Gonjang-ganjing di TV Swasta Kita

Liputan6-logo-a

Liputan 6 SCTV

Dunia broadcasting kita akhir-akhir ini goyah. Kabar tak menyenangkan menyeruak begitu cepatnya. Akhir pekan lalu seorang kawan lama di Sctv menulis sebuah notes di Facebook yang mengabarkan perpisahannya dengan Redaksi Liputan 6. Setelah 13 tahun bersama kapal SCTV, ia ‘dipaksa’ untuk mengundurkan diri secara massal bersama 120-an karyawan.

Jumlah ini tak sebanyak kabar yang saya dengar sebelumnya, yang menyebut sekitar 500 karyawan SCTV di-phk. Tapi apapun itu, jumlah itu cukup membuat terhenyak. Pengunduran diri itu sendiri dibungkus dengan label yang cantik ‘pensiun dini’. Inikah jawaban dari rumor yang beredar beberapa bulan terakhir dari Senayan City markas Liputan 6?

Saya sudah mendengar kabar tak sedap macam ini sejak beberapa waktu. Tepatnya sejak gonjang-ganjing terjadi di Liputan 6 saat pencopotan Pemred Liputan 6 Rosiana Silalahi. Pencopotan Rosi kemudian diikuti dengan penggeseran besar-besaran awak redaksi. Ada yang tak boleh siaran lantaran memprotes pencopotan Rosi, dan ada pula yang dilempar ke bagian non news.

Sungguh situasi yang saya bayangkan tidak nyaman. Kebersamaan sebagai ciri khas kerja jurnalistik pastinya sudah tak ada lagi di sana. Tangan kekuasaan kemudian mengubah semuanya, mulai dari kebiasaan kerja, perombakan tim, hingga format siaran. Pemred kemudian dipegang langsung sang pemilik modal.

Bagi pemirsa, seperti yang saya rasakan, layar Liputan 6 kemudian tak lagi secantik dan sedinamis dulu. Tak ada gaya siaran Bayu Sutiono yang penuh greget, tak ada lagi gaya tegas Rosi saat talk show. Bahkan momen Pemilu dan Pilpres yang biasanya menjadi kekuatan SCTV, berlalu begitu saja, tanpa sesuatu yang spesial.

Bagi pemirsa dan dunia jurnalistik TV, ini kemunduran. Suka tak suka Liputan 6 SCTV adalah sebuah ikon berita TV di Indonesia. Saya tahu persis mereka membangun  kejayaan dari bawah, dari kondisi yang amat sangat pahit dengan sokongan dana yang minim di awal pendirian Liputan 6.

Perlahan dengan kerja kerasnya, Liputan 6 kemudian menancapkan tajinya. Bahkan menjadi acuan serta rujukan banyak kalangan, termasuk para pengambil keputusan di negeri ini.

Kebesaran Liputan 6 dibangun dengan mengedepankan kapabilitas dan kredibilitas, sesuai dengan motonya Aktual, Tajam, Terpercaya.

Saya sendiri tak tahu pasti ada apa di internal SCTV sehingga harus mem-phk karyawan sebanyak itu. Apakah ini karena imbas krisis keuangan Amerika? Saya kok tak terlalu percaya. Karena setahu saya, kondisi keuangan stasiun TV ini lumayan sehat dibandingkan beberapa stasiun TV yang lain. Ataukah ini cara perusahaan mengurangi SDM tetap dengan memperbanyak karyawan kontrak? Entahlah?

Situasi berbeda tampaknya juga dialami 2 stasiun TV lainnya. TPI sedang menunggu putusan kasasi kasus Pailit yang diajukan Crown Capital. Sementara kabar gonjang-ganjing lainnya datang dari stasiun tv milik Bakrie, Antv. Kabarnya mereka menghadapi situasi serupa dengan Sctv pasca hengkangnya raksasa media Rupert Murdoch selepas lebaran lalu.

Lomba-lomba yang Menarik

Guys, ada beberapa lomba yang mungkin bisa kamu ikuti.

1. Lomba Menulis Kisah Kasih Ibu.

Deadline 10 Desember 2009

2. Pertamina Blog Contest.

Deadline 5 Januari 2010

3. Lomba Resensi buku Mbah Surip

Deadline 14 November 2009

Yuk mari….

Ketika Faisal Basri Geram!

Ada yang menarik dari postingan kompasianer yang juga pengamat ekonomi, Faisal Basri. Postingan itu tak berbau ekonomi sama sekali. Tapi justru disitu menariknya. FB memposting sebuah puisi sederhana yang sangat dalam maknanya. Puisi ini mewakili kegundahan hatinya melihat nasib negeri ini. Ia ungkapkan kekesalannya melihat kasus penahanan komisioner (beda-beda tipis dengan Kompasianer) KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah oleh polisi.

Simak puisinya yang diberi judul “Geram …..untuk Pak Bibit dan Bung Chandra”.

Kini, aku geram!!!

Menatap mata-mata nanar mereka,

yang seolah siap menerkam apa saja.

Haruskah kita menyerah

kepada para durjana itu.

Dengan keheningan kalbu

Dengan kejernihan rongga-rongga alam pikiran

Sekali-kali jangan hentikan pekik kebenaran

Walau selaput suara hanya mengalirkan

desah-desah yang kian parau.

Menurut saya apa yang diutarakan FB kali ini bukan hanya semata kegundahan seorang yang dekat dengan pusat kekuasaan. Karena selama ini publik kadung tahu FB dekat dengan wapres Boediono. Tapi jauh dari itu, inilah bentuk kegelisahan anak negeri ini, yang bisa mewakili kegelisahan saya, anda dan juga mungkin sebagian dari kita, mengenai ketidak jelasan hukum yang dipertontonkan para penegak hukum yang terhormat.

Puisi ini mengingatkan saya pada sikap Faisal Basri beberapa bulan yang lewat. Saat itu  negeri ini tengah dilanda eforia dukung-mendukung pada calon presiden dan wakil presiden. Dan Faisal Basri yang selama ini termasuk pelit memuji seseorang, berada di garda depan pendukung Boediono. Bahkan postingannya berjudul Sisi Lain Pak Boed yang Saya Kenal menjadi masterpiece postingan. Tulisan ini sudah dikunjungi lebih dari 38 ribu kompasianer, dan berhasil menggiring lebih dari 400 komentar. Sebuah pencapaian yang tak main-main.

Di postingan itu Faisal memang seolah melawan arus yang saat itu banyak menghujat pak Boed dengan isu Neolib-nya. Faisal memang tak serta merta mempersalahkan para penghujat, tapi Faisal bercerita sebagai orang yang sangat dekat, seorang murid yang kagum pada dosennya, seorang junior yang kagum dengan kawannya yang senior.

Dan ternyata angin pun berubah. Belum lagi genap sebulan sejak dilantik, hati Faisal Basri tampaknya terluka pada pemerintahan baru. Di satu sisi mungkin ia maklum kawannya yang didukung ternyata tak segalak JK, sehingga tak menunjukkan tajinya saat kasus Bibit-Chandra merebak. Tapi memaklumi saja tak cukup, karena negeri ini sudah kerap berjalan dengan pemakluman. Faisal pun gerah sehingga terciptalah puisi Geram tadi.

Perubahan ’sikap’ Faisal juga terlihat dari sejumlah komentarnya di beberapa postingan. Misal di postingan berjudul Berlin. Disitu faisal sempat menanggapi Rizky, seorang Kompasianer yang menanyakan mengapa Faisal tak memposting soal skandal Century. Apa karena rekannyta, Boediono terlibat?

Begini kutipan jawaban faisal yang diposting 7 Oktober jauh sebelum pemerintahan baru dilantik,

Bung Rizky yang budiman,
mohon maaf, saya tak pernah brani/mau menulis yang saya tidak tahu persis duduk masalah dan datanya. Perhatikan saya silang pendapat yang beredar dewasa ini, hampir semua punya versi sendiri-sendiri. Saya sudah dapat briefing dari yang paling tahu kasus ini, tapi tak bisa menceritakannya kembali, apalagi sumber saya itu meminta dirahasiakan.

Saya pun dapat konfirmasi langsung dari petinggi BI yg sangat saya hormati. Ternyata yg beredar di masyarakat itu tak benar, misalnya tentang Sri Hartati Murdaya dan Arifin Panigoro yang ditengarai memiliki dana di century.

Tengok pula perilaku tak terpuji dari ketua BPK yg mengumbar isi hasil audit sementara sehingga diinterpretasikan secara “liar” oleh beberapa anggota DPR.

Bukan soal Boediono sama sekali. Justru yg saya dengar menyangkut yang di atasnya. Tapi itu kan gossip. Kalau memang kenyataannya demikian, ayo kita buka lebar.

Saya tak kuasa menyampaikan sesuatu yang menambah keruh.

Tabik,
faisalbasri

Itu dia tulis bulan lalu. Dan yang terkini saat mengomentari kompasianer Linda Djalil, dia berujar begini “Ya, Kak Linda, saya sekarang semakin yakin. Ada keterkaitan satu sama lain. Ketakutan bahwa kekuasaan yang tergengam mulilai terancam. Insya Allah kebenaran tak bisa ditutup-tutupi.. Tinggal data dan kesaksian yang harus dihimpun.”

Berubahnya sikap Faisal Basri saya kira manusiawi. Toh ia berubah untuk kembali ke sikap asalnya, tetap kritis. Mungkin saja ia bakal menjadi orang asing diantara kawan-kawan pendukung pemerintahan. Tapi tenang aja bang Faisal, jika pemerintah tak juga berubah, berarti anda tidak sendirian!!

*dimjuat di kompasiana.

tes-tes ping……

Sebuah Semangat Bernama Puri

ceritapuri

Ceritapuri

Seharian tak menyentuh komputer ternyata membuat saya ketinggalan kereta. Sebuah kabar menyedihkan malam ini saya terima. Seorang Kompasianer, Puriwati Purasari Andono, mahasiswi Komunikasi UGM telah pergi menghadap sang Khalik kamis lalu. Ia pergi seusai operasi kanker payudara.

Saya dan juga kompasianer lainnya memang terlambat mendengar kabar kematiannya. Tiga hari setelah Puri pergi baru kami semua mendengar kabarnya. Tak ada kata terlambat untuk sebuah do’a. Sebuah do’a paling tulus bagi perempuan pemberani, yang tak memiliki kata ‘kalah’ dalam hidupnya. Saya yakin Allah pasti memberinya tempat terbaik di sisi-Nya.

Puri memang tergolong baru menjumpai kawan-kawan Kompasiana. Dari halaman blognya terlihat ia baru bergabung sebagai Kompasianer sejak 16 Oktober 2009. Meski baru, bisa saja sebelumnya Ia sudah lebih lama membaca banyak tulisan di sini. Puri baru memposting tulisan 25 Oktober 2009. Tolong dicatat, tanggal itu adalah sekian hari sebelum ajal menjemputnya. Karena ia adalah manusia yang sama dengan kita, sedikitpun ia tak mengetahui rahasia Illahi kepulangannya ke sisi Allah.

Tulisan pertama Puri judulnya Upss… Salah Sangka!! Postingan Puri ini lebih sebagai perkenalannya pada Kompasianer. Dengan gaya cerianya khas remaja, ia menceritakan bagaimana ia divonis menderita kanker payudara. Padahal semula ia mengira hanya terkena Fibroadenomas, semacam benjolan di payudara saja.

Tak ada nada mengeluh atau minta dikasihani dengan postingannya itu. Lihat saja jawabannya saat ditanya kompasianer Rosiy tentang sakitnya.

Ia menjawab begini, “Makacih yah..kena Kanker Payudara  salam smuana!”

Atau baca juga saat disemangati Rosiy untuk terus menulis.

Puri menjawab dengan cerianya, “Sippp ) Chayooooo…..Puri selalu semangat!! Iyah ni Kak’ Puri suka bgt nulis kLo lgi istirahat gt, tapi masih jelek bgt tulisanna…Huhuhu… ) Semangat”

Puri…Puri… hidupmu yang singkat ternyata tak sesingkat semangatmu. Lihat saja komentarnya atas tanggapan dan semangat dari kompasianer.

“selamat pagiiii….. Hmmmm….sambil minum susu nih, ^_~

makacih ya bt smuana, Puri senneg kalo smuana jd ikut2an smangat… D Puri yakin banget kuk, kanker bkn penyakit yg menakutkan dan uda byk yg sembuh…makana, semangat yah!!”

Lagi-lagi saya kagum dengan keyakinannya itu.

Semasa hidup dengan kanker payudara yang dideritanya, saya yakin hari-hari Puri pasti tak senyaman mahasiswi atau remaja lain seusianya. Sakitnya yang hingga kini belum ada obatnya itu, tentunya mengurangi keceriaan, menghambat aktivitas bahkan upayanya meraih mimpi sebagai sarjana komunikasi.

Tapi ternyata saya salah. Sepenggal Ceritapuri di Kompasiana ternyata menyingkirkan kesan itu. Ia begitu tabah, jauh melebihi saya yang kerap mengeluh hanya karena kelelahan beraktivitas. Ia jauh lebih kuat dari saya yang kadang maju mundur menghadapi banyak problema hidup.

Ah Puri, saya kok jadi malu dengan apa yang saya miliki. Sungguh, 5 postinganmu dalam 4 hari telah menularkan semangat luar biasa bagi siapapun mengenai arti berjuang, mengenai semangat pantang menyerah. Hidup harus dihadapi dengan ikhlas, dengan perjuangan tak kenal lelah.

Dalam 4 hari sebelum dipanggil Tuhan, Puri telah menghasilkan 5 postingan di Kompasiana. Tulisan yang akan sangat berarti karena berisi sebuah semangat bernama Puri.

Semoga 5 postingan ini menjadi api penyemangat bagi siapapun yang mungkin kini sedang menderita penyakit apapun. Semoga keikhlasan, semangat dan keceriaan Puri menular pada kawan-kawan semua.  Puri pasti senang jika kita bisa berbagi semangat. Selamat jalan Puri ….