menyimak musikalisasi puisinya yang memikat. Oiya, sebelum keterusan. Mas Jodhi ini banyak membuat aransemen musik dari puisi-puisi. Tidak hanya puisi karyanya, tapi juga puisi sejumlah seniman lain.

Suaranya menggelegar, dengan permainan gitarnya yang rancak, benar-benar membuat saya teringat pada sosok Leo Kritsi, penyanyi balada yang top di era 70-an.

Cuma itu? Enggak lah. Permainan gitar Jodhi amat padu dengan liukan biola yang dimainkan dengan ciamik oleh Irul, kawan duet Jodhi.

Hadirnya Jodhi dan Irul di Kenanga jelas menjadi kado istimewa bagi saya. Saya yang tengah diberi cobaan atas pekerjaan saya, seolah diberi guyuran air semangat luar biasa. Syair dan pesan lagu-lagu Jodhi membawa saya untuk tetap optimis melaihat masa depan.

Tengkyu mbak Linda yang sudah memfasilitasi kehadiran idola saya mas Jodhi. Terima kasih juga buat Irul, karena tanpa kau sajian musik mas Jodhi kurang sedap. Terima kasih juga buat  semua Kompasianer, 2 kawan dari PSA UI, Sys NS, Ray Sahetapi dan mbak Iin yang mau  ikut ‘gila’ di Kenanga.

Benar-benar malam yang tak terlupakan.

Membaca Mbah Surip Lewat Jodhi

//www.grasindo.co.id)

Membuat buku mengenang seorang kawan yang telah berpulang, rasanya susah-susah gampang. Mudah kalau kita pernah menjadi bagian hidup si tokoh. Kepergiannya malah justru membuka semua sejarah hidup yang kita pernah tahu selama ini. Namun menjadi persoalan yang rumit manakala terbentur harus melakukan verifikasi data atau mengkonfirmasi kisah masa lalu. Bagaimana mau mengklarifikasi, lha wong tokohnya saja sudah tiada!

Semangat itu pula yang saya camkan saat membaca buku “Mbah Surip We Love You Full” karya kompasianer Jodhi Yudono terbitan Grasindo. Meski saya tahu Jodhi sangat mengenal sosok mbah Surip, namun menjadi persoalan tersendiri bagi Jodhi untuk mengklarifikasi sejumah hal. Misalnya soal kisah hidup mbah Surip sebagai pekerja di kilang minyak. Di beberapa kesempatan penyanyi nyentrik bernama asli Urip Ahmad Arianto mengatakan sebelum menyanyi ia pernah bekerja di kilang minyak di sejumlah Negara.

Untuk mengecek kebenaran cerita ini Jodhi sudah berupaya mencari tahu ke berbagai pihak termasuk keluarganya, namun semuanya gelap. Jodhi sendiri tampaknya ragu pada bagian kecil kisah mbah Surip yang ini. Meski di bagian awal dengan gagah Jodhi menceritakan hal itu, namun di bagian lain bukunya justru Jodhi menggugat cerita ini.

Cerita mengenai hal inilah yang membuat saya dan mungkin pembaca lainnya penasaran. Benar-benar untold stories. Almarhum mbah Surip sendiri setiap dipertanyakan mengenai hal ini, jawabannya kerap berubah-ubah. Bahkan lebih sering menimpalinya dengan senyuman dan tawa berderai “Hahaha…hahaha….I love you Full!.” Untuk soal yang satu ini, rasanya hanya mbah Surip dan Tuhan saja yang tahu kebenarannya.

Sementara soal Bulungan, tempat dimana mbah Surip dan Jodhi menjadi bagian dari komunitas seniman di Jakarta Selatan itu, Jodhi bisa mengisahkannya dengan sangat baik. Itu karena mereka pernah bersama-sama menyanyi, berdiskusi, dan tidur di ‘kampus’nya seniman ibukota itu.

Buku ini memang tidak bermaksud menjadi sebuah biografi perjalanan karier seorang mbah Surip. Kalau itu mau anda, jangan pernah baca buku ini.

Jodhi hanya bermaksud mengungkapkan pandangannya mengenai sang kawan dari kacamatanya. Kacamata seorang sahabat. Karena perjalanan hidup mbah Surip sendiri penuh misteri, Jodhi menjadikan buku ini sangat personal. Ia mengungkapkan sosok mbah Surip apa adanya, yang dipenuhi kelebihan dan kekurangan. Sosok yang membumi, setia kawan, dan penolong.

Karena merupakan pandangan seorang kawan, tidak semuanya berisi kisah yang “baik-baik” saja. Jodhi bisa dengan entengnya mengungkap gaya mbah Surip saat manggung di warung apresiasi Bulungan. Atau mengungkap aroma rambut gimbalnya yang kerap meruapkan aroma wangi Rinso. Ini sekedar menunjukkan mbah Surip yang keramas tiga hari sekali, dan bukan menggunakan shampoo namun justru sabun cuci. Jodhi mengungkap itu bukan dengan maksud mengejek atau merendahkan, namun justru menunjukkan kebersahajaan, apa adanya, dan kejujuran seorang Mbah Surip.

Buku ini sengaja memotret sosok kesenimanan mbah Surip dengan kacamata kejujuran seorang sahabat. Paling tidak, Jodhi mengungkap apa yang diketahui dan dirasakannya. Dan ia tidak mencoba masuk ke wilayah abu-abu yang tak diketahuinya secara pasti.

Kalaulah perlu dikritik, ada hal yang kurang dari sebuah buku testimonial macam ini. Mengapa Jodhi tak menampilkan foto-foto kedekatannya dengan mbah Surip semasa hidup hingga akhir hayatnya. Menurut saya ini penting, karena akan memetakan sedekat apa hubungan perkawanan mereka berdua. Dan yang jauh lebih penting, foto akan membantu menjelaskan siapa sosok mbah Surip sebenarnya. Karena pembaca belum tentu ‘ngeh’ dengan sosok mbah Surip yang meninggal dunia di puncak kariernya itu.

Menganggap semua pembaca adalah penggemar mbah Surip adalah salah. Karena dengan demikian membatasi siapa pembaca buku ini.

Apalagi kalau Jodhi mau menambahi dengan dokumentasi foto pribadinya saat mbah Surip berada di tengah komunitas seniman Bulungan, ini akan menjadi memorabilia yang sangat berharga bagi para penggemar mbah Surip.

Tapi apapun itu, melalui buku ini saya bisa mengenang sosok Mbah Surip dengan ujaran khas-nya I love You Full. Ujaran yang membuat semua pendengarnya merasa nyaman, dihargai dan dicintai. Sebuah ungkapan cinta yang penuh dari lelaki yang kini sudah berdamai dengan keabadian.

Tak gendong kemana-mana….tak gendong kemana-mana….

n194956036521_3421

TPI tetap On Air

Semangat gerakan sejuta Fesbuker dukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto hingga kini masih terus bergelora. Meski Sudah berhasil melewati angka satu juta dukungan, namun gerakan sosial ini terus bergema. Apalagi belakangan Polri membuat serangan balik yang hendak menghantam gerakan tersebut.

Belajar dari semangat gerakan terhadap Chandra-Bibit, kawan-kawan stasiun TPI membuat gerakan sejuta tanda tangan mendukung TPI tetap on Air.

Ini bukan gerakan ikut-ikutan. Namun ini merupakan gerakan yang memang dibutuhkan kawan-kawan TPI agar tetap bisa menjalankan misinya sebagai stasiun TV yang paling Indonesia, sesuai mottonya Makin Indonesia Makin Asyik Aja.

Seperti belakangan diberitakan banyak media, stasiun televisi TPI divonis pailit oleh pengadilan niaga Jakarta Pusat beberapa waktu lalu. Jika sudah berkekuatan hukum tetap nantinya TPI harus tutup dan tak lagi bisa siaran. Artinya, akan ada sejarah baru di negeri ini sebuah stasiun TV dinyatakan pailit!

Putusan pailit sendiri bagi karyawan TPI jelas mengejutkan. Karena tanpa ada angin apapun, tiba-tiba pengadilan memutuskan demikian. Karyawan jelas kaget karena selama ini kondisi keuangan perusahaan relatif  ‘aman’. Masalah lengkapnya baca ini.

Saat ini TPI sedang menanti putusan kasasi kasus tersebut. Selain kasasi, berbagai upaya sudah dijalankan serikat pekerja dan manajemen, diantaranya mendatangi sejumlah pihak guna meminta dukungan dari DPR, Komnas HAM, KPI, Dewan Pers hingga Menakertrans. Semua upaya ditempuh demi memperjuangkan hak 1.083 karyawan TPI.

Saya pribadi berharap dukungan lebih banyak lagi dari pemirsa televisi nasional. Karena selama ini TPI termasuk stasiun tv yang konsisten mengangkat seni budaya lokal lebih banyak daripada tv swasta lainnya. Lihat saja selain dangdut, di TPI juga pernah ada ludruk, wayang kulit, lawak, sinetron tradisi, hingga sinetron religi.

Saya kira kita tak ingin budaya lokal nusantara makin tak mendapat tempat lagi jika stasiun televisi yang ‘peduli’ bakal hilang dari udara. Makanya, dukung TPI Tetap On Air di Facebook.

Gonjang-ganjing di TV Swasta Kita

Liputan6-logo-a

Liputan 6 SCTV

Dunia broadcasting kita akhir-akhir ini goyah. Kabar tak menyenangkan menyeruak begitu cepatnya. Akhir pekan lalu seorang kawan lama di Sctv menulis sebuah notes di Facebook yang mengabarkan perpisahannya dengan Redaksi Liputan 6. Setelah 13 tahun bersama kapal SCTV, ia ‘dipaksa’ untuk mengundurkan diri secara massal bersama 120-an karyawan.

Jumlah ini tak sebanyak kabar yang saya dengar sebelumnya, yang menyebut sekitar 500 karyawan SCTV di-phk. Tapi apapun itu, jumlah itu cukup membuat terhenyak. Pengunduran diri itu sendiri dibungkus dengan label yang cantik ‘pensiun dini’. Inikah jawaban dari rumor yang beredar beberapa bulan terakhir dari Senayan City markas Liputan 6?

Saya sudah mendengar kabar tak sedap macam ini sejak beberapa waktu. Tepatnya sejak gonjang-ganjing terjadi di Liputan 6 saat pencopotan Pemred Liputan 6 Rosiana Silalahi. Pencopotan Rosi kemudian diikuti dengan penggeseran besar-besaran awak redaksi. Ada yang tak boleh siaran lantaran memprotes pencopotan Rosi, dan ada pula yang dilempar ke bagian non news.

Sungguh situasi yang saya bayangkan tidak nyaman. Kebersamaan sebagai ciri khas kerja jurnalistik pastinya sudah tak ada lagi di sana. Tangan kekuasaan kemudian mengubah semuanya, mulai dari kebiasaan kerja, perombakan tim, hingga format siaran. Pemred kemudian dipegang langsung sang pemilik modal.

Bagi pemirsa, seperti yang saya rasakan, layar Liputan 6 kemudian tak lagi secantik dan sedinamis dulu. Tak ada gaya siaran Bayu Sutiono yang penuh greget, tak ada lagi gaya tegas Rosi saat talk show. Bahkan momen Pemilu dan Pilpres yang biasanya menjadi kekuatan SCTV, berlalu begitu saja, tanpa sesuatu yang spesial.

Bagi pemirsa dan dunia jurnalistik TV, ini kemunduran. Suka tak suka Liputan 6 SCTV adalah sebuah ikon berita TV di Indonesia. Saya tahu persis mereka membangun  kejayaan dari bawah, dari kondisi yang amat sangat pahit dengan sokongan dana yang minim di awal pendirian Liputan 6.

Perlahan dengan kerja kerasnya, Liputan 6 kemudian menancapkan tajinya. Bahkan menjadi acuan serta rujukan banyak kalangan, termasuk para pengambil keputusan di negeri ini.

Kebesaran Liputan 6 dibangun dengan mengedepankan kapabilitas dan kredibilitas, sesuai dengan motonya Aktual, Tajam, Terpercaya.

Saya sendiri tak tahu pasti ada apa di internal SCTV sehingga harus mem-phk karyawan sebanyak itu. Apakah ini karena imbas krisis keuangan Amerika? Saya kok tak terlalu percaya. Karena setahu saya, kondisi keuangan stasiun TV ini lumayan sehat dibandingkan beberapa stasiun TV yang lain. Ataukah ini cara perusahaan mengurangi SDM tetap dengan memperbanyak karyawan kontrak? Entahlah?

Situasi berbeda tampaknya juga dialami 2 stasiun TV lainnya. TPI sedang menunggu putusan kasasi kasus Pailit yang diajukan Crown Capital. Sementara kabar gonjang-ganjing lainnya datang dari stasiun tv milik Bakrie, Antv. Kabarnya mereka menghadapi situasi serupa dengan Sctv pasca hengkangnya raksasa media Rupert Murdoch selepas lebaran lalu.

Lomba-lomba yang Menarik

Guys, ada beberapa lomba yang mungkin bisa kamu ikuti.

1. Lomba Menulis Kisah Kasih Ibu.

Deadline 10 Desember 2009

2. Pertamina Blog Contest.

Deadline 5 Januari 2010

3. Lomba Resensi buku Mbah Surip

Deadline 14 November 2009

Yuk mari….